Trump Siap Telepon Putin Bahas Kematian Akibat Dugaan Pes di Siberia, CDC Pantau Ketat
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump mengagendakan panggilan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia yang diduga terpapar pes.
- CDC menyatakan tengah memantau laporan kasus pes pneumonik di Irkutsk, namun menegaskan belum ada indikasi ancaman meluas ke Amerika Serikat.
- WHO menilai risiko bagi publik rendah, sementara dunia menanti hasil investigasi resmi dan langkah diplomatik kedua negara.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan akan segera melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin menyusul kematian seorang pekerja laboratorium di Siberia yang diduga disebabkan oleh wabah pes. Rencana komunikasi itu disampaikan Trump kepada awak media di Gedung Putih, Selasa (6/10/2026), sehari setelah ia menawarkan bantuan AS kepada Moskow.
Menurut Trump, panggilan tersebut dijadwalkan "dalam waktu dekat". Ia juga mengungkapkan bahwa diskusi mendalam sedang berlangsung dan hasilnya akan dilaporkan ke publik pada hari berikutnya. Pernyataan ini muncul ketika dunia kesehatan global mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap insiden di wilayah Irkutsk, Rusia.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS melalui akun X menyatakan pihaknya mengetahui dan memantau dengan saksama laporan dugaan kasus pes pneumonik di Irkutsk yang mengakibatkan satu kematian. Meski demikian, CDC menegaskan bahwa situasi seputar kasus tersebut masih belum terkonfirmasi. Pes pneumonik dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan saat kontak erat.
CDC menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada indikasi ancaman yang lebih luas terhadap Amerika Serikat. Lembaga itu bersama mitra antar-lembaganya menyatakan siap dan akan terus memantau perkembangan. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada CNBC mengatakan bahwa berdasarkan informasi yang tersedia, risiko terhadap masyarakat umum dinilai rendah.
Insiden ini menjadi sorotan karena melibatkan tenaga laboratorium, yang biasanya memiliki akses terhadap patogen berbahaya. Kematian akibat pes, meski jarang terjadi di era modern, tetap memicu kekhawatiran akan potensi penyebaran. Pes sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan dapat bermanifestasi dalam beberapa bentuk, termasuk pes pneumonik yang paling mematikan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini patut dicermati meskipun risiko langsungnya kecil. Sebagai negara dengan mobilitas internasional tinggi, Indonesia memiliki kepentingan untuk memastikan sistem deteksi dini penyakit menular tetap waspada. Kementerian Kesehatan RI belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus ini, namun pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 telah membangun infrastruktur surveilans yang lebih baik.
Dari sisi geopolitik, pembicaraan Trump-Putin tentang isu kesehatan ini bisa menjadi jembatan di tengah ketegangan hubungan kedua negara akibat perang Ukraina. Trump sebelumnya menyatakan bahwa Putin adalah sosok yang bisa diajak bekerja sama. Namun, apakah dialog ini akan menghasilkan kerja sama konkret atau hanya bersifat simbolis, masih menunggu hasil panggilan tersebut.
Yang jelas, kasus di Siberia ini mengingatkan bahwa ancaman penyakit menular tidak mengenal batas negara. Dunia menanti konfirmasi resmi dari otoritas Rusia dan langkah lanjutan dari komunitas kesehatan global. Apakah ini akan menjadi peringatan serius atau hanya insiden terisolasi, dalam beberapa hari ke depan akan terjawab.



