Celestia Melonjak 16%, Altcoin Ungguli Bitcoin di Tengah Sinyal Fed yang Ambigu
Baca dalam 60 detik
- Celestia (TIA) memimpin penguatan altcoin dengan kenaikan 16%, disusul Injective dan LayerZero, sementara Bitcoin hanya bergerak tipis di sekitar $82.100.
- Ketua Fed Kevin Warsh tidak memberi petunjuk arah suku bunga, menurunkan peluang kenaikan Oktober menjadi 15% dan memicu rotasi dana ke aset berisiko.
- Indeks Altcoin Season naik ke 60, menandakan pasar mulai meninggalkan dominasi Bitcoin dan beralih ke altcoin.

Pasar kripto mencatat rotasi signifikan pada Jumat (16/10/2026) ketika sejumlah altcoin berhasil melampaui kinerja Bitcoin. Celestia (TIA) menjadi bintang dengan lonjakan 16%, sementara Injective (INJ) dan LayerZero (ZRO) masing-masing menguat 7,7% dan 7,3%. Bitcoin sendiri hanya bergerak tipis di kisaran $82.100 setelah sempat menyentuh level terendah $81.600 pada dini hari, namun tetap bertahan di atas ambang $80.000 yang sempat jebol sehari sebelumnya.
Penguatan altcoin ini tercermin dari CoinDesk 100 Index (CD100) yang mencatat empat dari lima anggotanya menguat, serta Indeks Altcoin Season dari CoinMarketCap yang melesat ke 60 dari sebelumnya 50. Sementara itu, ether (ETH) hanya naik 0,5% ke sekitar $2.450, dan indeks CD80 yang lebih luas mencatat kenaikan 0,46%. Fenomena ini menandakan bahwa likuiditas mulai menyebar ke aset-aset dengan kapitalisasi lebih kecil, meninggalkan posisi dominan Bitcoin yang cenderung stagnan.
Pendorong utama rotasi ini adalah pernyataan Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam pidatonya di pertemuan IMF dan Bank Dunia di Bangkok. Warsh menolak memberi sinyal mengenai arah kebijakan suku bunga untuk rapat bulan ini, membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi hanya 15% berdasarkan data CME Fedwatch. Ketidakpastian ini justru mendorong investor mencari imbal hasil lebih tinggi di aset kripto, terutama altcoin yang memiliki volatilitas lebih besar.
"Pasar menafsirkan keheningan Warsh sebagai sinyal dovish, sehingga dana mengalir ke aset berisiko," ujar seorang analis pasar kripto yang enggan disebutkan namanya.
Sentimen positif juga datang dari pasar saham Asia yang berhasil bangkit setelah aksi jual tajam pada Kamis. Indeks Kospi Korea Selatan ditutup menguat 2,05%, diikuti Nikkei Jepang yang naik 1,39%. Sementara itu, futures S&P 500 bergerak datar setelah indeks tersebut mengakhiri tiga hari berturut-turut penurunan. Stabilitas di pasar tradisional ini memberikan ruang bagi aset kripto untuk melanjutkan momentum bullish-nya.
Di sisi lain, imbal hasil (yield) stablecoin yang berbasis aset dunia nyata (RWA) tetap bertahan di level 5-7% dari kredit riil, sementara pendanaan kripto terkompresi ke sekitar 4%. Inisiatif GENIUS yang mendorong yield ke luar rantai (off-chain) diproyeksikan meningkatkan total pasar yang dapat dialamatkan (TAM) menjadi $4 miliar dalam tiga tahun ke depan. Hal ini menunjukkan bahwa inovasi di sektor keuangan terdesentralisasi terus berjalan, meskipun pasar sedang dalam fase konsolidasi.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai negara dengan adopsi kripto yang terus tumbuh, pergeseran dari Bitcoin ke altcoin dapat memengaruhi portofolio ritel domestik. Banyak exchange lokal mencatat peningkatan volume perdagangan altcoin dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan pencarian yield yang lebih tinggi di tengah suku bunga global yang tidak menentu. Regulasi yang jelas dari Bappebti dan OJK menjadi kunci untuk menjaga stabilitas pasar kripto dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah rotasi ke altcoin ini berkelanjutan atau hanya sementara. Jika Fed benar-benar menahan suku bunga, altcoin berpotensi terus menguat. Namun, jika Warsh memberikan sinyal hawkish pada rapat mendatang, koreksi bisa cepat terjadi. Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas dan mengelola risiko dengan bijak.



