Jennie BLACKPINK Bicara Proses Kreatif dan Harga Kesehatan Mental di Balik Panggung
Baca dalam 60 detik
- Jennie mengungkap pendekatan uniknya dalam menciptakan musik, di mana elemen visual muncul lebih dulu sebelum lagu selesai.
- Di balik kesuksesan BLACKPINK, ia pernah mengalami kelelahan ekstrem dan masalah kesehatan akibat jadwal tanpa henti.
- Kisah ini menyoroti pentingnya keseimbangan karier dan kesehatan mental di industri hiburan yang menuntut perfeksionisme.

Jennie, personel BLACKPINK, memberikan wawasan langka tentang cara ia meracik karya musik. Dalam wawancara dengan Interview Magazine, ia mengaku kerap membayangkan sebuah lagu secara visual bahkan sebelum proses produksi tuntas. Kemampuan ini, menurutnya, menjadi fondasi penting dalam setiap proyek solonya, termasuk album debut Ruby yang dirilis 2025.
“Dunia visual sangat penting bagi saya karena terkadang saya bisa melihat sebuah lagu sebelum benar-benar selesai. Saya mendengar suara atau lirik dan langsung muncul gambar-gambar kecil di kepala, mungkin warna, tempat, atau bahkan pakaian yang saya kenakan,” ujar Jennie seperti dikutip dari wawancara tersebut. Ia menambahkan bahwa tidak semua lagu mengalami proses yang sama, tetapi ketika momen itu datang, ia berusaha keras menangkap “potret-potret kecil” tersebut sebagai bagian dari proses kreatifnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Jennie tidak sekadar mengandalkan kemampuan vokal atau musik, tetapi juga membangun narasi visual yang kuat. Hal ini sejalan dengan tren industri musik global yang semakin menempatkan estetika visual sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas seorang artis. Bagi Jennie, visual bukan pelengkap, melainkan pemicu ide yang mampu mempercepat proses penciptaan lagu.
Di sisi lain, kisah sukses Jennie dan BLACKPINK menyimpan sisi gelap yang jarang terungkap. Dalam wawancara dengan Rolling Stone, ia mengungkapkan bahwa selama tiga tahun pertama setelah debut, grupnya bekerja tanpa henti. “Sistem tidur kami rusak; kami tidak makan dengan benar; saya tidak minum cukup air. Kami menjalani itu selama tiga sampai empat tahun, lalu memulai tur. Kami tur selama satu setengah tahun. Selama itu pula saya tidak punya rumah,” tuturnya.
Tekanan tersebut berdampak serius pada kesehatan fisik dan mentalnya. Jennie mengaku sebagai pribadi yang “sangat rapuh”. “Jika saya menyentuh sesuatu, saya bisa alergi. Sistem imun saya benar-benar lemah, tetapi kami harus terus tur,” ujarnya. Ia baru menyadari pentingnya merawat diri setelah tur berakhir dan mendapat waktu istirahat di rumah. “Saat itu, saya tidak punya waktu untuk belajar bagaimana merawat diri sendiri,” tambahnya.
Pengakuan Jennie ini menjadi cermin bagi industri hiburan Korea Selatan yang dikenal kompetitif. Banyak idola K-pop debut di usia muda dan langsung dihadapkan pada jadwal latihan, promosi, dan tur yang padat. Fenomena ini memicu diskusi tentang perlunya regulasi yang lebih melindungi kesehatan mental para artis. Di Indonesia, industri musik juga mulai menyoroti isu serupa, meski kesadaran akan pentingnya jeda dan dukungan psikologis masih belum merata.
Kisah Jennie menunjukkan bahwa di balik gemerlap panggung, ada harga yang harus dibayar. Kesuksesan BLACKPINK sebagai salah satu girl group paling berpengaruh di dunia tidak lepas dari kerja keras yang ekstrem. Namun, pengalaman pribadinya menjadi pengingat bahwa kesehatan fisik dan mental tidak boleh diabaikan. Ke depan, akankah industri hiburan global, termasuk di Indonesia, lebih serius menempatkan kesejahteraan artis sebagai prioritas? Jawabannya akan menentukan keberlanjutan karier para bintang musik di masa depan.



