Sharon Osbourne Ungkap Efek Permanen Face Lift Gagal: 'Ada Cekungan di Wajah Saya'
Baca dalam 60 detik
- Sharon Osbourne mengungkap masih memiliki cekungan permanen di sisi kanan wajahnya akibat operasi face lift yang gagal.
- Ia menyebut prosedur perbaikan yang dilakukan dokter justru memperburuk kondisi dan menolak menyebut nama ahli bedah yang bertanggung jawab.
- Pengalaman ini membuatnya kapok dan bersumpah tidak akan menjalani operasi plastik lagi di masa depan.

Sharon Osbourne, 74 tahun, mengungkap bahwa dirinya masih menyimpan bekas operasi face lift yang gagal berupa cekungan permanen di sisi kanan wajahnya. Dalam podcast The Osbournes bersama putranya, Jack, ia mengaku bahwa efek samping tersebut tidak pernah hilang meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. “Ada cekungan yang tersisa di sini, dari atas sampai bawah,” ujarnya menggambarkan kondisi wajahnya.
Ia menduga ahli bedah yang menanganinya saat itu sempat menyerahkan sebagian prosedur kepada orang lain. “Saya pikir dia menerima telepon, lalu temannya masuk dan ikut mengerjakan,” kelakarnya. Ketika ia kembali untuk mengeluh, dokter tersebut mencoba memperbaiki dengan menyuntikkan zat yang disebutnya sebagai “ramuan khusus”. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil. “Ternyata tidak berhasil. Cekungannya tetap ada,” tambahnya.
Dalam wawancara dengan majalah Best pada 2023, ia mengaku takut dengan apa yang terjadi. “Saya tidak akan melakukan operasi lagi—tidak ada yang tersisa untuk ditarik, dipotong, atau diangkat. Sudah bertahun-tahun saya baru bisa mengatakan ini: inilah saya. Sudah waktunya berhenti,” tegasnya. Sebelumnya, ia juga pernah menggambarkan dirinya tampak seperti “Quasimodo” dan “cyclops” akibat operasi tersebut. “Satu mata berbeda dengan yang lain. Saya seperti cyclops. Rasanya sakit sekali,” kenangnya kepada The Sunday Times.
Kasus Sharon Osbourne bukanlah yang pertama mencuat di dunia hiburan. Industri kecantikan global memang kerap menyoroti risiko operasi plastik, terutama ketika dilakukan oleh ahli bedah yang tidak kompeten atau ketika pasien mengejar standar estetika tertentu. Di Indonesia, fenomena serupa juga mendapat perhatian. Meski tidak ada data resmi tentang jumlah kasus face lift gagal, sejumlah klinik kecantikan di Jakarta dan Surabaya melaporkan peningkatan permintaan perbaikan (revisi) operasi plastik dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pasien datang dengan keluhan hasil yang tidak simetris atau infeksi pascaoperasi.
Praktisi bedah plastik di Indonesia menekankan pentingnya memilih dokter bersertifikat dan fasilitas kesehatan yang terakreditasi. “Pasien harus memastikan dokter spesialis bedah plastik memiliki izin praktik dan pengalaman yang cukup. Jangan tergiur harga murah atau janji hasil instan,” ujar seorang dokter bedah plastik di Jakarta, seperti dikutip dari sumber terpercaya. Ia juga mengingatkan bahwa setiap prosedur memiliki risiko, termasuk reaksi terhadap bahan suntikan yang tidak diketahui komposisinya.
Pengalaman Sharon Osbourne menjadi cerminan bahwa operasi plastik tidak selalu memberikan hasil yang diinginkan. Bahkan, upaya perbaikan bisa memperburuk keadaan. Ke depannya, kesadaran akan risiko dan pentingnya due diligence dalam memilih penyedia layanan estetika menjadi semakin krusial. Apakah industri kecantikan Indonesia siap memperketat pengawasan untuk mencegah kasus serupa?



