74 Tahun Indonesia-Jerman: Airlangga Pede Jerman Bakal Genjot Investasi di Sektor Energi dan Semikonduktor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menandai 74 tahun hubungan diplomatik dengan Jerman sebagai pijakan memperluas kerja sama ekonomi yang lebih konkret.
- Fokus utama diarahkan pada transisi energi, ekosistem kendaraan listrik, semikonduktor, dan pengembangan SDM vokasi.
- Dengan nilai perdagangan bilateral 6,11 miliar dollar AS dan lebih dari 250 perusahaan Jerman beroperasi, Indonesia mengejar realisasi investasi baru.

Pemerintah Indonesia menempatkan Jerman sebagai mitra strategis utama dalam peta ekonomi global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa peringatan 74 tahun hubungan diplomatik kedua negara, yang akan genap 75 tahun pada 2027, menjadi titik tolak untuk mendorong kerja sama ekonomi yang lebih nyata, bukan sekadar seremoni.
Dalam sambutan pada perayaan German Unity Day 2026 di Jakarta, Jumat (2/10/2026), Airlangga menekankan bahwa Jerman bukan hanya mitra dagang, melainkan juga sumber teknologi dan investasi yang dibutuhkan Indonesia untuk mendukung transformasi industri dalam negeri. "Tahun ini menandai 74 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jerman, dan tahun depan kita akan memperingati hari jadi ke-75 hubungan bilateral kita," ujarnya melalui siaran pers, Minggu (4/10/2026).
Momentum ini diperkuat oleh kunjungan kenegaraan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Indonesia pada Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menyepakati penguatan kemitraan di sektor ekonomi, investasi, transisi energi, pendidikan, dan ketenagakerjaan. Airlangga menyebut sejumlah mekanisme bilateral seperti Joint Economic and Investment Committee akan menjadi kanal untuk merealisasikan komitmen tersebut.
Pada sektor energi dan teknologi, Indonesia melihat peluang besar untuk menggandeng Jerman dalam pengembangan energi terbarukan, infrastruktur kelistrikan, ekosistem kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, infrastruktur digital, serta pembiayaan berkelanjutan. Keterlibatan Jerman sebagai co-lead International Partners Group dalam JETP dinilai krusial untuk mempercepat investasi transisi energi bersih di Tanah Air.
"Jerman merupakan salah satu mitra ekonomi dan industri penting bagi Indonesia," kata Airlangga, seraya menegaskan bahwa kerja sama tidak berhenti pada komitmen politik.
Selain energi, pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan menjadi pintu masuk bagi tenaga kerja terampil Indonesia untuk menembus pasar kerja Jerman. Program pelatihan yang selaras dengan standar industri Jerman diharapkan mengurangi kesenjangan kompetensi dan membuka akses lebih luas bagi pekerja migran terampil.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan dengan Jerman memiliki arti strategis di tengah ketidakpastian ekonomi global. Jerman adalah ekonomi terbesar di Eropa dan pemain utama dalam rantai pasok teknologi tinggi. Ketika Indonesia mendorong hilirisasi industri dan transisi energi, kehadiran perusahaan Jerman di sektor semikonduktor dan kendaraan listrik dapat menjadi katalis untuk transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja.
Namun, realisasi kerja sama ini menghadapi tantangan klasik: daya saing iklim investasi, kepastian regulasi, dan kesiapan sumber daya manusia. Pemerintah perlu memastikan bahwa berbagai forum bilateral tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, melainkan berujung pada proyek konkret yang terukur.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Indonesia dapat mengubah kedekatan diplomatik dengan Jerman menjadi arus modal dan teknologi yang nyata. Jika berhasil, kerja sama ini bisa menjadi cetak biru bagi kemitraan serupa dengan negara Eropa lain. Jika tidak, peringatan 75 tahun tahun depan hanya akan menjadi perayaan tanpa dampak ekonomi yang signifikan.



