Amazon "Tebak" Kebiasaan Belanja Pengguna, Warganet Terbelah antara Lucu dan Ngeri
Baca dalam 60 detik
- Fitur Shopping Preferences di akun Amazon menampilkan asumsi personal yang dihasilkan dari riwayat pembelian, memicu viralnya unggahan pengguna.
- Sebagian pengguna terhibur, sebagian lain mempertanyakan batas privasi dan sumber data yang digunakan Amazon.
- Insiden ini menyoroti praktik profiling konsumen yang makin lazim di platform e-commerce global, termasuk di Indonesia.

Di tengah gelaran Prime Big Deal Days, perhatian publik justru tersedot pada temuan tak terduga: halaman "Shopping Preferences" di akun Amazon yang memuat asumsi personal tentang pengguna berdasarkan riwayat transaksi mereka. Unggahan pertama datang dari pengguna Threads @fangirlinmegan pada 6 Oktober, yang membagikan tangkapan layar dengan label "Product Preferences: Has flat buttocks" โ sebuah klasifikasi yang ia lingkari merah dan sebut sebagai "tidak salah, tapi kok tega banget".
Dalam waktu kurang dari 24 jam, unggahan itu mengumpulkan lebih dari 24.300 suka dan 4.600 komentar. Ribuan pengguna kemudian berbondong-bondong memeriksa halaman serupa di akun masing-masing, lalu membagikan temuan yang tak kalah menggelitik. Ada yang mendapati label "anjing pelanggan memakai topi", "menjelajahi rasa es krim premium dalam periode singkat", hingga "menggunakan ponsel di kamar mandi untuk membaca Kindle".
Fenomena ini bukan sekadar lelucon media sosial. Ia membuka tabir bagaimana platform e-commerce besar mengolah data perilaku konsumen menjadi profil yang sangat spesifik โ bahkan terkesan menebak hal-hal yang tidak pernah disadari pengguna. Seorang pengguna Reddit dengan akun beebeebeehappy mengaku menemukan fitur ini lima bulan lalu dan mendapati 48 entri asumsi tentang dirinya, termasuk fakta bahwa kucingnya berbulu panjang gelap. "Saya paham kalau mereka tahu saya punya kucing dari pembelian makanan kucing, tapi dari mana mereka tahu warna bulunya?" tulisnya.
Bagi sebagian pengguna, kemampuan Amazon menarik kesimpulan sejauh itu terasa mengganggu. Pertanyaan seperti "apakah mereka benar-benar memata-matai saya, atau saya sendiri yang memberi petunjuk lewat pencarian?" muncul di kolom komentar. Kerisauan ini masuk akal: sistem rekomendasi modern memang bekerja dengan mengombinasikan data transaksi, riwayat pencarian, hingga pola interaksi untuk membangun model prediktif. Namun ketika hasilnya dipaparkan kembali ke pengguna dalam bentuk label yang terasa personal, batas antara personalisasi dan intrusi menjadi kabur.
"Sama sekali tidak mencurigakan bahwa mereka tahu hal ini tentang Anda," tulis seorang warganet, disusul komentar lain: "Tapi bagaimana mereka tahu Anda sedang mandi?"
Amazon sendiri belum memberikan pernyataan resmi terkait viralnya fitur ini. Namun dalam dokumen Ketentuan Penggunaan yang dikutip sejumlah pengguna, perusahaan menyatakan dapat menggunakan dan menyimpan data untuk menjalankan layanan, menegakkan perjanjian, serta memperbaiki kualitas layanan. Praktik semacam ini bukan hal baru di industri e-commerce global โ hampir semua platform besar mengandalkan profiling serupa untuk mendorong konversi penjualan.
Di Indonesia, isu ini relevan mengingat dominasi platform e-commerce dalam keseharian konsumen. Tokopedia, Shopee, dan Lazada juga memiliki sistem rekomendasi berbasis data perilaku, meski belum ada yang secara terbuka menampilkan halaman asumsi personal seperti Amazon. Regulasi Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mulai berlaku penuh pada Oktober 2024 mewajibkan persetujuan eksplisit dan transparansi penggunaan data. Pertanyaannya, sejauh mana konsumen Indonesia menyadari data apa yang dikumpulkan dan bagaimana mereka bisa mengaksesnya?
Ke depan, tekanan publik terhadap transparansi algoritma diperkirakan meningkat. Jika Amazon membuka halaman asumsi ini sebagai bentuk keterbukaan, langkah tersebut bisa jadi pedang bermata dua: di satu sisi memenuhi prinsip transparansi, di sisi lain memicu kekhawatiran baru. Akankah platform lain mengikuti, atau justru menyembunyikan profil serupa lebih rapat? Yang jelas, konsumen kini semakin sadar bahwa setiap klik meninggalkan jejak โ dan jejak itu bisa dibaca lebih dalam dari yang mereka duga.



