Terungkap dari Swafoto di Instagram: Spesies Baru Teratai Raksasa Ditemukan di Hutan Kolombia, Langsung Berstatus Kritis
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti mengonfirmasi Victoria colombiana sebagai spesies teratai raksasa keempat yang diketahui sains, setelah seorang fotografer Amerika tanpa sengaja mengunggah gambar tanaman tersebut ke media sosial.
- Populasi di alam liar diperkirakan hanya tersisa 30–50 individu, memicu upaya konservasi darurat dan pengajuan status Red List IUCN.
- Penemuan ini menegaskan bahwa keanekaragaman hayati tropis masih menyimpan banyak spesies yang belum teridentifikasi, sekaligus menyoroti peran teknologi digital dalam ekspedisi ilmiah.

Sebuah unggahan Instagram yang tampak biasa berujung pada penemuan spesies teratai raksasa baru di pedalaman hutan Kolombia. Spesies yang diberi nama Victoria colombiana itu dinyatakan sebagai spesies keempat dari genus Victoria yang diketahui ilmu pengetahuan, namun populasinya di alam liar sangat kecil sehingga langsung masuk kategori terancam kritis.
Penemuan ini bermula tiga tahun lalu ketika Carlos Magdalena, ahli teratai dari Royal Botanic Gardens, Kew, melihat foto seseorang berenang di antara dedaunan besar di Sungai Inírida, Guainía. Foto itu diambil oleh Jeremiah Harris, pemilik pembibitan tanaman karnivora di Amerika Serikat, yang semula mengira tanaman tersebut adalah Victoria amazonica yang lebih umum. Magdalena curiga karena wilayah sebaran alami V. amazonica tidak mencakup Sungai Inírida. Ia kemudian menghubungi Harris untuk melacak lokasi persisnya, menganalisis citra satelit selama bertahun-tahun, dan mengurus perizinan ekspedisi.
Ekspedisi selama lima hari ke hutan hujan yang tergenang melibatkan tim dari Jardín Botánico Bogotá dan anggota komunitas adat setempat. Setelah berhari-hari menyusuri rimba tanpa hasil, rombongan nyaris kembali dengan tangan kosong. Namun, berkat petunjuk seorang sopir, mereka berlayar semalaman dalam gelap menuju sebuah danau kecil. Hanya tersisa 10 jam sebelum penerbangan pulang, dan di sanalah mereka menemukan populasi teratai tersebut. “Saya sampai menitikkan air mata,” kata Magdalena. “Ini benar-benar menakjubkan.”
“Teratai raksasa mengungkap rahasianya perlahan. Kita merasa sudah tahu segalanya, padahal kenyataannya masih banyak yang harus ditemukan dan dilindungi.” — Carlos Magdalena, Royal Botanic Gardens, Kew
Analisis taksonomi yang dilakukan Maarten Christenhusz menegaskan bahwa spesimen ini berbeda dari tiga spesies Victoria lainnya. Menurut Christenhusz, penemuan spesies baru memang kerap terjadi, tetapi jarang yang sebesar, sespektakuler, dan seikonik ini. “Fakta bahwa teratai ini bisa dilihat dari luar angkasa menjadi pengingat betapa banyak kehidupan di Bumi yang belum kita ketahui,” ujarnya.
Harris, yang turut menjadi penulis studi, mengaku teman-temannya sering menggodanya karena hobi berfoto dengan tanaman. “Saya sangat gembira, benar-benar senang luar biasa,” tuturnya. Magdalena menambahkan bahwa temuan ini merupakan buah kolaborasi antara pengetahuan adat, keahlian hortikultura, serta bantuan media sosial dan teknologi.
Meski baru terungkap, Victoria colombiana sudah menghadapi ancaman kepunahan. Upaya konservasi kini diarahkan pada penetapan status resmi IUCN, pengumpulan benih untuk budidaya di Bogotá, dan kemungkinan membangun populasi alami di danau yang lebih mudah diakses di wilayah adat. Jika berhasil, tanaman ini berpeluang dikembangkan di Kew Gardens.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin penting. Negara kepulauan dengan hutan tropis terluas ketiga di dunia ini masih menyimpan kekayaan flora yang belum terdokumentasi, dari Kalimantan hingga Papua. Metode yang dipakai Magdalena—memadukan citra satelit, media sosial, dan kearifan lokal—bisa diadopsi untuk mempercepat inventarisasi spesies di kawasan konservasi nasional. Tantangannya sama: memastikan penemuan tidak berakhir menjadi catatan museum, melainkan langkah nyata perlindungan habitat.
Pertanyaan besarnya, apakah teknologi digital akan semakin sering mengantar ilmuwan pada spesies tersembunyi, atau justru ekspansi manusia yang mempercepat kepunahan mereka sebelum sempat ditemukan?



