Investigasi Serangan flydubai Melebar: Jejak Pelatihan Terduga Pembajak di Selandia Baru Diperiksa
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Selandia Baru membuka penyelidikan atas masa tinggal 175 hari Hamam al-Hammami, terduga pembajak pesawat flydubai, yang menjalani pelatihan penerbangan di negara itu.
- Australia dan Uni Emirat Arab bergerak menyelidiki latar belakang Hammami, termasuk dua tahun kuliah teknik di Melbourne yang tidak diselesaikan dan dugaan keterkaitan dengan kelompok ekstremis.
- Insiden 30 September yang nyaris berujung bencana memicu pertanyaan tentang celah pengawasan visa pelajar dan pelatihan penerbangan global.

Penyelidikan atas upaya pembajakan pesawat flydubai menuju Tel Aviv pada 30 September lalu kian meluas. Otoritas Selandia Baru, Selasa (7/10), mengonfirmasi bahwa Hamam al-Hammami, 29, warga negara Oman yang diduga berusaha membajak pesawat dengan 182 orang di dalamnya, pernah menempuh pelatihan penerbangan di negara itu selama 175 hari, dari 30 November 2018 hingga 23 Mei 2019.
Kepolisian Selandia Baru menyatakan tengah menyelidiki aktivitas Hammami selama berada di sana. “Kami dapat mengonfirmasi bahwa kopilot tersebut berada di Selandia Baru untuk menyelesaikan sebagian pelatihan penerbangannya bagi perusahaan berbasis di Inggris yang kini tidak lagi beroperasi di Selandia Baru,” ujar Asisten Komisioner Polisi Selandia Baru, Michael Johnson, dalam pernyataannya.
Pengungkapan ini menambah lapisan baru dalam upaya sejumlah negara menelusuri jejak Hammami dan memastikan apakah ia bertindak sendiri. Sebelumnya, badan keamanan Australia membuka investigasi setelah terungkap bahwa Hammami menghabiskan sekitar dua tahun sebagai mahasiswa di Melbourne hingga 2017. Ia meninggalkan Australia tanpa menuntaskan gelar teknik di RMIT University, demikian dikonfirmasi pihak universitas.
Insiden bermula ketika Hammami, menurut jaksa agung Uni Emirat Arab, menggunakan kapak darurat dalam upaya yang disebut sebagai “serangan teroris”. Pilot Smit Machchhar ditusuk di udara. Sejumlah pejabat Israel dan kawasan menduga Hammami semula merencanakan aksi serupa pada Juli, namun menundanya.
Dalam panggilan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu lalu, Machchhar mengenang momen mengerikan itu. Setelah Hammami meninggalkan kursinya untuk salat, ia merasakan “pukulan keras” di belakang kepalanya. “Pukulan terus berdatangan… Saat itulah saya sadar ini bukan gangguan pesawat, melainkan orang lain di kokpit,” ujarnya. Meski terluka, Machchhar berhasil membuka pintu keamanan kokpit sehingga penumpang dapat melumpuhkan Hammami. Seorang pilot cadangan flydubai yang ikut dalam penerbangan itu mengambil alih kendali dan mendaratkan pesawat di bandara regional di Arab Saudi bagian barat laut, tempat Hammami ditahan.
“Kami harus memahami siapa yang berasosiasi dengan teroris ini, siapa yang memengaruhinya, dan sisa-sisa ideologi pembunuhnya yang masih ada,” kata Alex Ryvchin, co-chief executive Executive Council of Australian Jewry, yang menyerukan penyelidikan menyeluruh atas keterkaitan Hammami di Australia.
Ryvchin menyoroti keberadaan literatur ekstremis di toko buku keagamaan, kehadiran penceramah kebencian, serta kerentanan warga Australia terpapar perekrut dan dai jalanan yang menyimpang. Pernyataan ini muncul setelah Telegraph melaporkan unggahan di akun X yang kini dihapus, diduga milik Hammami, yang menyebut masa studinya di luar negeri sebagai “tahun-tahun keemasan komitmen religius” dan mengaku menjadi kurang taat setelah kembali ke Oman. Profil media sosial lain yang dihapus menampilkan foto selfie Hammami bersama remaja lain di food court pusat kota Melbourne.
Kasus ini menyoroti celah dalam sistem visa pelajar dan pelatihan penerbangan lintas negara. Hammami berpindah dari Australia ke Selandia Baru, lalu kembali ke Oman, tanpa terdeteksi sebagai ancaman. Pertanyaan pun muncul: sejauh mana lembaga pendidikan dan otoritas imigrasi memantau perubahan radikal pada individu yang pernah menempuh pelatihan teknis di negara-negara Barat?
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap program pelatihan penerbangan dan pertukaran pelajar, terutama di tengah meningkatnya mobilitas lintas batas. Otoritas bandara dan maskapai dalam negeri perlu memperkuat protokol keamanan kokpit, termasuk pelatihan awak menghadapi skenario darurat non-teknis. Kerja sama intelijen dengan negara tetangga juga krusial untuk melacak potensi radikalisasi di kalangan profesional muda.
Seiring penyelidikan yang terus bergulir di Selandia Baru, Australia, dan UEA, pertanyaan besarnya: apakah ada jaringan lebih luas di balik aksi tunggal ini, dan bagaimana komunitas internasional menutup celah yang memungkinkan seseorang dengan niat mematikan menembus sistem pelatihan penerbangan global?



