Skydance Angkat Bicara Soal 'Barbie 2': Terlalu Dini, Negosiasi Masih Buntu
Baca dalam 60 detik
- Ynon Kreiz, co-CEO Skydance, menyatakan pembahasan sekuel Barbie belum masuk tahap pengambilan keputusan.
- Kebuntuan negosiasi bayaran Margot Robbie dan Ryan Gosling serta penolakan David Zaslav menjadi penyebab utama proyek ini mandek.
- Hak produksi akan kembali ke Mattel pada Desember jika Warner Bros. Discovery gagal mencapai kesepakatan dengan para bintang.

Ynon Kreiz, yang baru saja ditunjuk sebagai co-CEO Skydance, menegaskan bahwa pembicaraan mengenai sekuel Barbie belum memasuki tahap yang memungkinkan pengumuman resmi. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers perdana Skydance pada Selasa (6/10), beberapa hari setelah ia meninggalkan jabatan CEO Mattel. Alih-alih memberi kepastian, Kreiz hanya menjawab singkat bahwa topik tersebut masih terlalu dini untuk dibahas.
Jawaban tersebut kontras dengan ekspektasi publik. Sejak merger Paramount Skydance dan Warner Bros. Discovery rampung, penggemar berharap ada kejelasan mengenai kelanjutan film yang meraup lebih dari 1,4 miliar dolar AS secara global pada 2023 itu. Namun, sinyal dari internal studio justru menunjukkan bahwa proyek ini masih tersandera oleh perhitungan bisnis yang belum tuntas.
Presiden sekaligus Chief Content Officer Mattel Studios, Robbie Brenner, sebelumnya mengakui bahwa pihaknya tetap berharap sekuel live-action akan terwujud. Meski demikian, ia menegaskan fokus perusahaan saat ini teralih pada proyek animasi Barbie yang digarap bersama Chris Meledandri. "Kami semua ingin melihat sekuelnya. Saya pun ingin. Suatu saat nanti pasti akan ada," ujarnya dalam forum Toronto International Film Festival, seraya menambahkan bahwa pengembangan properti Barbie lainnya tetap berjalan.
Kebuntuan utama terletak pada negosiasi bayaran. Laporan The New York Times mengungkap bahwa diskusi antara eksekutif studio dan perwakilan Margot Robbie serta Ryan Gosling telah berlangsung berbulan-bulan tanpa titik temu. Warner Bros. Discovery disebut menawarkan potongan laba jika film mencapai target box office tertentu, plus kenaikan bayaran di muka. Namun, CEO David Zaslav menilai paket tersebut terlalu royal dan menolak menandatanganinya. Tawaran terakhir pada Mei lalu pun ditolak, dan hingga kini belum ada kontra-tawaran baru dari para aktor.
"Kami memiliki perjanjian hak dengan Mattel dan telah mengajukan sejumlah tawaran besar untuk menyelesaikan kesepakatan film Barbie berikutnya. Sayangnya, kami belum mencapai kesepakatan sejauh ini," ujar co-chair studio, Pam Abdy dan Michael De Luca, dalam pernyataan resmi.
Di balik layar, sutradara Greta Gerwig dan pasangannya, Noah Baumbach, dikabarkan terus menyusun konsep untuk melanjutkan kisah Barbie. Visi Gerwig yang menggabungkan estetika high heel dan Birkenstock menjadi titik balik yang meyakinkan Mattel untuk memberikan lampu hijau pada film pertama. Keberhasilan itu disebut Brenner sebagai momen yang melegitimasi Mattel Studios di industri film, membuktikan bahwa perusahaan mainan tersebut berani mengambil risiko kreatif.
Bagi pasar hiburan global, penundaan ini menjadi ujian bagi strategi Warner Bros. Discovery dalam mengelola waralaba bernilai tinggi. Ketergantungan pada bintang kelas A memang mendongkrak daya tarik, tetapi juga memperbesar biaya dan memperumit negosiasi. Jika kesepakatan tak tercapai sebelum Desember, Mattel berpotensi mengambil alih kendali dan mengembangkan sekuel melalui jalur yang berbeda. Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan apakah Barbie 2 tetap menjadi prioritas atau justru menjadi proyek yang tertunda tanpa batas waktu.



