Game of Thrones: The Mad King Akan Kembali ke Panggung London pada 2027
Baca dalam 60 detik
- Produksi panggung Royal Shakespeare Company, Game of Thrones: The Mad King, akan dipentaskan di London pada 2027 setelah sukses di Stratford-upon-Avon.
- George R.R. Martin mengumumkan langsung melalui blognya, menyusul penjualan tiket yang ludes di Inggris.
- Lokasi dan tanggal pasti belum diungkap, tetapi antusiasme penggemar dan kritikus teater menjadi sinyal kuat bagi masa depan adaptasi panggung waralaba ini.

Panggung teater London akan menjadi saksi kelanjutan kisah Game of Thrones dalam format yang berbeda. Royal Shakespeare Company (RSC) memastikan bahwa Game of Thrones: The Mad King—drama panggung yang sukses besar di Stratford-upon-Avon—akan dipentaskan kembali di London pada 2027. Kepastian ini disampaikan langsung oleh pencipta Game of Thrones, George R.R. Martin, melalui blog pribadinya pada September lalu.
Keputusan untuk menghadirkan kembali lakon ini bukan tanpa alasan. Sepanjang masa pentasnya di Stratford-upon-Avon, tiket The Mad King terjual habis, menandakan tingginya minat publik terhadap dunia Westeros dalam medium teater. Martin sendiri mengaku senang dengan sambutan tersebut dan menyebut pemindahan produksi ke London sebagai upaya menjangkau audiens yang lebih luas. "Saya menghabiskan waktu menyenangkan di Stratford-upon-Avon untuk premiere produksi panggung epik karya Duncan Macmillan dan Dominic Cooke ini," tulis Martin, seraya menambahkan bahwa ia antusias mengumumkan langkah produksi ke London.
Meski demikian, detail penting seperti lokasi teater, tanggal pasti, dan susunan pemain belum diumumkan. Tim produksi belum mengonfirmasi apakah para aktor dari pementasan perdana akan kembali memerankan tokoh-tokoh ikonik seperti Ned Stark, Robert Baratheon, Lyanna Stark, Rhaegar Targaryen, dan Mad King Aerys II. Namun, harapan agar sebagian besar pemeran asli kembali tentu menjadi dambaan para penggemar setia.
Bagi penggemar berat novel A Song of Ice and Fire, The Mad King menawarkan sudut pandang yang jarang tersaji dalam serial HBO. Latar cerita berpusat pada turnamen di Harrenhal, momen krusial yang memicu rangkaian peristiwa menuju pemberontakan Robert. Di atas panggung, kisah cinta terlarang antara Rhaegar Targaryen dan Lyanna Stark—yang kelak melahirkan Jon Snow—menjadi jantung drama. Adaptasi ini pun mendapat sentuhan khas RSC, termasuk penggunaan boneka dalam adegan jousting yang disebut memukau.
"Sulit menemukan kelemahan yang benar-benar berasal dari The Mad King itu sendiri. Akan tetapi, akan jauh lebih nikmat jika kita melepaskan diri dari bayang-bayang serial HBO dan menilainya sebagai karya teater murni—sebuah mahakarya seni Shakespearean," demikian petikan ulasan kami.
Bagi Indonesia, gaung The Mad King mungkin tidak sebesar di Inggris atau Amerika Serikat. Namun, fenomena ini menunjukkan bahwa waralaba Game of Thrones masih memiliki daya tarik global yang kuat, bahkan ketika cerita utamanya telah usai. Adaptasi panggung menjadi salah satu cara memperluas semesta Westeros tanpa harus bergantung pada produksi televisi atau film. Ke depannya, bukan tidak mungkin format serupa—atau bahkan tur dunia—akan dipertimbangkan bila sambutan di London kembali positif.
Hingga kini, penggemar di seluruh dunia hanya bisa menantikan pengumuman resmi mengenai jadwal dan lokasi The Mad King di London. Jika antusiasme di Stratford-upon-Avon menjadi tolok ukur, tiket pementasan di London berpotensi kembali diserbu. Pertanyaannya, akankah produksi ini menjadi langkah awal bagi ekspansi panggung waralaba Game of Thrones ke kota-kota lain di dunia, termasuk di Asia? Waktu yang akan menjawab, tetapi magnetnya jelas: takhta masih menyala di atas panggung.



