Bupati Klaten: Karakter Anak Tak Bisa Digantikan AI, Drumband Jadi Laboratorium Sosial
Baca dalam 60 detik
- Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan pembentukan karakter anak tetap memerlukan interaksi langsung, tidak bisa diserahkan kepada kecerdasan buatan.
- Kejuaraan Drumband Piala Bupati Klaten 2026 diikuti 23 tim dari jenjang SD dan SMP, digelar untuk memperingati tiga momen sekaligus.
- Nilai disiplin, kerja sama, dan kepercayaan diri dinilai lebih efektif ditumbuhkan melalui aktivitas kelompok seperti drumband ketimbang pencapaian individual berbasis teknologi.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menegaskan bahwa pembentukan karakter anak tidak dapat diserahkan kepada teknologi maupun kecerdasan buatan. Pernyataan itu disampaikannya saat membuka Kejuaraan Drumband Piala Bupati Klaten 2026 di Graha Bung Karno, Kamis (8/10), dengan memukul bas drum sebagai tanda dimulainya kompetisi.
Menurut Hamenang, kemajuan teknologi memang membuka jalan lebih cepat bagi anak untuk berprestasi. Namun, ia menilai ada dimensi yang tidak bisa digantikan oleh perangkat digital: disiplin, kemampuan bekerja sama, dan pengendalian ego. "Berprestasi hari ini makin mudah dengan bantuan teknologi. Namun, membentuk karakter yang disiplin, tidak egois, dan mampu bekerja sama harus ditumbuhkan sejak dini," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Ia memandang drumband sebagai medium yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Dalam pertunjukan drumband, satu kesalahan ketukan dari seorang pemain bisa merusak keseluruhan sajian. "Drumband adalah wadah yang sangat tepat untuk itu, karena jika satu pemain saja salah memukul, seluruh sajian bisa terganggu. Di sinilah letak indahnya kebersamaan," kata Hamenang.
Ketua Lomba Drumband, Darmadi, menyebut peserta berasal dari berbagai wilayah di Klaten. Ia berharap ajang ini tidak sekadar melahirkan juara, tetapi juga menumbuhkan nilai positif pada anak. "Melalui panggung impian ini, hentakan drum band ini tidak hanya melahirkan juara tetapi juga menumbuhkan rasa harmoni, kekompakan, percaya diri, dan kebanggaan pada diri anak-anak di Kabupaten Klaten," sebutnya.
Antusiasme peserta terlihat dari beragamnya tema dan konsep penampilan. Safia, siswa SD Negeri 2 Rejoso, mengaku senang bisa mewakili sekolahnya. "Senang, bahagia bisa mewakili sekolah. Ada rasa deg-degannya juga buat maju lomba," ucap dia. Ia mengungkapkan timnya berlatih selama dua pekan berturut-turut setelah pulang sekolah, dengan dirinya berperan sebagai pemain lira. Kendati demikian, ia tidak menampik adanya kesulitan, terutama menghafal gerakan dan rangkaian pertunjukan. "Kesulitan pasti ada, kesulitan menghafal gerakan, rumit menghafalkan yang lainnya. Kita juga menggunakan tema laut," pungkas Safia.
Pernyataan Bupati Klaten menyentuh persoalan yang lebih luas: di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang-ruang pertemuan fisik seperti kompetisi seni dan olahraga menjadi semakin penting. Kegiatan kelompok menuntut anak untuk bernegosiasi, mengendalikan emosi, dan menempatkan kepentingan tim di atas ambisi pribadi. Keterampilan semacam ini tidak dapat ditanamkan melalui aplikasi atau algoritma, melainkan melalui pengalaman langsung yang melibatkan tubuh, ritme, dan kehadiran orang lain.
Pandangan Hamenang sejalan dengan sejumlah kajian pendidikan yang menekankan pentingnya pembelajaran sosial-emosional. Aktivitas bermusik bersama, termasuk drumband, terbukti melatih koordinasi motorik, disiplin waktu, dan kepekaan terhadap isyarat nonverbal. Dalam konteks Indonesia, di mana akses teknologi semakin merata namun kesenjangan karakter dan etika sosial masih menjadi pekerjaan rumah, pendekatan berbasis komunitas seperti ini menawarkan alternatif yang murah dan inklusif.
Ke depan, tantangannya adalah menjaga keberlanjutan ruang-ruang semacam ini. Kompetisi drumband di Klaten bisa menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah memadukan peringatan hari besar nasional dengan pembinaan generasi muda. Jika anggaran dan fasilitas terus didukung, bukan tidak mungkin model ini direplikasi di daerah lain. Pertanyaannya, seberapa serius pemerintah daerah lain menjadikan pembentukan karakter sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap acara seremonial?



