Tornado Ganda Hantam Sisilia: Puluhan Luka, Sekolah Rusak, dan Peringatan Krisis Iklim
Baca dalam 60 detik
- Dua puting beliung menerjang Marsala, Sisilia barat, mengakibatkan puluhan orang terluka dan kerusakan bangunan termasuk sekolah.
- Fenomena ini terkait dengan pemanasan laut Mediterania yang memicu badai ekstrem seperti medicane, mirip dengan yang menenggelamkan kapal pesiar Bayesian pada 2024.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa kenaikan suhu laut akibat krisis iklim akan memperkuat badai serupa di kawasan Mediterania, dengan implikasi global termasuk Indonesia.

Dua tornado menerjang kota pesisir Marsala di Sisilia barat pada Jumat pagi, menyebabkan puluhan orang terluka, merusak sejumlah bangunan termasuk sebuah sekolah, dan membalikkan mobil-mobil di jalanan. Insiden ini menjadi yang terbaru dari serangkaian cuaca ekstrem yang melanda Italia selatan dalam beberapa tahun terakhir.
Rekaman video yang beredar menunjukkan dua waterspout—tornado yang terbentuk di atas air—mendekati daratan dari arah Laut Mediterania. Sedikitnya 11 orang dilarikan ke rumah sakit setelah terkena puing beterbangan dan pecahan kaca. Seorang pria berusia 70 tahun dilaporkan dalam kondisi kritis dengan beberapa patah tulang dan dirawat di rumah sakit Mazara del Vallo. Sebuah sekolah dasar juga menjadi sasaran amukan angin, mengakibatkan enam anak mengalami luka ringan. Saat kejadian, 273 siswa berada di dalam gedung, namun semuanya berhasil dievakuasi dengan selamat. Rekaman drone memperlihatkan kerusakan parah pada bangunan sekolah, dengan jendela pecah dan meja-kursi berserakan.
Peristiwa ini bukan kali pertama Italia selatan berhadapan dengan badai mirip hurricane yang dikenal sebagai medicane. Dalam beberapa tahun terakhir, wilayah ini semakin sering dilanda sistem tekanan rendah yang kuat, mampu menghasilkan angin lebih dari 60 mil per jam dan gelombang setinggi lima meter. Pembentukan badai ini dipicu oleh suhu udara ekstrem di Afrika utara dan menghangatnya permukaan laut Mediterania. Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa kenaikan suhu air laut akibat krisis iklim memberikan energi tambahan bagi badai yang lebih ganas.
“Rekor suhu di Mediterania berkontribusi terhadap badai aneh yang menenggelamkan kapal pesiar super Bayesian di lepas pantai Sisilia pada Agustus 2024, menewaskan tujuh orang termasuk taipan teknologi Mike Lynch dan putrinya yang masih remaja,” ungkap para ahli.
Insiden Bayesian menjadi pengingat tragis bagaimana perubahan iklim dapat memperburuk kondisi cuaca di kawasan yang sebelumnya jarang mengalami siklon tropis. Mediterania, yang menghangat 20% lebih cepat dari rata-rata global, kini menjadi laboratorium alami bagi badai ekstrem. Dampaknya tidak hanya terbatas pada Eropa selatan; pola cuaca global yang terganggu dapat memengaruhi musim hujan dan intensitas badai di wilayah lain, termasuk Indonesia. Meskipun Indonesia secara geografis jauh dari Mediterania, pemanasan global yang sama turut meningkatkan risiko cuaca ekstrem di dalam negeri, seperti banjir bandang dan angin puting beliung yang belakangan kerap terjadi di berbagai daerah.
Pemerintah lokal Sisilia kini berfokus pada pemulihan pasca-bencana, sementara para ahli iklim menyerukan tindakan mitigasi yang lebih ambisius. Transisi energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi kunci untuk menekan laju pemanasan laut. Tanpa langkah signifikan, kota-kota pesisir seperti Marsala—dan mungkin juga kota-kota di Indonesia—akan menghadapi ancaman serupa dengan frekuensi yang meningkat. Apakah dunia akan bertindak cukup cepat sebelum badai berikutnya datang?



