Xona Siap Luncurkan Alternatif GPS Komersial: Presisi Sentimeter, Sinyal Tembus Gedung
Baca dalam 60 detik
- Enam satelit Xona Space Systems dijadwalkan mengorbit bulan ini, menandai layanan navigasi presisi komersial pertama yang menantang dominasi GPS.
- Teknologi Pulsar menawarkan akurasi hingga sentimeter dan sinyal kuat yang dapat diterima di dalam ruangan, membuka pasar baru bagi kendaraan otonom dan robot pertanian.
- Dengan dana ventura lebih dari US$300 juta, Xona menargetkan cakupan penuh di AS, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan pada 2028, sementara implikasi bagi Indonesia masih terbuka lebar.

Perusahaan rintisan Xona Space Systems bersiap meluncurkan enam satelitnya ke orbit Bumi bulan ini, menandai langkah awal layanan navigasi presisi komersial pertama yang berpotensi menggantikan GPS. Peluncuran ini menjadi momen krusial bagi industri teknologi navigasi yang selama puluhan tahun bergantung pada sinyal gratis milik pemerintah.
Selama ini, GPS dan sistem serupa yang dikembangkan Eropa, China, serta Rusia memang memberikan nilai besar, tetapi memiliki kelemahan mendasar: mudah terganggu (jamming) dan tidak cukup presisi untuk aplikasi seperti kendaraan otonom atau robot pertanian. Xona hadir dengan janji akurasi hingga tingkat sentimeter—jauh lebih baik dari GPS yang hanya mencapai level meter—serta sinyal yang mampu menembus gedung dan lingkungan perkotaan padat.
Didirikan pada 2019 oleh lima insinyur lulusan program pascasarjana teknik kedirgantaraan Stanford University, Xona berawal dari diskusi santai soal peluang bisnis di balik kelemahan GPS. Tyler Reid, salah satu pendiri yang kini menjabat CTO, menulis disertasi doktoral tentang pemanfaatan satelit di orbit rendah Bumi untuk meningkatkan navigasi. Ide itu kemudian berkembang menjadi perusahaan yang kini didukung dana ventura lebih dari US$300 juta, termasuk US$20 juta dari Angkatan Antariksa Amerika Serikat.
CEO Xona, Brian Manning, mengakui bahwa gagasan menggantikan GPS sempat terasa aneh. "Reaksi pertama saya, ini bodoh. Mengapa orang mau mengganti GPS? Kan gratis," ujarnya, menirukan keraguan awal. Namun, ia segera menyadari bahwa pasar sebenarnya bukan pada layanan gratis itu, melainkan pada perangkat keras—miliaran perangkat yang dijual setiap tahun dan sangat membutuhkan performa lebih baik. "Ada pasar besar yang sangat membutuhkan peningkatan kinerja," tambahnya.
Tantangan teknisnya tidak sederhana. Xona harus mengembangkan arsitektur unik agar satelitnya dapat menjaga waktu tanpa jam atom mahal, memanfaatkan kedekatan dengan Bumi dan komunikasi dengan sumber waktu di darat. Selain itu, sinyal mereka dirancang agar dapat diterima oleh penerima GPS yang sudah ada hanya dengan modifikasi perangkat lunak sederhana. Langkah ini membuka akses pasar secara instan dan mempermudah proses regulasi penyiaran sinyal navigasi.
"Kami melihat Xona dan apa yang kami bangun dapat berperan besar... menyediakan layanan untuk mobil, sehingga Anda bisa merasa seaman melepas kemudi seperti bersandar di pesawat komersial," ujar Manning, menggambarkan ambisi perusahaan di sektor transportasi otonom.
Setelah satelit mengorbit dan melintasi lintang menengah sekitar delapan kali sehari, Xona dapat memulai uji beta bersama pelanggan nyata. Ian Gough, CEO TimeBeat, perusahaan yang bergerak di bidang penepatan waktu elektronik, menyatakan bahwa pilot awal akan memungkinkan insinyurnya memeriksa dan mengoreksi waktu yang diberikan perangkat mereka di seluruh dunia. Pada 2028, Xona berharap dapat menawarkan cakupan penuh di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Meski fokus pada layanan komersial, minat pemerintah AS terhadap teknologi ini jelas terlihat, terutama ketika jamming dan spoofing sinyal navigasi satelit semakin sering terjadi dalam konflik. Xona juga memandang jauh ke depan pada era otonomi yang berkembang pesat. Reid, yang pernah bekerja pada mobil self-driving di Ford, menyadari bahwa layanan seperti Pulsar dibutuhkan untuk mewujudkan potensi kendaraan otonom segala jenis.
Bagi Indonesia, kehadiran alternatif GPS presisi tinggi ini membuka peluang sekaligus tantangan. Negara kepulauan dengan topografi beragam dan infrastruktur digital yang tengah dibangun sangat membutuhkan navigasi akurat untuk logistik, pertanian presisi, hingga mitigasi bencana. Namun, adopsi teknologi semacam ini bergantung pada kesiapan regulasi dan ekosistem perangkat keras dalam negeri. Jika Xona benar-benar mewujudkan cakupan global, Indonesia bisa menjadi salah satu pasar potensial—asalkan ada kemitraan strategis dengan operator lokal dan dukungan kebijakan yang mendorong inovasi.
Pertanyaannya kini, akankah Xona mampu menembus dominasi GPS yang telah mengakar puluhan tahun, dan seberapa cepat negara-negara berkembang seperti Indonesia dapat memanfaatkan presisi sentimeter untuk lompatan di sektor transportasi dan pertanian? Waktu yang akan menjawab, tetapi peluncuran bulan ini adalah langkah pertama yang menentukan.



