Avengers: Endgame Kembali Rebut Takhta Film Terlaris Dunia dan Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Rilis ulang Avengers: Endgame mendorong pendapatan globalnya melampaui Avatar dengan selisih tipis US$2 juta.
- Di Indonesia, Endgame kembali memuncaki daftar film terlaris sepanjang masa setelah sempat digeser Agak Laen: Menyala Pantiku.
- Strategi Disney dan Marvel ini menjadi pemanasan menuju Avengers: Doomsday yang dijadwalkan tayang Desember 2026.

Avengers: Endgame (2019) kembali mengukuhkan posisinya sebagai film terlaris sepanjang masa, baik di pasar global maupun Indonesia, setelah Disney dan Marvel merilis versi Encore. Langkah ini mengubah peta box office yang sempat dikuasai Avatar (2009) selama beberapa tahun terakhir.
Menurut laporan Variety dan data Box Office Mojo, pendapatan global Endgame kini mencapai US$2,925 miliar, sedikit melampaui Avatar yang mengumpulkan US$2,923 miliar. Selisih tipis ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di puncak daftar film terlaris, di mana penayangan ulang menjadi senjata untuk mengerek pendapatan.
Sejarah mencatat, Avatar sempat berkuasa selama sepuluh tahun sebelum Endgame menyalipnya pada 2019. Namun, pada 2021, Avatar kembali ke posisi teratas berkat perilisan ulang menjelang sekuelnya, Avatar: The Way of Water. Kini, Endgame membalas dengan strategi serupa.
Di Indonesia, data Cinepoint menunjukkan Endgame kembali memimpin dengan 11.843.957 penonton. Film ini merebut posisi yang sempat diambil Agak Laen: Menyala Pantiku (2025) yang kini berada di peringkat kedua. Sebelum Agak Laen tayang pada November 2025, Endgame sudah mengantongi 10.976.338 penonton.
Langkah Disney dan Marvel merilis ulang Endgame bukan sekadar mengejar rekor. Ini adalah bagian dari strategi membangun antusiasme menjelang Avengers: Doomsday yang akan tayang Desember 2026. Russo Brothers kembali dipercaya mengarahkan, dengan Robert Downey Jr. dan Chris Evans turut membintangi.
"Encore berfungsi sebagai jembatan cerita menuju Doomsday, meski tidak mengubah alur utama Endgame," ujar sumber industri yang memahami proyek tersebut.
Versi Encore sendiri tidak mengubah adegan, editing, atau pemain. Hanya ada empat tambahan adegan di bagian akhir yang berfungsi sebagai penghubung ke kisah Doomsday. Bagi penggemar berat, tambahan ini menjadi daya tarik untuk kembali ke bioskop.
Fenomena ini menyoroti bagaimana industri film global semakin mengandalkan penayangan ulang untuk mempertahankan posisi di box office. Bagi Indonesia, persaingan antara film Hollywood dan produksi lokal seperti Agak Laen menunjukkan pasar yang dinamis dan penonton yang semakin kritis.
Ke depan, apakah strategi rilis ulang akan terus menjadi alat ampuh untuk mendulang pendapatan, atau justru menggerus kreativitas? Yang jelas, Avengers: Doomsday akan menjadi ujian berikutnya bagi Marvel untuk mempertahankan dominasinya.



