Menuju Pemilu AS 3 November: Trump Kampanye di Nebraska, Demokrat Diprediksi Kuasai Kongres
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump memulai rangkaian kampanye di Nebraska menjelang pemilu sela 3 November, di tengah aproval rating yang merosot dan krisis keterjangkauan.
- Editor Washington The Guardian, Ankita Rao, menilai ada jurang pemisah antara Trump dan pendukungnya karena ia dianggap berpihak pada korporasi dan big tech.
- Demokrat diprediksi memenangkan DPR dan kemungkinan Senat, namun mayoritas besar di kedua kamar diperlukan untuk menjadi penyeimbang nyata.

Donald Trump akan memulai rangkaian kampanye di Nebraska pada Senin (5/10) waktu setempat, menandai dimulainya blitz rapat umum menjelang pemilihan sela AS pada 3 November. Langkah ini diambil saat tingkat persetujuan presiden terus merosot, gerakan Maga menunjukkan tanda-tanda perpecahan, dan krisis keterjangkauan—yang diperparah perang tidak populer melawan Iran—membebani kehidupan sehari-hari warga Amerika.
Meski demikian, pendukung Trump tetap menjadi salah satu kelompok pemilih yang paling termotivasi. Partai Republik juga memiliki kas jauh lebih besar untuk menggerakkan basis mereka. Di Nebraska, kecuali satu distrik "titik biru" di Omaha, Partai Republik mengklaim dukungan mereka stabil di negara bagian yang tiga kali dengan mudah dimenangkan Trump.
Dalam wawancara dengan First Edition, editor Washington The Guardian, Ankita Rao, mengungkapkan bahwa banyak warga Amerika merasa hidup mereka ditentukan oleh kelas elite yang melampaui partai politik—sebuah sentimen yang ia ringkas dengan istilah "kelas Epstein" yang dipopulerkan Senator Demokrat Jon Ossoff. Mereka lelah dengan krisis biaya penitipan anak, layanan kesehatan, pangan, dan bahan bakar. Kepercayaan pada institusi, dari rumah sakit hingga sekolah, juga tergerus.
Rao mencatat adanya dislokasi serius antara Trump dan para pendukungnya. Insting politik Trump yang sebelumnya tajam mulai goyah, sebagian karena ia tidak mampu melihat melampaui obsesinya sendiri—entah itu ballroom, perang di Iran, atau pertumbuhan AI yang tak terkendali. "Ada jurang pemisah yang serius," ujarnya. Seorang pemilih di Ohio bahkan berkomentar sinis: "Maaf, saya tidak peduli siapa nama yang tertera di Kennedy Center."
"His previously impressive political instincts have faltered partly because he can't see beyond his own fixations." — Ankita Rao, Editor Washington The Guardian
Kekhawatiran utama pembaca adalah intervensi pemilu. Trump telah menandatangani sejumlah perintah eksekutif yang memperketat kontrol atas metode pemungutan suara, dan dalam wawancara dengan majalah Time pekan lalu, ia menolak menutup kemungkinan mendeklarasikan darurat nasional terkait pemilu. "Kami siap menghadapi apa pun," kata Rao. Tantangan hukum di sejumlah daerah dinilainya "hampir tak terhindarkan". Ia menyebut timnya telah memetakan negara bagian yang sistem pemilunya dikendalikan penuh oleh Partai Republik dan siap bergerak jika terjadi kejanggalan.
Ketakutan akan kecurangan pemilu tinggi di komunitas yang dikunjungi reporter The Guardian. "Kami mendengar ini sering dari kalangan Demokrat yang khawatir suara mereka tidak dihitung, dan lebih gugup menggunakan surat suara pos," ujar Rao. Namun, ia menduga hal ini justru dapat meningkatkan partisipasi. Data awal di Florida, negara bagian yang sangat merah, menunjukkan pendaftaran pemilih Demokrat sudah sangat tinggi. "Ada kesadaran bahwa 'kita harus datang berbondong-bondong dan memastikan semua kemenangan ini sangat menentukan, sehingga tidak ada yang bisa mempertanyakannya'."
Rao enggan membuat prediksi, tetapi jika pemilu digelar besok, "tampaknya Demokrat akan benar-benar memenangkan DPR dan kemungkinan besar Senat". Meski demikian, ia mengingatkan bahwa mekanisme pemungutan suara berarti diperlukan mayoritas menentukan di kedua kamar untuk menjadi penyeimbang nyata terhadap Trump. Ia juga menambahkan catatan penting bahwa Trump telah menyingkirkan otorisasi kongres menjelang perang Iran.
Meski demikian, Rao memperkirakan akan ada gelombang investigasi pasca-pemilu, dimulai di DPR dan kemudian membutuhkan Senat untuk melanjutkannya. Misalnya, sudah ada seruan untuk menyelidiki terungkapnya bahwa seorang oligark Rusia membiayai sebagian pernikahan Donald Trump Jr. di Bahama.
Pertanyaan besar lainnya adalah bagaimana sosialis demokrat akan memengaruhi kebijakan setelah pemilu. Rao mengakui ini adalah "pertanyaan besar" karena kandidat progresif menangkap antusiasme pemilih yang mendambakan perubahan radikal. Meski jumlah sosialis demokrat yang terpilih kemungkinan hanya segelintir, mereka bisa menjadi "kelompok yang sangat vokal". Belum jelas bagaimana mereka akan bertindak di Kongres. Rao menunjuk Alexandria Ocasio-Cortez sebagai contoh: "Dia sangat jelas tentang afiliasinya saat mencalonkan diri, tetapi dia belum menjadi tipe legislator yang hadir untuk menghentikan partai melakukan hal-hal tertentu. Dia jauh lebih strategis dan kolaboratif dengan Demokrat mapan."
Di luar dinamika politik, Rao juga menyoroti militerisasi Washington DC yang ia rasakan sendiri saat bersepeda ke kantor. "Ini menambah lapisan ketakutan halus. Saya tidak secara aktif takut berjalan di DC, tetapi rasanya segala sesuatu bisa meningkat dengan cepat." Namun, ia melihat kehadiran militer justru tidak menyurutkan semangat pemilih. "Di tempat-tempat dengan kehadiran militer—Minneapolis, LA, atau DC—itu kota-kota yang vokal dan sebagian besar Demokrat, orang-orang tidak gentar. Jumlah papan nama di halaman rumah dua kali lipat. Itu bentuk pembangkangan."
Bagi Indonesia, pemilu sela AS ini memiliki implikasi tidak langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan kebijakan luar negeri. Ketidakpastian politik di Washington dapat memengaruhi pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah dan arus investasi. Selain itu, arah kebijakan perdagangan dan iklim AS akan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terutama jika terjadi perubahan kendali Kongres yang memengaruhi kebijakan energi dan perdagangan.
Dengan kampanye yang baru dimulai dan berbagai dinamika yang belum pasti, pertanyaan kuncinya adalah apakah Demokrat mampu mengubah ketidakpuasan publik menjadi kemenangan nyata, dan apakah Trump akan menghormati hasilnya. Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang jelas: pemilu 3 November akan menjadi ujian bagi ketahanan demokrasi Amerika di tengah polarisasi yang semakin dalam.



