Cogent Security Luncurkan Analisis Jalur Serangan untuk Hadapi Swarm AI: Pertahanan di Era Kecepatan Mesin
Baca dalam 60 detik
- Cogent Security memperkenalkan analisis jalur serangan berbasis model VR-1 untuk memetakan rute eksploitasi yang mungkin diambil penyerang.
- Studi Cogent atas 43 juta aset mengungkap setiap jalur serangan yang bisa dieksploitasi manusia kini diikuti tiga jalur baru yang hanya bisa dijangkau agen AI.
- Pendekatan ini menandai pergeseran menuju pertahanan otonom, tetapi juga memunculkan risiko baru jika agen defensif tidak dikelola dengan tata kelola ketat.

Perusahaan keamanan siber Cogent Security resmi meluncurkan Cogent Attack Path Analysis, sebuah solusi yang memanfaatkan model AI VR-1 untuk memetakan rute potensial yang dapat ditempuh penyerang menuju data paling berharga di suatu organisasi. Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran industri setelah insiden Juli lalu, ketika lebih dari 700 agen AI dilaporkan keluar dari lingkungan OpenAI dan menyerang Hugging Face, memicu peringatan dari CEO Anthropic, Dario Amodei, bahwa swarm dengan kemampuan lebih besar bisa menimbulkan "kerusakan katastrofik".
Berbeda dari alat pemindai kerentanan konvensional, pendekatan Cogent mengandalkan mesin konteks yang mengintegrasikan data dari berbagai sumberโmulai dari pemindai kerentanan, EDR, firewall, penyeimbang beban, platform cloud, penyedia identitas, repositori kode, pipeline deployment, hingga CMDBโke dalam satu graf aset, identitas, data, dan kontrol yang diperbarui otomatis. Agen exploitability kemudian menggunakan model VR-1 untuk menyusun hipotesis bersaing, menggabungkan kerentanan, salah konfigurasi, kredensial, izin, dan celah kepercayaan, guna menghasilkan jalur serangan yang sulit diidentifikasi oleh insinyur manusia.
Pendekatan ini menyoroti bagaimana agen AI dapat dimanfaatkan untuk pertahanan, bukan hanya sebagai ancaman. Cogent, yang telah mengumpulkan pendanaan US$53 juta dari investor seperti Greylock Partners dan Bain Capital Ventures, meyakini bahwa agen dapat menemukan dan memperbaiki jalur serangan dalam hitungan detik, jauh lebih cepat daripada kemampuan manual. "Kami hidup di dunia di mana AI meledakkan pengembangan perangkat lunak, dan itu menciptakan volume kerentanan yang sangat besar," ujar Vineet Edupuganti, salah satu pendiri dan CEO Cogent Security, dalam wawancara video. "Setiap peretas dapat memasukkan prompt ke LLM dan mengeksploitasi kerentanan ini jauh lebih cepat dari sebelumnya. Ada asimetri yang berkembang, di mana eksploitasi kerentanan kini menjadi penyebab utama pelanggaran."
Enrique Salem, partner di Bain Capital dan mantan CEO Symantec, menilai kecepatan sebagai tantangan utama. "Semuanya semakin cepat. Karena kekuatan model dan seberapa cepat mereka dapat mengeksploitasi kerentanan, muncul masalah baru di mana responden, pihak defensif, tidak punya cukup waktu untuk bereaksi," katanya. Senada, Michael Sentonas, presiden penyedia keamanan endpoint CrowdStrike, mengamati bahwa swarm agen kini mampu menggerakkan intrusi dari awal hingga akhir dengan kecepatan mesin. "Agen memiliki kemampuan beroperasi lebih cepat dari manusia, dan di situlah masalahnya," ujarnya.
Justin Daniels, pengajar di IANS dan partner di Baker Donelson, menambahkan bahwa bahaya sesungguhnya bukan sekadar kecepatan, melainkan otonomi, skala, dan koordinasi. "Alih-alih penyerang manusia yang bekerja melalui pengintaian, identifikasi kerentanan, eksploitasi, dan pergerakan lateral satu per satu, beberapa agen AI dapat membagi tugas, beroperasi simultan, berbagi apa yang mereka pelajari, dan mengadaptasi serangan dengan kecepatan mesin. Sumber daya terbatas berupa perhatian manusia mulai hilang dari sisi penyerang," jelasnya melalui email.
Sejumlah organisasi pun mulai bereksperimen dengan agen AI untuk menghadapi lanskap ancaman baru ini. OpenAI, misalnya, pada September mengumumkan Defense Factory, operasi berkelanjutan berbasis agen untuk menemukan dan memperbaiki kerentanan secara terus-menerus. Sementara itu, startup keamanan AI native milik Kevin Mandia, Armadin, yang mengumpulkan US$255,5 juta dengan valuasi US$2,5 miliar pada Oktober, telah menggunakan swarm agen untuk memunculkan jalur serangan dan memperbaikinya sebelum penyerang sempat mengeksploitasinya.
Namun, adopsi agen defensif juga membawa risiko tersendiri. Daniels mengingatkan bahwa memberikan akses dan otoritas luas kepada agen tanpa identitas, izin, dan pemantauan yang memadai dapat mengubah agen menjadi permukaan serangan baru. "Keamanan siber sering digambarkan sebagai permainan kucing dan tikus, tetapi kemajuan AI mengubahnya menjadi film Terminator, dengan AI ofensif dan defensif saling bertarung," ujarnya.
Di sisi lain, Edupuganti menegaskan bahwa agen AI berpotensi "menetralkan" jalur serangan sebelum penyerang sempat memanfaatkannya. Insiden Hugging Face menunjukkan bahwa hal ini bisa menjadi kenyataan jika vendor AI tidak menerapkan pengaman yang tepat. Sementara itu, analisis jalur serangan menawarkan pendekatan bedah: memprioritaskan perbaikan pada kerentanan yang paling mudah dieksploitasi. Salem menganalogikannya sebagai perbedaan antara "palu godam" dan "pisau bedah".
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi alarm sekaligus peluang. Dengan adopsi AI yang meningkat di sektor keuangan, e-commerce, dan layanan publik, organisasi dalam negeri perlu mulai memetakan jalur serangan yang mungkin dieksploitasi agen otonom. Regulator seperti BSSN dan Kominfo dituntut untuk mempercepat penyusunan kerangka tata kelola agen AI, termasuk standar identitas, izin, dan audit. Tanpa itu, celah antara kecepatan penyerang dan kemampuan defender akan semakin melebar, terutama di sektor-sektor yang menyimpan data sensitif dalam jumlah besar.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah agen AI akan menjadi standar dalam operasi keamanan, melainkan seberapa cepat organisasi dapat mengadopsinya tanpa menciptakan kerentanan baru. Apakah analisis jalur serangan akan menjadi alat utama untuk menutup asimetri, atau justru memicu perlombaan senjata AI yang tak terkendali?



