Cilandak Barat Bidik Kategori Sejahtera Benyamin S Award, Andalkan Tiga Potensi Lokal
Baca dalam 60 detik
- Kelurahan Cilandak Barat lolos ke babak final Benyamin S Award 2026 dan menargetkan kemenangan di kategori sejahtera.
- Lurah Muhammad Yusuf Rajab menjadikan Museum Basoeki Abdullah, Batik Betawi Terogong, dan Kampung Asri Banjarsari sebagai pilar utama presentasi final.
- Penilaian final berupa presentasi digelar 15 Oktober, sementara puncak penganugerahan dijadwalkan 30 Oktober 2026.

Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan, memastikan diri sebagai salah satu dari sepuluh finalis Benyamin S Award 2026 dan menargetkan kemenangan di kategori sejahtera. Lurah Muhammad Yusuf Rajab menyatakan optimismenya usai menggelar Festival Pesona Cilandak Barat pada Jumat (9/10), sebuah acara yang sekaligus menjadi panggung perkenalan potensi wilayah kepada tim penilai.
Kompetisi ini diikuti 267 kelurahan se-DKI Jakarta, sehingga posisi sepuluh besar menempatkan Cilandak Barat pada persaingan yang ketat. Benyamin S Award sendiri merupakan ajang tahunan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang menilai kelurahan dari empat dimensi: bersih, nyaman, indah, dan sejahtera. Dari keempatnya, kategori sejahtera menjadi fokus utama Cilandak Barat karena menyoroti potensi lokal yang berdampak langsung pada perekonomian warga โ mulai dari pengembangan budaya, pariwisata, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Yusuf, pihaknya tidak sekadar mengejar trofi. Ia memposisikan Cilandak Barat sebagai kandidat role model destinasi wisata baru yang menopang pertumbuhan ekonomi kreatif. "Kami siap menjadi cikal bakal destinasi wisata baru dengan tiga keunggulan," ujarnya, merujuk pada tiga aset unggulan yang akan dipresentasikan di hadapan dewan juri.
"Jangka menengah dan jangka panjangnya kita bisa bekerja sama dengan pihak-pihak UMKM dan juga dari teman-teman perusahaan lainnya bahwa kita harus mengangkat keunggulan-keunggulannya." โ Muhammad Yusuf Rajab, Lurah Cilandak Barat
Tiga aset yang dimaksud adalah Museum Basoeki Abdullah, sentra Batik Betawi Terogong, dan Kampung Asri Banjarsari. Ketiganya mewakili kombinasi sektor budaya, kerajinan, dan lingkungan yang dinilai mampu menarik kunjungan sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal. Strategi ini sejalan dengan arah pembangunan Jakarta yang ingin bertransformasi menjadi kota global โ inklusif, berdaya saing, dan tetap berakar pada budaya Betawi.
Yang membedakan Cilandak Barat dari finalis lain adalah pendekatan kolaboratif yang ditekankan Yusuf. Ia menyebut rencana jangka pendek dimulai dari festival yang baru digelar, sementara jangka menengah dan panjang akan melibatkan pelaku UMKM serta perusahaan swasta di kawasan tersebut. Model kemitraan semacam ini berpotensi menjadi cetak biru bagi kelurahan lain yang menghadapi keterbatasan anggaran namun memiliki aset budaya dan komunitas yang kuat.
Benyamin S Award bukan hanya soal prestise. Bagi Jakarta, ajang ini berfungsi sebagai instrumen evaluasi kinerja pemerintahan tingkat kelurahan, sekaligus mendorong terciptanya ruang publik yang layak dan ekonomi warga yang bergerak. Kategori sejahtera khususnya menyasar keberlanjutan โ apakah potensi lokal yang dipamerkan mampu bertahan dan berkembang setelah penilaian berakhir, atau hanya menjadi proyek sesaat menjelang kompetisi.
Pertanyaan kritisnya: setelah 30 Oktober, apakah Cilandak Barat โ atau kelurahan mana pun yang menang โ sanggup menjaga momentum dan menjadikan potensi lokal sebagai mesin ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar bahan presentasi di atas panggung?



