RBI Naikkan Suku Bunga Acuan ke 5,5%, Sinyal Tightening Global Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Bank sentral India menaikkan repo rate 25 basis poin menjadi 5,50%, level tertinggi dalam setahun, seiring inflasi ritel yang telah naik 10 bulan berturut-turut.
- Gubernur RBI Sanjay Malhotra menegaskan pemangkasan suku bunga tidak akan terjadi dalam waktu dekat, dengan opsi kebijakan hanya kenaikan atau penundaan.
- Langkah India mengikuti gelombang pengetatan moneter global yang juga dilakukan The Fed, Bank of Japan, Korea Selatan, dan Eropa, memicu kekhawatiran arus modal keluar dari negara berkembang.

Reserve Bank of India (RBI) resmi menaikkan suku bunga acuan (repo rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% pada Rabu, menandai kenaikan pertama sejak 2023. Keputusan ini diambil di tengah tekanan inflasi yang terus meningkat dan sejalan dengan ekspektasi para ekonom dalam survei Reuters.
Gubernur RBI Sanjay Malhotra menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi India tetap tangguh di tengah tantangan global, namun ia memperingatkan bahwa kondisi inflasi dan prospeknya tidak lagi jinak seperti tahun lalu. Komite kebijakan moneter pun mengubah stance kebijakan menjadi "calibrated tightening", sinyal bahwa bank sentral siap mengetatkan lebih lanjut secara terukur.
Kenaikan ini dipicu oleh inflasi ritel yang telah merangkak naik selama 10 bulan berturut-turut, mencapai 4,8% pada Agustus, jauh di atas target jangka menengah RBI sebesar 4%. Malhotra menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga tidak mungkin dilakukan dalam waktu dekat, dan langkah kebijakan ke depan hanya akan berupa kenaikan atau penundaan. HSBC dan Goldman Sachs bahkan memperkirakan RBI akan kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Dalam laporan HSBC, pasar membutuhkan kenaikan suku bunga yang "kredibel" dari RBI untuk menunjukkan kemampuannya menahan inflasi. Jika kenaikan dianggap dovish saat inflasi sedang meningkat, daya tarik India di mata investor global bisa tergerus. Goldman Sachs juga memproyeksikan kenaikan lanjutan pada Desember, memperkuat ekspektasi bahwa siklus pengetatan belum berakhir.
India, sebagai ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia, sangat rentan terhadap gangguan pasokan akibat perang Iran. Negara ini memenuhi hampir 85% kebutuhan bahan bakar melalui impor, dengan Selat Hormuz menjadi jalur utama sebelum konflik. Selain itu, risiko El Niรฑo tahun ini memperburuk prospek panen; Bank Dunia mencatat periode Juni-Agustus 2026 sebagai yang terkering keempat sejak 1960, yang dapat mendorong harga pangan lebih tinggi.
Meski demikian, pertumbuhan ekonomi India pada kuartal Juni tercatat 7,8%, lebih baik dari perkiraan, sementara banyak ekonomi utama seperti AS, China, dan Jepang justru melambat akibat kondisi perdagangan yang tidak menguntungkan, ketidakpastian geopolitik, dan harga energi tinggi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan India akan melambat ke 7,1% pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2027, turun dari 7,8% pada tahun sebelumnya.
Langkah RBI ini melengkapi gelombang pengetatan moneter global. Bulan lalu, The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kali dalam lebih dari tiga tahun dan mengisyaratkan kenaikan lanjutan, sementara Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun. Bank sentral Korea Selatan dan Eropa juga telah menaikkan suku bunga dalam dua bulan terakhir, didorong oleh lonjakan harga energi global.
Bagi Indonesia, kenaikan suku bunga India dapat memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan memperbesar risiko arus modal keluar dari pasar negara berkembang. Bank Indonesia (BI) menghadapi dilema serupa: menahan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan atau menaikkannya guna menjaga stabilitas eksternal. Jika RBI terus mengetatkan, BI mungkin perlu menyesuaikan kebijakan untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam, terutama di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.
Pertanyaannya, akankah RBI kembali menaikkan suku bunga pada Desember, dan seberapa jauh bank sentral negara berkembang lain, termasuk Indonesia, harus mengikuti langkah serupa untuk menjaga daya tarik investasi? Skenario ini akan sangat bergantung pada arah inflasi dan dinamika geopolitik dalam beberapa bulan ke depan.



