Digger Gagal di Box Office, Warner Bros dan Tom Cruise Tanggung Kerugian Besar
Baca dalam 60 detik
- Film Digger hanya meraup $20 juta secara global pada akhir pekan pembukaan, jauh di bawah ekspektasi.
- Dengan biaya produksi dan pemasaran mencapai $250 juta, kerugian yang ditanggung bisa sangat besar.
- Kegagalan ini menjadi pukulan telak bagi Warner Bros yang baru saja diakuisisi Paramount Skydance.

Film terbaru arahan Alejandro G Iñárritu, Digger, mengalami kegagalan besar di box office dengan hanya mengumpulkan $20 juta secara global pada akhir pekan pembukaannya. Angka ini sangat mengecewakan mengingat biaya produksi yang dilaporkan mencapai $150 juta dan tambahan $100 juta untuk pemasaran. Kinerja ini menempatkan Tom Cruise dalam salah satu debut terburuk sepanjang kariernya, sekaligus menjadi catatan pahit bagi Warner Bros sebagai studio mandiri sebelum diakuisisi.
Di pasar Amerika Utara, Digger hanya menghasilkan $8 juta, sementara penjualan internasional dari 74 pasar mencapai $12 juta. Padahal, Cruise biasanya menjadi magnet kuat di luar negeri. Film ini mendapat ulasan buruk dari kritikus yang menyebutnya sebagai satire perubahan iklim yang dipaksakan, meskipun penampilan berlebihan Cruise sedikit lebih diterima. Penonton memberikan nilai CinemaScore "C+", menandakan ketidakpuasan umum.
Kegagalan Digger terjadi tepat ketika Paramount Skydance merampungkan akuisisi Warner Bros Discovery senilai $110 miliar. Paramount dijadwalkan menutup merger pada Selasa, dan PHK massal diperkirakan menyusul. David A Gross, konsultan film yang menerbitkan newsletter tentang box office, menilai bahwa manajemen baru akan segera menentukan arah produksi Warner Bros ke depan. "Paramount tidak memiliki rekam jejak dalam membuat film auteur berbiaya besar seperti ini – strategi itu tampaknya sudah berakhir," tulisnya.
Sebelumnya, Digger diposisikan sebagai kandidat kuat musim penghargaan, mirip dengan One Battle After Another yang dirilis tahun lalu. Film tersebut juga merupakan rilisan politis dengan anggaran besar untuk sutradara ternama, namun berhasil meraup $213,2 juta secara global dan memenangkan Oscar untuk Film Terbaik. Kontras ini menegaskan betapa jauhnya Digger dari harapan.
Bagi Tom Cruise, ini adalah kemunduran setelah satu dekade sukses dengan waralaba Mission: Impossible dan Top Gun: Maverick. Aktor berusia 64 tahun itu terakhir kali mengalami kegagalan box office pada 2017 melalui The Mummy, yang meski mendapat $409,2 juta global, dianggap mengecewakan karena biaya produksinya $195 juta. Sementara itu, Avengers Endgame: Encore yang sempat memuncaki box office pekan lalu turun ke peringkat tujuh dengan $4,4 juta di domestik dan $14,4 juta di luar negeri. Namun, rilis ulang Marvel ini berhasil mengembalikan posisi Endgame sebagai film terlaris sepanjang masa (tanpa penyesuaian inflasi) dengan total $2,9255 miliar, menggeser Avatar yang mengumpulkan $2,9237 miliar.
Ke depan, masa depan film-film beranggaran besar dengan visi auteur di bawah naungan Paramount-Warner Bros menjadi tanda tanya. Apakah kegagalan Digger akan mengakhiri era eksperimen studio terhadap proyek ambisius, atau justru menjadi pelajaran untuk strategi yang lebih matang? Yang jelas, industri film global sedang menyaksikan pergeseran prioritas di tengah tekanan finansial dan perubahan lanskap kepemilikan studio.



