Harga Ponsel Melambung, Galaxy A37 5G Jadi Opsi Terkuat Samsung di Bawah Rp8 Juta
Baca dalam 60 detik
- Galaxy A37 5G hadir sebagai jawaban Samsung di segmen menengah dengan banderol resmi 490 dolar AS, tetapi sering dijual jauh lebih murah oleh ritel daring.
- Lonjakan harga RAM dan SSD akibat permintaan AI membuat ponsel baru semakin mahal, sehingga pasar refurbished dan bekas menjadi alternatif rasional.
- Konsumen di Indonesia perlu mencermati masa dukungan perangkat lunak, karena model lama seperti S23 Ultra hanya mendapat pembaruan OS hingga 2027.

Di tengah kenaikan harga komponen elektronik global, Samsung meluncurkan Galaxy A37 5G sebagai penantang utama di kelas ponsel terjangkau. Perangkat ini menyasar konsumen dengan anggaran sekitar 450 hingga 500 dolar AS, atau setara Rp7,3 juta sampai Rp8,1 juta, dan menjadi salah satu rekomendasi teratas untuk ponsel Android hemat di pasar Amerika Serikat.
Kenaikan harga RAM dan SSD yang dipicu lonjakan permintaan pusat data AI membuat biaya produksi ponsel ikut tererekasi. Kondisi ini memperlebar jurang antara spesifikasi dan harga, sehingga kehadiran A37 5G dinilai sebagai penyeimbang di pasar yang semakin menekan daya beli. Samsung menawarkan perangkat ini dengan harga resmi 490 dolar AS sebelum pajak, namun sejumlah pengecer seperti Amazon sempat membanderolnya mulai 350 dolar AS saat periode diskon. Operator telekomunikasi di AS umumnya memasang harga sekitar 450 dolar AS, dengan insentif khusus bagi pelanggan yang beralih.
Bagi sebagian konsumen, pasar ponsel bekas dan refurbished menawarkan nilai lebih. Samsung memiliki program certified refurbished yang mencakup pengujian ulang dan garansi terbatas satu tahun, meski harganya kerap kurang bersaing dibandingkan pengecer pihak ketiga. Di platform seperti Amazon, Galaxy S23 Ultra unlocked dijual sekitar 408 dolar AS. Perangkat ini membawa layar AMOLED 6,8 inci resolusi 1440p, stylus S Pen, kamera 200MP, serta chipset Snapdragon 8 Gen 2 dengan RAM 8GB dan penyimpanan 256GB. Namun, masa pembaruan Android untuk model ini hanya sampai 2027, ditambah satu tahun patch keamanan.
Sementara itu, di pasar barang bekas seperti Swappa, Galaxy S24 Ultra ditawarkan di kisaran akhir 400 dolar AS. Peningkatan terbesarnya bukan sekadar spesifikasi, melainkan komitmen perangkat lunak: Samsung menjanjikan tujuh tahun pembaruan OS dan keamanan untuk S24 Ultra, yang berarti perlindungan hingga Januari 2031. Ada satu catatan penting bagi penggemar fotografi zoom, karena S24 Ultra mengandalkan lensa zoom 5x, sedangkan S23 Ultra masih memiliki kemampuan zoom 10x.
"Pasar ponsel kelas menengah kini bukan hanya soal harga, tetapi juga soal seberapa lama perangkat itu akan didukung," ujar seorang analis teknologi yang memantau pasar gadget Asia Tenggara.
Bagi konsumen Indonesia, tren ini relevan mengingat harga ponsel di dalam negeri sering kali lebih tinggi akibat pajak dan biaya distribusi. Galaxy A37 5G belum tentu masuk secara resmi, tetapi pola yang sama terlihat: konsumen semakin rasional memilih perangkat dengan dukungan jangka panjang. Pasar refurbished lokal juga mulai bergeliat, meski masih terkendala kepercayaan dan garansi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Samsung akan mempertahankan strategi harga agresif di segmen menengah, atau justru menaikkan harga seiring mahalnya komponen. Jika tren kenaikan RAM dan SSD berlanjut, ponsel baru di bawah 500 dolar AS bisa semakin langka, dan pasar bekas akan menjadi penyelamat. Konsumen perlu cermat menghitung total biaya kepemilikan, bukan hanya harga awal.



