Hubner Buka Suara Usai Bawa Indonesia Juara: 'Mereka Tak Selevel Kami'
Baca dalam 60 detik
- Justin Hubner merayakan gelar FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai trofi pertama Indonesia dalam 35 tahun.
- Bek Fortuna Sittard itu mengaku sempat menerima ancaman pembunuhan terhadap keluarganya selama turnamen.
- Hubner menegaskan rival-rival Asia Tenggara sudah tertinggal jauh dari level Timnas Indonesia.

Justin Hubner akhirnya angkat bicara setelah membawa Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026. Bek yang memperkuat Fortuna Sittard itu menyebut gelar tersebut sebagai momen bersejarah sekaligus pembuktian diri di tengah tekanan yang ia alami sepanjang turnamen.
Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Hubner mengungkapkan rasa bangganya bisa menjadi bagian dari skuad yang mengakhiri puasa trofi selama 35 tahun. Ia menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari mentalitas luar biasa yang ditunjukkan seluruh pemain.
"Kami adalah juara. Saya sangat bangga bisa membantu Indonesia meraih trofi pertamanya," tulis Hubner, seperti dikutip dari akun @justinhubner5, Selasa (6/10/2026).
Namun, di balik euforia kemenangan, Hubner mengungkap sisi gelap yang ia alami. Selama turnamen berlangsung, ia menerima ancaman pembunuhan melalui media sosial yang menyasar istri, putri, dan keluarganya. Alih-alih membuatnya gentar, teror tersebut justru menjadi bahan bakar tambahan untuk tampil maksimal.
"Turnamen ini menjadi sangat personal bagi saya. Mereka yang mengirim ancaman kematian ke keluarga saya telah membuat kesalahan besar," ujarnya. Ia bahkan menyebut dirinya sebagai "El Preman" yang tak akan tinggal diam menghadapi provokasi.
Pernyataan Hubner soal level rival menjadi sorotan tersendiri. Menurutnya, Vietnam dan Malaysia tidak lagi berada di kelas yang sama dengan Indonesia. "Ini adalah Indonesia. Mereka tidak lagi selevel kami. Kami adalah raja sejati," tegasnya.
Pernyataan tersebut tentu memicu reaksi dari publik sepak bola Asia Tenggara. Hubner dikenal kerap terlibat perang urat syaraf dengan pemain atau penggemar negara tetangga. Namun, baginya, komentar-komentar pedas itu justru memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan dominan di kawasan.
Dari kacamata sepak bola nasional, gelar ini bisa menjadi titik balik penting. PSSI dan tim pelatih diharapkan menjadikan prestasi ini sebagai fondasi untuk membangun tim yang lebih kompetitif di level Asia, bukan sekadar jago kandang di ASEAN. Pengalaman Hubner bermain di Eropa juga bisa menjadi jembatan bagi pemain muda Indonesia untuk menembus liga-liga top.
Ke depan, tantangan terbesar adalah mempertahankan konsistensi. Apakah Indonesia mampu mengulangi kesuksesan ini di ajang yang lebih bergengsi seperti Piala Asia atau kualifikasi Piala Dunia? Publik tentu menanti apakah mentalitas juara yang ditunjukkan Hubner dan kawan-kawan bisa menjadi budaya baru di tubuh Timnas Indonesia.



