Trump Desak Zelenskyy Diganti, Menlu Ukraina: Rakyat yang Menentukan
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyerukan pergantian kepemimpinan Ukraina, memicu reaksi keras dari Kyiv.
- Menlu Ukraina Andriy Sybiga menegaskan hanya rakyat Ukraina yang berhak memutuskan siapa pemimpin mereka.
- Ketegangan AS-Ukraina meningkat di tengah kesepakatan diesel AS-Rusia dan serangan Moskow yang menewaskan warga sipil.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan pergantian kepemimpinan Ukraina, memicu benturan publik dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy yang berlangsung di tengah eskalasi serangan Rusia terhadap warga sipil. Pernyataan Trump disampaikan sehari setelah Washington menyepakati kesepakatan yang memungkinkan Rusia memasok diesel ke pasar global, dan saat Moskow meluncurkan serangan yang menewaskan 20 orang, termasuk tiga anak-anak.
Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Sybiga menegaskan bahwa Zelenskyy memiliki dukungan rakyat Ukraina dan berhak mendapatkan dukungan internasional. "Dia memiliki dukungan rakyat Ukraina, dan merekalah yang berhak memutuskan," kata Sybiga. Ia menambahkan bahwa pernyataan dari luar negeri justru menegaskan bahwa Zelenskyy menjalankan tugasnya dengan baik. "Dia layak mendapat dukungan," ujarnya.
Trump juga meminta Zelenskyy menghentikan serangan terhadap kilang minyak Rusia. "Dia sebaiknya benar-benar berhenti," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Sebelumnya, Zelenskyy bereaksi keras terhadap kesepakatan Trump dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menyebutnya "buruk" serta "tidak adil dan tidak jujur".
Ketegangan semakin memanas ketika Trump menyatakan bahwa Putin ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang, dan tanpa bukti menuduh Zelenskyy menolak kompromi. "Rusia ingin membuat kesepakatan... tetapi entah kenapa, Zelenskyy tidak mau membuat kesepakatan," kata Trump. Ia juga mengklaim Putin sangat ingin melihat penyelesaian konflik, merujuk pada percakapan teleponnya dengan pemimpin Rusia itu pada Jumat.
Perdana Menteri Inggris Andy Burnham bergerak cepat mendukung Zelenskyy, menyatakan "solidaritas penuh" dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Ukraina. Menurut kantor Downing Street, Burnham mengakui bahwa "24 jam terakhir sangat sulit bagi Ukraina" dan menegaskan komitmen untuk terus memperkuat sanksi terhadap Rusia serta mengambil tindakan lebih lanjut untuk membatasi mesin perang Rusia. Keduanya sepakat bertemu langsung dalam beberapa hari ke depan.
Sementara itu, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang memimpin upaya mediasi perdamaian Ukraina, dikabarkan mungkin mengunjungi Moskow dalam dua pekan ke depan, menurut laporan media negara Rusia yang mengutip sumber. Delegasi pejabat Ukraina yang mengunjungi Miami untuk pembicaraan mengakhiri perang juga telah kembali ke tanah air, kata penasihat presiden Dmytro Lytvyn.
Utusan ekonomi utama Putin, Kirill Dmitriev, menyambut seruan Trump untuk mengganti Zelenskyy dan menyebutnya "historis". "Presiden Trump bergabung dengan banyak pihak yang percaya bahwa Ukraina membutuhkan kepemimpinan yang benar-benar fokus pada perdamaian," tulis Dmitriev di X.
Jerman menegaskan akan terus mendorong sanksi baru Uni Eropa terhadap Rusia meskipun ada kesepakatan Moskow-Washington soal diesel. "Pemerintah Jerman tetap pada langkah-langkahnya yang memberi sanksi kepada Rusia dan bekerja sama dengan mitra Eropa untuk sanksi baru," kata juru bicara pemerintah Stefan Kornelius. Ia menambahkan bahwa dukungan Jerman untuk Ukraina "tidak pernah surut" dan upaya diplomatik untuk solusi damai terus berlanjut.
Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim drone mereka menyerang pusat pemrosesan data di Kyiv dan sebuah kapal kargo yang membawa pasokan militer ke pelabuhan Odesa. Moskow juga mengklaim pasukannya merebut pemukiman Lukashove dan Lobanivka di wilayah Kharkiv. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Bagi Indonesia, ketegangan AS-Ukraina dan kesepakatan diesel AS-Rusia berpotensi memengaruhi harga energi global serta stabilitas pasokan minyak. Sebagai negara importir minyak, Indonesia perlu mencermati dinamika ini karena dapat berdampak pada subsidi energi dan anggaran negara. Selain itu, posisi Indonesia yang netral dalam konflik Ukraina terus diuji di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks.
Ke depan, apakah tekanan Trump terhadap Zelenskyy akan mempercepat negosiasi damai atau justru memperkeruh hubungan Washington-Kyiv? Sementara itu, Uni Eropa dan Inggris tetap pada jalur sanksi, menandakan perpecahan strategi antara AS dan sekutu-sekutunya dalam menghadapi Rusia.



