Australia Rancang Strategi 30 Tahun untuk Selamatkan Satwa Asli dari Rubah Invasif
Baca dalam 60 detik
- Departemen Lingkungan Australia mengajukan draf strategi nasional untuk menekan dampak rubah merah Eropa terhadap satwa asli, dengan target 30 tahun dan anggaran awal sekitar US$175 juta.
- Populasi rubah diperkirakan 1,7 juta ekor dan membunuh lebih dari 560 juta hewan asli setiap tahun, menjadikannya penyebab utama kepunahan mamalia di Australia.
- Keberhasilan rencana ini bergantung pada pendanaan khusus dan harmonisasi regulasi antarnegara bagian, sementara para ahli menekankan perlunya dukungan jangka panjang.

Australia tengah menyiapkan langkah besar untuk menyelamatkan satwa aslinya dari ancaman rubah merah Eropa. Draf strategi nasional yang baru saja dirilis mengakui bahwa spesies invasif ini tidak mungkin dimusnahkan sepenuhnya, tetapi menawarkan peta jalan 30 tahun untuk melindungi hewan-hewan paling rentan. Jika disetujui, ini akan menjadi upaya nasional pertama dalam hampir dua dekade yang secara khusus menargetkan dampak rubah terhadap satwa liar.
Rubah merah Eropa (Vulpes vulpes) telah lama menjadi momok bagi ekosistem Australia. Diperkirakan populasi mereka mencapai 1,7 juta ekor, tersebar dari Queensland tengah hingga New South Wales, Victoria, Australia Selatan, dan Australia Barat. Setiap tahun, rubah-rubah ini memangsa lebih dari 367 juta mamalia asli, 111 juta burung, 88 juta reptil, serta amfibi dan invertebrata dalam jumlah tak terhitung. Angka ini menjadikan predasi rubah dan kucing sebagai penyebab utama kepunahan sekitar 40 spesies mamalia Australia—rekor terburuk di dunia.
Draf yang disusun oleh Profesor Sarah Legge dari Charles Darwin University ini mengusulkan peningkatan pendanaan untuk kawasan aman seperti pulau bebas rubah dan zona berpagar anti-predator. Selain itu, diperlukan kolaborasi dan "harmoni legislatif" antara pemerintah negara bagian dan federal. Legge menegaskan bahwa meskipun mustahil membersihkan seluruh benua dari rubah dalam waktu dekat, penurunan populasi dan pencegahan kepunahan satwa asli masih sangat mungkin dilakukan.
Sejumlah spesies telah diidentifikasi sangat rentan terhadap predasi rubah, termasuk potoroo Gilbert yang terancam kritis, quoll timur, bandicoot bergaris timur dan barat, serta berbagai jenis bettong, hare-wallaby, dan pademelon Tasmania. Tujuh spesies kura-kura air tawar juga masuk daftar. Para peneliti telah memperingatkan selama hampir satu dekade bahwa tanpa tindakan mendesak, spesies-spesies ini menghadapi ancaman kepunahan.
"Ini bukan perubahan iklim, bukan kehilangan habitat—itu semua buruk—tetapi pendorong utama kepunahan ini adalah rubah dan kucing," ujar Rob Brewster, manajer rewilding di Invasive Species Council. "Sayangnya, lintasan populasi mamalia asli kita masih menurun."
Brewster menyambut baik tujuan jangka panjang rencana ini, tetapi ia mengingatkan bahwa tanpa aliran dana khusus, strategi tersebut tidak akan berjalan. Saat ini, belanja untuk pengendalian rubah hanya sekitar US$5–7 juta per tahun, jauh dari kebutuhan US$35 juta per tahun. Meski demikian, rencana tersebut mencatat bahwa kerugian akibat rubah mencapai US$190 juta per tahun, sehingga investasi ini akan lebih dari sepadan.
Pendekatan yang ditawarkan tidak hanya mengandalkan metode letal seperti umpan beracun, tetapi juga mempertimbangkan metode pengendalian tidak langsung yang lebih hemat biaya. Matthew Rees, peneliti dari CSIRO, menilai bahwa eradikasi total di daratan utama tidak mungkin, namun pengurangan dampak negatif terhadap ekosistem bisa dicapai. "Spesies terancam dapat bertahan di bawah predasi rubah, dan penelitian terbaru telah membuat kemajuan besar dalam mengungkap faktor-faktor yang mendukung hal itu," ujarnya.
Bronwyn Hradsky, ekolog dari University of Melbourne, menekankan bahwa pengendalian rubah membutuhkan komitmen jangka panjang dan pendanaan besar. "Jika Anda memulai pengendalian rubah, Anda pada dasarnya berkomitmen untuk melanjutkannya," katanya. "Rencana seperti ini yang menyatukan semuanya dan memiliki tujuan lebih tinggi sangat berharga."
Bagi Indonesia, kisah rubah Australia ini menjadi cermin penting. Indonesia juga menghadapi masalah spesies invasif seperti ikan sapu-sapu, ular piton, dan tikus yang mengancam satwa endemik. Pelajaran dari Australia menunjukkan bahwa strategi nasional yang terkoordinasi, pendanaan memadai, dan dukungan lintas sektor adalah kunci. Tanpa itu, upaya konservasi akan tetap bersifat tambal sulam dan tidak efektif.
Ke depan, apakah pemerintah Australia akan mengalokasikan dana yang dibutuhkan dan menyatukan regulasi antarnegara bagian? Jika tidak, rencana ambisius ini hanya akan menjadi dokumen tanpa gigi. Sementara itu, rubah terus berkeliaran, dan satwa asli Australia terus kehilangan nyawa setiap hari.



