Galaxy Digital Sebut Pasar Bear Bitcoin Berakhir, Sinyal Akumulasi Menguat
Baca dalam 60 detik
- Galaxy Digital menilai fase penurunan panjang bitcoin telah usai sejak Juni dan harga kini memasuki zona akumulasi.
- Pemulihan teknikal di atas rata-rata 50 minggu serta menyusutnya posisi spekulatif menjadi dasar keyakinan bahwa tekanan jual mereda.
- Risiko tetap ada, terutama bila harga mingguan jatuh di bawah US$76.540 tanpa pemulihan dalam sebulan.

Bitcoin kembali diperdagangkan di kisaran US$80.000 setelah reli yang tertahan beberapa pekan terakhir. Di tengah keraguan pasar, Galaxy Digital justru mengeluarkan seruan akumulasi, menilai bahwa fase pasar bear telah berakhir dan harga sedang berada di titik awal siklus kenaikan berikutnya.
Dalam catatan riset berjudul โWhy now is the time to add and hold BTCโ, kepala riset Galaxy, Alex Thorn, menyatakan bahwa penurunan panjang bitcoin kemungkinan besar berakhir pada Juni lalu, ketika harga menyentuh level di bawah US$58.000. Sejak saat itu, bitcoin telah menguat sekitar 38%, meski masih tertinggal sekitar 35% dari rekor tertinggi di atas US$126.000. Untuk kembali ke puncak tersebut, diperlukan lonjakan sekitar 53% dari posisi sekarang.
Argumen Galaxy tidak bertumpu pada optimisme kosong. Thorn menyoroti pemulihan teknikal bitcoin yang berhasil menembus rata-rata pergerakan 50 minggu setelah 44 pekan terbenam di bawahnya. Lima penutupan mingguan berturut-turut di atas level tersebut memperkuat keyakinan bahwa dasar pasar telah terbentuk. Sinyal ini, menurut Galaxy, sering mendahului fase akumulasi yang menjadi pijakan reli-reli sebelumnya.
Dari sisi posisi pasar, Thorn menilai tekanan jual telah jauh berkurang. Eksposur long bersih manajer aset melalui futures bitcoin di CME merosot 57% dari pekan pencapaian rekor tertinggi, sementara sejumlah firma perdagangan besar memangkas kepemilikan ETF secara signifikan. โUang panas sudah pergi, basisnya tetap bertahan, dan segala hal lain sudah dihargai terlalu sempurna,โ ujarnya, menggambarkan pasar yang kini lebih sehat karena spekulan jangka pendek telah tersisih.
Meski begitu, Galaxy tidak menutup mata terhadap risiko. Perusahaan mengakui potensi tekanan dari penurunan pasar secara luas, disrupsi teknologi kecerdasan buatan, hingga ancaman komputasi kuantum. Namun, mereka menilai kondisi makro justru memperkuat daya tarik bitcoin sebagai aset dengan pasokan tetap. Utang pemerintah Amerika Serikat yang terus membengkak, defisit fiskal yang persisten, dan biaya bunga yang meningkat disebut semakin mendorong investor mencari alternatif lindung nilai.
โKami menilai pasar bear berakhir pada Juni dan bitcoin sedang berada dalam fase akumulasi yang mendahului setiap kenaikan sebelumnya,โ kata Alex Thorn, kepala riset Galaxy Digital.
Menariknya, antusiasme institusi terhadap stablecoin dan tokenisasi aset dunia nyata (RWA) justru meningkat, sementara minat terhadap bitcoin meredup. Thorn melihat pola ini mirip dengan sentimen yang muncul di sekitar titik terendah pasar sebelumnya. Galaxy juga mencatat bahwa produk stablecoin berbasis RWA terdiversifikasi kini menawarkan imbal hasil 5โ7% dari kredit riil, seiring kompresi pendanaan kripto ke sekitar 4%, dengan potensi pasar US$4 miliar dalam tiga tahun.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini relevan mengingat increasingnya eksposur terhadap aset kripto, termasuk bitcoin, di tengah kebijakan moneter global yang ketat. Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti terus mengingatkan pentingnya pemahaman risiko, likuiditas, dan volatilitas sebelum masuk ke pasar aset digital. Sinyal akumulasi dari Galaxy sebaiknya tidak dibaca sebagai jaminan keuntungan, melainkan sebagai salah satu perspektif dalam menyusun strategi portofolio yang terukur.
Ke depan, pasar akan menguji apakah tesis Galaxy bertahan. Jika bitcoin mampu mempertahankan posisi di atas rata-rata 50 minggu dan menyerap aliran masuk ETF secara berkelanjutan, fase akumulasi bisa berlanjut menjadi reli. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level US$76.540 akan menjadi peringatan dini bahwa dasar pasar belum kokoh. Pertanyaannya kini: apakah investor institusi akan kembali agresif sebelum sinyal pemulihan benar-benar terkonfirmasi, ataukah mereka menunggu bukti yang lebih kuat?



