Selat Hormuz Memanas: Ekspor Minyak Pulih, tapi Kapal Tanker Jadi Sasaran Empuk Iran
Baca dalam 60 detik
- Serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz meningkat tajam, mengancam kelancaran pasokan minyak mentah dari Teluk Persia.
- Pemulihan ekspor minyak saat ini bergantung pada kehadiran militer AS dan sistem transfer kapal-ke-kapal yang mahal serta berisiko tinggi.
- Ketidakpastian keamanan di Hormuz berpotensi menahan harga minyak dunia tetap tinggi dan mengganggu stabilitas energi global, termasuk Indonesia.

Ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz kembali mengemuka setelah Iran meningkatkan serangan terhadap kapal tanker yang melintas. Menurut laporan Joint Maritime Information Center, hampir 20 kapal komersial—mayoritas tanker—menjadi target serangan dalam sebulan terakhir di perairan Hormuz, Teluk Persia, dan lepas pantai Oman. Situasi ini mengancam pemulihan ekspor minyak mentah dari kawasan tersebut, yang selama ini menjadi jalur vital bagi pasokan energi dunia.
Data dari Windward, perusahaan intelijen maritim yang melacak kapal untuk sejumlah pemerintah, menunjukkan Iran menyerang sekitar dua dari setiap 100 kapal yang melintasi selat pada kuartal ketiga. Meski volume ekspor sempat naik, arus minyak kini sangat bergantung pada komitmen militer AS untuk mengawal tanker melalui rute selatan di sepanjang pantai Oman. Tanpa penyelesaian negosiasi atau penyerahan diri Teheran, keberlanjutan pemulihan ini dipertanyakan.
Untuk mengurangi risiko, operator menerapkan sistem shuttle: tanker membawa minyak melalui Hormuz, lalu memindahkannya ke kapal lain di Laut Oman yang selanjutnya mengangkut ke Asia. Cara ini memang menekan paparan serangan, tetapi menuntut lebih banyak kapal dan biaya operasional yang lebih tinggi. "Tidak ada seorang pun di Washington yang menganggap ini berkelanjutan secara finansial," ujar Bob McNally, presiden Rapidan Energy dan mantan penasihat energi Presiden George W. Bush. Ia menilai metode ini tidak efisien untuk mengangkut komoditas keluar dari Hormuz.
Meski volume ekspor fluktuatif dan kadang menyamai atau melampaui level sebelum perang, harga minyak Brent masih bertahan di sekitar US$100 per barel. Richard Meade, editor in chief Lloyd's List, menegaskan bahwa pasar tidak yakin dengan keberlanjutan pasokan. "Jika pasar percaya ini berkelanjutan, harga akan jauh lebih rendah," kata McNally. Tingginya harga mencerminkan biaya pengiriman, asuransi, dan pendaratan minyak yang masih mahal di wilayah konsumen.
"Arus minyak tidak menjadi lebih aman. Yang terjadi adalah pasar menjadi lebih efisien dalam beroperasi di tengah ketidakamanan yang berkepanjangan." — Richard Meade, Lloyd's List
Kebebasan navigasi di Hormuz belum pulih. Teheran masih mengklaim menguasai selat tersebut. Pada Senin, Garda Revolusi Iran memerintahkan sebuah tanker yang melintas untuk berbalik arah atau menghadapi serangan, menurut laporan UK Maritime Trade Operations Centre. Kapal itu pun menurut.
Bagi Indonesia, ketegangan di Hormuz bukan sekadar berita internasional. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga dan gangguan pasokan. Kenaikan biaya pengiriman dan asuransi akan merembet ke harga bahan bakar domestik, memicu inflasi, dan membebani anggaran subsidi energi. Pemerintah perlu mengantisipasi skenario terburuk dengan memperkuat cadangan strategis dan mencari sumber pasokan alternatif.
Ke depan, stabilitas pasokan minyak dari Teluk Persia akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik antara AS dan Iran. Jika ketegangan mereda melalui jalur diplomatik, tekanan pada harga minyak bisa berkurang. Namun, jika serangan terus berlanjut, dunia harus bersiap menghadapi era baru "ketidakamanan yang efisien"—di mana minyak tetap mengalir, tetapi dengan harga dan risiko yang jauh lebih tinggi.



