Maung Garuda Putih Serentak untuk Menteri dan Wamen, Danantara Siapkan Kejutan 20 Oktober
Baca dalam 60 detik
- Seluruh menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih akan menerima kendaraan dinas Pindad Maung Garuda putih secara serentak.
- CTO Danantara Sigit Puji Santosa mengisyaratkan distribusi bisa meluas ke pejabat lain, dengan pengumuman pada 20 Oktober.
- Kebijakan ini menegaskan komitmen Prabowo pada produksi dalam negeri, meski spesifikasi unit menteri berbeda dari kendaraan presiden.

Pemerintah memastikan seluruh menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih akan menerima kendaraan dinas operasional Pindad Maung Garuda berwarna putih dalam waktu bersamaan. Kepastian ini menandai tahap baru program pengadaan mobil dinas nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto sejak awal masa jabatannya.
Kebijakan tersebut bukan sekadar pergantian armada. Langkah ini menjadi ujian bagi kapasitas industri pertahanan dalam negeri, khususnya PT Pindad, untuk memasok kendaraan taktis bagi jajaran eksekutif dalam jumlah besar dan tenggat ketat. Jika berjalan mulus, proyek ini berpotensi menjadi preseden bagi pengadaan kendaraan pemerintah di masa depan.
Chief Technology Officer Badan Pengelola Investasi Danantara, Sigit Puji Santosa, mengungkapkan bahwa cakupan penerima mobil buatan lokal itu kemungkinan bertambah. Ia menyebut akan ada pengumuman penting pada 20 Oktober mendatang. "Spesifikasinya berbeda dengan kendaraan presiden, cukup banyak perbedaannya. Tapi tunggu 20 Oktober, akan ada kejutan," ujarnya dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Rabu (7/10), seperti dikutip Antara. Sigit juga menegaskan komitmen penyeragaman armada operasional pejabat, dengan menyatakan bahwa cakupannya "bahkan lebih dari itu nanti."
Instruksi penggunaan kendaraan buatan dalam negeri pertama kali disampaikan Prabowo usai pelantikannya pada Oktober 2024. Ia memerintahkan menteri, wakil menteri, hingga pejabat eselon I beralih ke Pindad Maung. Kebijakan itu mulai diterapkan secara resmi pada 5 Oktober 2026, dengan sejumlah menteri koordinator telah menggunakan kendaraan tersebut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin) termasuk di antara pengguna awal. Airlangga menyatakan distribusi kendaraan dari PT Pindad masih berlangsung secara bertahap.
Secara desain dan fitur dasar, unit Maung Garuda untuk para menteri mengadopsi basis serupa Maung MV3 Garuda Limousine milik Presiden Prabowo. Perbedaan terletak pada penyesuaian operasional; salah satunya, kendaraan menteri tidak dilengkapi sunroof seperti pada versi kepresidenan. Perbedaan ini menegaskan adanya stratifikasi fasilitas antara kendaraan presiden dan pembantu utamanya, meski tetap dalam satu lini produk.
"Spesifikasinya beda dong (dengan presiden), cukup banyak. Tapi nanti mungkin tunggu 20 Oktober ya, nanti akan ada kejutan," ujar Sigit Puji Santosa, CTO Danantara.
Dari sisi anggaran, pengadaan serentak ini berpotensi menyerap dana signifikan. Namun, pemerintah tampaknya ingin menegaskan bahwa belanja tersebut mengalir ke industri dalam negeri, bukan impor. PT Pindad sebagai produsen diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi dan menciptakan efek berganda bagi rantai pasok komponen lokal. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi contoh nyata kemandirian alutsista dan otomotif nasional.
Meski demikian, publik menanti transparansi spesifikasi, biaya per unit, dan mekanisme pengadaan. Sebab, penggunaan kendaraan dinas kerap menjadi sorotan ketika anggaran negara tengah menghadapi tekanan. Dukungan terhadap produk lokal tetap perlu diimbangi akuntabilitas agar tidak menimbulkan polemik baru.
Ke depan, pernyataan Sigit tentang "kejutan" pada 20 Oktober memicu spekulasi: apakah distribusi akan merambah pejabat eselon I, kepala daerah, atau bahkan lembaga negara lain? Jika benar meluas, ini akan menjadi salah satu penyeragaman armada terbesar dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Publik menunggu apakah langkah ini konsisten dengan semangat efisiensi dan kemandirian yang digaungkan Prabowo, atau justru memunculkan pertanyaan baru soal prioritas belanja negara.



