Trump Klaim 'Baik-Baik Saja' di Tengah Rekor Terburuk: Dukungan Hispanik Anjlok, Bom AS Ditarik dari Pangkalan Inggris
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump membantah laporan penurunan elektabilitas dengan menyebutnya sebagai 'fake news' saat meninggalkan Gedung Putih menuju Nebraska.
- Survei Reuters mencatat persetujuan publik terhadap Trump hanya 32%, sementara NBC News/Telemundo menunjukkan 59% pemilih Latin menginginkan Kongres dikuasai Demokrat.
- Pernyataan kontroversial soal pemindahan pesawat pengebom dari pangkalan udara Inggris dan ancaman terhadap Iran menambah ketegangan kebijakan luar negeri AS.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan dirinya dalam kondisi “baik-baik saja” ketika ditanya soal hasil survei terbaru yang memperlihatkan penurunan dukungan signifikan, terutama dari komunitas Hispanik. Pernyataan itu disampaikan sebelum ia bertolak ke Nebraska, Minggu (5/10/2026), dalam sebuah sesi tanya jawab singkat dengan awak media di pangkalan udara Andrews.
Alih-alih mengakui tren politik yang memburuk, Trump justru menyerang pewawancara dari CNN dengan menyebutnya sebagai “fake news”. Sikap defensif ini muncul setelah dua lembaga survei independen merilis data yang saling menguatkan: elektabilitas presiden ke-47 itu berada di titik terendah sepanjang karier politiknya.
Reuters mencatat tingkat persetujuan Trump hanya 32%, angka terburuk yang pernah tercatat dalam serangkaian jajak pendapat nasional. Yang lebih mengkhawatirkan bagi Partai Republik, hanya 24% warga Amerika keturunan Hispanik yang menilai kinerja Trump positif. Sementara itu, survei NBC News/Telemundo menemukan 59% pemilih Latin kini lebih memilih Kongres dikuasai Demokrat—dua kali lipat dibandingkan dua tahun lalu.
Penurunan dukungan dari kelompok Hispanik menjadi pukulan telak bagi strategi elektoral Partai Republik menjelang pemilu sela 2026. Kelompok ini merupakan demografi yang tumbuh paling cepat di Amerika Serikat dan telah menjadi sasaran utama kampanye Trump dalam dua siklus pemilu terakhir. Namun, kebijakan imigrasi yang keras dan retorika anti-imigran tampaknya mulai menggerus basis dukungan tersebut.
Dalam sesi yang sama, Trump juga menyinggung upaya pemindahan pesawat pengebom strategis dari sebuah pangkalan udara di Inggris. “Ada beberapa ancaman, dan daripada menggoda musuh, kami akan menangkap dan mengalahkan musuh. Tapi mengapa harus kita biarkan mereka di sana?” ujarnya, tanpa merinci jenis ancaman yang dimaksud.
“Saya tidak bisa memberi tahu Anda soal itu, tetapi jika mereka melakukannya, mereka akan sangat menderita,” kata Trump menanggapi pertanyaan apakah Iran berpotensi mengerahkan drone tempur ke Inggris.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi di kalangan pengamat kebijakan luar negeri tentang meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Sejumlah analis menilai langkah penarikan pesawat pengebom dari pangkalan Inggris bisa menjadi sinyal bahwa AS tengah mengalihkan fokus militernya ke kawasan Indo-Pasifik, atau justru memperkuat posisi di Timur Tengah menjelang kemungkinan konfrontasi baru.
Bagi Indonesia, dinamika politik AS ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas kawasan. Sebagai mitra dagang dan keamanan strategis, Jakarta perlu mencermati arah kebijakan luar negeri Washington yang cenderung fluktuatif. Ketidakpastian politik di AS dapat memengaruhi negosiasi perdagangan, kerja sama pertahanan, serta komitmen terhadap isu perubahan iklim—terutama setelah pemerintahan Trump berulang kali menarik diri dari kesepakatan global.
Dengan elektabilitas yang terus merosot dan basis pemilih tradisional mulai goyah, Partai Republik menghadapi dilema: mempertahankan loyalitas terhadap Trump atau mencari figur baru yang lebih elektabel. Sementara itu, pernyataan presiden soal Iran dan pangkalan Inggris menambah lapisan ketidakpastian dalam lanskap geopolitik yang sudah rapuh. Akankah penurunan popularitas ini mendorong perubahan strategi menjelang pemilu sela, atau justru memperkuat pendekatan konfrontatif yang selama ini menjadi ciri khas kepemimpinannya?



