Tunggakan Utang Rumah Tangga AS Cetak Rekor Terburuk Sejak 2010, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Porsi keluarga Amerika yang menunggak cicilan melonjak dari 12% menjadi hampir 20% dalam tiga tahun terakhir, level tertinggi sejak 2010.
- Kesenjangan makin lebar: kelompok berpendapatan atas menikmati kenaikan kekayaan 31%, sementara kelas bawah justru kehilangan nilai aset.
- Tekanan ini berpotensi menjalar ke pasar global, termasuk Indonesia, melalui jalur suku bunga, arus modal, dan ekspor.

Kemampuan rumah tangga Amerika Serikat memenuhi kewajiban utangnya merosot tajam ke titik terburuk dalam lebih dari satu dekade. Survei Consumer Finances yang dirilis Federal Reserve menunjukkan hampir 20% keluarga gagal membayar cicilan tepat waktu pada akhir 2025, melonjak dari sekitar 12% pada survei sebelumnya. Angka itu menjadi yang paling mengkhawatirkan sejak 2010, saat Negeri Paman Sam baru keluar dari pusaran resesi besar.
Yang lebih mengganggu, keterlambatan berat juga meluas. Kelompok yang menunggak dua bulan atau lebih kini menembus 8%, naik dari 5% pada 2022. Rasio pembayaran terhadap pendapatan pun memburuk: keluarga dengan beban cicilan melebihi 40% dari penghasilan bertambah menjadi 8,6%, level tertinggi sejak 2013. Data ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi tidak dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
Laporan triwulanan ini juga mengungkap paradoks yang kian melebar. Di satu sisi, kekayaan kelompok berpenghasilan tinggi melesat. Di sisi lain, keluarga kelas bawah justru kehilangan pijakan. Survei New York Fed yang dirilis beberapa hari sebelumnya memperkuat gambaran itu: rumah tangga melaporkan kondisi keuangan mereka memburuk dibanding setahun lalu dan memperkirakan tekanan berlanjut pada tahun mendatang.
Tekanan ini muncul di tengah inflasi yang sempat menyentuh level tertinggi sejak awal 1980-an. Pendapatan median riil keluarga memang naik 7%, tetapi pendapatan rata-rata justru turun 6%. Fed mencatat penurunan itu terkonsentrasi pada kelompok berpendapatan tinggi yang mengalami koreksi pendapatan dari capital gain. Sebaliknya, keluarga berpenghasilan rendah hanya menikmati kenaikan tipis. Alhasil, ketimpangan pendapatan sedikit menyempit โ bukan karena yang bawah membaik, melainkan karena yang atas terkoreksi.
Menariknya, kelompok usia 75 tahun ke atas justru mencatat kenaikan pendapatan paling kuat, sementara mereka yang berusia 35โ44 tahun mengalami penurunan hingga 25%. Fed menyebut penurunan ini dipicu oleh berkurangnya pendapatan dari keuntungan modal. Pola ini menunjukkan bahwa kelompok usia produktif โ yang seharusnya menjadi tulang punggung konsumsi โ justru menghadapi tekanan paling berat.
Bagi Indonesia, sinyal dari Washington ini tidak bisa diabaikan. Ketika konsumen Amerika menahan belanja karena beban utang, permintaan terhadap barang ekspor dari negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi melemah. Lebih dari itu, memburuknya kesehatan keuangan rumah tangga AS dapat memaksa Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berdampak pada arus modal keluar dari pasar negara berkembang dan pelemahan rupiah. Pemerintah dan pelaku pasar dalam negeri perlu mencermati perkembangan ini sebagai faktor risiko eksternal yang nyata.
"Keluarga lebih mungkin tertinggal dalam memenuhi kewajiban finansial mereka dibandingkan titik mana pun sejak survei 2010," demikian pernyataan dalam laporan Federal Reserve tersebut.
Pertanyaannya kini, apakah ini sekadar koreksi siklus atau awal dari masalah struktural yang lebih dalam? Jika tren tunggakan terus menanjak sementara kekayaan hanya mengalir ke segelintir orang, daya tahan ekonomi Amerika โ dan stabilitas keuangan global โ akan diuji dalam beberapa kuartal mendatang. Investor dan pembuat kebijakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebaiknya tidak menunggu sampai gejolak itu tiba di depan pintu.



