Upgrade Mercedes Diduga Malah Bikin Lambat Setengah Detik, Singapura Jadi Ujian
Baca dalam 60 detik
- Will Buxton mengungkap dugaan Toto Wolff bahwa paket upgrade Mercedes di Malaysia justru mengorbankan sekitar 0,4โ0,5 detik per lap.
- Mercedes berencana menjalankan uji banding spesifikasi lama versus baru di Singapura, tetapi hanya punya satu sesi latihan karena format sprint.
- Hasil di Marina Bay akan menentukan apakah arah pengembangan W16 layak dilanjutkan atau perlu dikoreksi total.

Mercedes menghadapi pertanyaan serius soal arah pengembangan mobil mereka musim ini. Paket upgrade besar yang diperkenalkan pada Grand Prix Malaysia di Sirkuit Sepang disebut tidak memberikan peningkatan performa seperti yang diharapkan, bahkan berpotensi merugikan tim hingga setengah detik per putaran.
Kekhawatiran itu pertama kali mencuat dari komentar broadcaster Formula 1, Will Buxton, yang mengutip pernyataan kepala tim Toto Wolff. Menurut Buxton, Wolff menduga perubahan besar pada lantai dan sidepod mobil justru menelan waktu sekitar 0,4 hingga 0,5 detik, bukan menambah kecepatan seperti target awal.
Upgrade tersebut menyentuh hampir seluruh permukaan bodi W16 dengan tujuan utama memperbaiki downforce di kecepatan menengah hingga tinggi. Secara teori, tambahan downforce memang mengorbankan sedikit kecepatan di lintasan lurus, namun seharusnya terbayar melalui tikungan. Mercedes semula memperkirakan akan mendapat tambahan sekitar 0,3 detik per lap.
Di Sepang, harapan tinggi sebelum akhir pekan tidak berbuah manis. Andrea Kimi Antonelli tampil solid dengan start dari posisi ketiga dan finis runner-up, sementara George Russell harus mengakhiri balapan lebih awal karena persoalan unit daya. Namun, performa keseluruhan Mercedes dianggap tidak pernah benar-benar masuk pertarungan memperebutkan kemenangan.
"Mereka membawa upgrade besar. Apakah ini kasus upgrade yang tidak bekerja, atau hanya spesifik sirkuit dan mereka tidak mendapatkan yang diinginkan? Kita mungkin baru tahu akhir pekan ini," ujar Buxton dalam podcast Up To Speed.
Buxton menilai ada dua kemungkinan yang perlu diuji. Pertama, paket teknis tersebut memang cacat secara fundamental. Kedua, karakteristik Sirkuit Sepang yang unik membuat potensi upgrade tidak muncul optimal. Perbedaan antara kedua skenario ini sangat menentukan langkah Mercedes selanjutnya.
Untuk menjawabnya, Mercedes dikabarkan akan menjalankan uji banding langsung antara spesifikasi lama dan baru di Grand Prix Singapura. Namun, tantangannya tidak ringan. Marina Bay akhir pekan ini menggunakan format sprint, yang berarti hanya tersedia satu sesi latihan bebas sebelum mobil masuk ke parc ferme. Jendela evaluasi menjadi sangat sempit.
Jika hasil uji banding menunjukkan spesifikasi lama lebih kompetitif, Mercedes berada di posisi sulit. Mereka harus memutuskan apakah membuang arah pengembangan yang telah menelan banyak sumber daya, atau tetap mempertahankannya dengan risiko kehilangan lebih banyak poin di sisa musim. Sebaliknya, bila upgrade terbukti hanya tidak cocok di Malaysia, tekanan akan mereda dan jalur pengembangan bisa dilanjutkan.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, dinamika ini menjadi pengingat bahwa balapan tidak hanya soal kecepatan pembalap. Perang teknis di garasi dan terowongan angin sering kali lebih menentukan hasil akhir. Keputusan Mercedes dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana tim papan atas mengelola risiko inovasi di tengah kompetisi yang ketat.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah Mercedes berani mengakui kesalahan arah pengembangan dan kembali ke spesifikasi lama, atau tetap bertahan dengan keyakinan bahwa data di Singapura akan membenarkan investasi teknis mereka? Jawaban di Marina Bay akan menjadi sinyal penting bagi sisa musim.



