Planet Langka Ditemukan Mengorbit Bintang Mati, Bukti Baru Pembentukan Dunia dari Sisa Kematian Bintang
Baca dalam 60 detik
- Astronom menemukan kandidat planet raksasa seukuran Jupiter yang mengorbit bintang katai putih HS 0209+0832 setiap 4,4 hari, diduga terbentuk dari material yang dilepaskan bintang saat mati.
- Sinyal kimia tak biasa—kadar niobium 1.000 kali Matahari—menjadi petunjuk kuat bahwa planet ini lahir dari proses nuklir s-process di dalam bintang sekarat, bukan dari awan molekul biasa.
- Jika terkonfirmasi, sistem ini menawarkan laboratorium alami untuk mempelajari planet yang sedang terkikis oleh radiasi bintang induknya, sekaligus mengubah cara ilmuwan memandang evolusi tata surya di masa depan.

Tim astronom dari University of Warwick melaporkan bukti adanya planet yang kemungkinan besar terbentuk dari puing-puing bintang yang telah mati. Kandidat planet seukuran Jupiter itu mengorbit bintang katai putih HS 0209+0832 dengan periode hanya 4,4 hari Bumi. Studi yang diterbitkan di Nature Astronomy edisi 5 Oktober 2026 ini menyebut objek tersebut belum terkonfirmasi melalui metode deteksi ganda, sehingga statusnya masih sebagai kandidat, bukan fakta yang mapan.
Dua jalur bukti independen—sinyal kecerahan berulang dan jejak kimia yang tidak biasa—mengarah pada kesimpulan yang sama. Pertama, astronom mendeteksi penurunan kecerahan bintang katai putih secara periodik setiap 4,4 hari, pola yang konsisten dengan adanya planet yang mengorbit sangat dekat. Namun sinyal itu saja tidak cukup untuk memastikan keberadaan planet.
Yang lebih mengejutkan datang dari observasi spektroskopi. Atmosfer bintang katai putih tersebut mengandung seng, tembaga, dan niobium dengan konsentrasi jauh di atas normal. Niobium, misalnya, terdeteksi sekitar 1.000 kali kelimpahan Matahari. Pola pengayaan unsur berat semacam ini merupakan tanda khas proses-s (s-process), reaksi nuklir yang terjadi jauh di dalam bintang tua selama fase raksasa merah. Pola ini tidak ditemukan pada planet yang terbentuk sejak awal kelahiran bintang.
Interpretasi utama para peneliti adalah bahwa bintang katai putih sedang menyerap materi yang terlepas dari atmosfer planet gas raksasa di dekatnya akibat radiasi intens. Materi yang terkikis itu membawa sidik jari kimia aneh ke permukaan bintang, tempat astronom dapat membacanya sebagai rekaman komposisi planet. Dengan kata lain, planet tersebut sedang "dimakan" oleh bintang yang mungkin melahirkannya.
Jalur pembentukan yang diusulkan bergantung pada serangkaian kondisi langka. Bintang katai putih adalah tahap akhir evolusi bintang mirip Matahari setelah bahan bakar nuklirnya habis. Bintang mengembang menjadi raksasa merah, melepaskan lapisan luarnya, dan menyisakan inti padat yang mendingin. Pada kebanyakan sistem, material yang terlempar itu tersebar ke ruang angkasa. Namun, peneliti menduga HS 0209+0832 mungkin memiliki bintang pendamping. Gravitasi pendamping itu dapat menarik material yang terlempar ke orbit, membentuk cakram, dan akhirnya menggumpal menjadi planet baru.
"Yang luar biasa dari planet di sekitar HS 0209+0832 adalah ini bukan planet dari tempat lain, atau penyintas dari kelahiran sistem; sepertinya ia dibangun dari material yang dibuang oleh bintangnya sendiri saat mati," ujar Boris Gänsicke dari University of Warwick.
Jamie Williams, juga dari University of Warwick, menambahkan bahwa planet generasi kedua—dunia yang terbentuk dari material yang dilepaskan bintang saat mati—sangat jarang, dan menemukannya di sekitar katai putih benar-benar di luar dugaan. Orbit kandidat yang sangat dekat membuatnya perlahan-lahan terkikis oleh radiasi bintang katai putih. Dalam jangka panjang, planet gas raksasa itu mungkin akan menyusut drastis atau hancur sepenuhnya.
Jika terkonfirmasi, sistem ini menawarkan peluang langka untuk mempelajari planet yang sedang mengalami perubahan kimia akibat interaksi dengan sisa bintang yang mungkin membentuknya. Para peneliti menyarankan kombinasi polusi atmosfer unsur berat dan variasi kecerahan periode pendek dapat menjadi templat pencarian sistem serupa di tempat lain. Temuan ini tidak memprediksi adanya planet generasi kedua di sekitar Matahari kita di masa depan, tetapi menunjukkan bahwa jalur pembentukan tersebut mungkin secara fisik.
Dalam sekitar 6 miliar tahun, Matahari akan menghabiskan bahan bakarnya, mengembang menjadi raksasa merah, dan akhirnya runtuh menjadi katai putih—berpotensi menelan Bumi. Sistem HS 0209+0832 menunjukkan bahwa pembentukan planet dari material yang dilepaskan bintang dapat terjadi dalam kondisi tertentu. Kandidat ini masih memerlukan konfirmasi melalui observasi tambahan, tetapi bukti kimia yang ada sudah cukup untuk mengubah cara ilmuwan memandang apa yang bisa ditinggalkan bintang mati, dan bagaimana dunia baru mungkin muncul dari abu kematiannya.



