Oktoberfest: Ratusan Celana Bersepeda Dibagikan Cegah Perekaman Bawah Rok di Teufelsrad
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 32.000 video terkait wahana Teufelsrad ditemukan di platform Meta, memicu kekhawatiran praktik upskirting.
- Operator wahana membagikan celana bersepeda gratis kepada pengunjung perempuan untuk mencegah pengambilan gambar tanpa izin.
- Polisi Bavaria meningkatkan pengawasan dan penindakan hukum, dengan sejumlah penangkapan terjadi selama festival berlangsung.

Penyelenggara Oktoberfest di Munich, Jerman, mengambil langkah preventif dengan membagikan celana bersepeda gratis kepada pengunjung perempuan di wahana Teufelsrad, setelah investigasi mengungkap puluhan ribu video voyeuristik beredar di dunia maya. Langkah ini menjadi respons cepat atas kekhawatiran yang meningkat terhadap praktik pengambilan gambar di bawah rok tanpa persetujuan, atau yang dikenal sebagai upskirting.
Teufelsrad, atau Roda Iblis, merupakan salah satu wahana tertua di festival bir tersebut. Wahana ini berputar cepat sementara pengunjung berusaha tetap duduk di atasnya. Namun, banyak video yang ditemukan oleh jurnalis Jerman justru berfokus pada perempuan yang gaun tradisional dirndl-nya tersingkap, sering kali memperlihatkan pakaian dalam. Temuan ini kembali memicu kekhawatiran tentang upskirting—tindakan merekam atau memotret di bawah rok seseorang secara diam-diam tanpa izin, yang telah dilarang di Jerman sejak 2020. Pelanggaran ini diancam denda atau hukuman penjara hingga dua tahun. Meski demikian, sejumlah advokat hak perempuan menilai undang-undang tersebut belum cukup untuk menghentikan praktik tersebut.
Elisabeth Polaczy, operator wahana yang telah berusia 80 tahun, mengatakan kepada BBC bahwa ia berinisiatif membagikan celana bersepeda kepada perempuan dan anak perempuan yang mengenakan gaun untuk melindungi mereka dari perekaman. "Saya ingin melakukan segala yang saya bisa agar orang merasa aman," ujarnya. Meskipun telah dipasang tanda peringatan dalam bahasa Jerman dan Inggris di sekitar tenda wahana, Polaczy mengakui sulitnya mengawasi semua orang yang merekam dengan ponsel pintar.
"Saya ingin melakukan segala yang saya bisa agar orang merasa aman." — Elisabeth Polaczy, operator Teufelsrad
Juru bicara Kepolisian Bavaria menyatakan bahwa poster peringatan anti-upskirting telah dipasang di area Oktoberfest sejak 2025. Namun, penegakan hukum tetap menghadapi tantangan karena luasnya area festival dan banyaknya pengunjung. Pada tahun ini, polisi menangkap seorang pria Swiss berusia 45 tahun karena merekam di bawah dirndl seorang perempuan Jerman. Angka penangkapan menunjukkan fluktuasi: 10 kasus pada 2025 dan tujuh pada 2024.
Kasus ini menyoroti celah antara regulasi dan realitas di lapangan. Meskipun Jerman telah memiliki undang-undang yang tegas, implementasinya masih terkendala oleh keterbatasan pengawasan dan budaya pesta yang permisif. Di sisi lain, platform media sosial seperti Meta turut menjadi ruang penyebaran konten non-konsensual, dengan algoritma yang kerap memperkuat viralitas video semacam itu. Tekanan pun mengarah pada tanggung jawab platform digital untuk lebih aktif memoderasi konten serupa.
Dalam konteks Indonesia, isu upskirting juga semakin mendapat perhatian, terutama dengan meningkatnya penggunaan ponsel pintar di ruang publik. Meskipun Indonesia memiliki UU Pornografi dan UU ITE yang dapat menjerat pelaku, kesadaran akan hak privasi dan perlindungan korban masih perlu ditingkatkan. Langkah preventif seperti yang dilakukan di Oktoberfest dapat menjadi contoh bagaimana penyelenggara acara publik mengambil inisiatif melindungi pengunjung, tanpa menunggu penegakan hukum yang sering kali lambat.
Ke depan, keberhasilan upaya ini akan bergantung pada kombinasi antara kesadaran pengunjung, pengawasan ketat, dan penegakan hukum yang konsisten. Apakah pembagian celana bersepeda akan menjadi norma di acara-acara besar lainnya, atau justru mendorong pelaku untuk mencari celah baru? Yang jelas, perlindungan terhadap privasi dan martabat perempuan di ruang publik tidak bisa hanya diserahkan pada satu pihak.



