Alonso Bawa Putranya Naik Go-Kart di Usia Dua Bulan, Sinyal Prioritas Baru di Tengah Krisis Aston Martin
Baca dalam 60 detik
- Fernando Alonso mengungkap momen pertamanya mengajak putranya, Leonard, menaiki go-kart saat bayi baru berusia dua bulan.
- Di balik cerita personal, Alonso tetap berkomitmen bersama Aston Martin hingga 2027 meski tim tengah terpuruk di posisi ke-10 klasemen konstruktor.
- Kisah ini menegaskan bahwa pembalap 45 tahun itu mulai menata hidup di luar lintasan, sebuah hal langka bagi sosok yang terkenal tertutup soal privasi.

Fernando Alonso membuka sisi paling privatnya. Juara dunia Formula 1 dua kali itu mengungkap bahwa ia telah memperkenalkan putranya, Leonard, pada dunia balap jauh sebelum bayi tersebut bisa berjalan—tepatnya saat masih berusia dua bulan. Dalam wawancara dengan program radio Spanyol, El Larguero, pembalap Aston Martin tersebut menceritakan pengalaman mengajak sang anak mengelilingi sirkuit dengan go-kart.
“Kami sudah mencoba satu putaran di go-kart. Saat dia berusia dua bulan, saya menggendongnya dan membawanya ikut satu putaran. Dia sudah merasakan angin di wajahnya,” ujar Alonso, seperti dikutip dari Motorsport.com. Leonard kini berusia enam bulan, buah cinta Alonso dengan pasangannya, Melissa Jimenez.
Bagi publik F1, pengakuan semacam ini tergolong langka. Alonso selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur yang sangat menjaga batas antara kehidupan pribadi dan profesinya sebagai pembalap. Ia jarang membicarakan keluarga, apalagi membagikan momen domestik. Karena itu, cerita tentang Leonard bukan sekadar anekdot ringan, melainkan penanda bahwa lanskap prioritasnya mulai bergeser.
Alonso menegaskan bahwa ia ingin menjadikan tahun-tahun terakhirnya di F1 sebagai periode berbagi dengan sang putra. “Tahun depan saya ingin berbagi sirkuit, perjalanan keliling dunia, dan mengambil banyak foto bersamanya,” katanya. “Ketika saya meninggalkan Formula 1, jelas saya tidak akan bepergian ke 24 negara setiap tahun, kan? Jadi semoga saya bisa berbagi lebih banyak dengannya.”
Pernyataan itu menyiratkan kesadaran akan batas waktu. Di usia 45 tahun, Alonso adalah pembalap tertua di grid, dan setiap musim bisa menjadi yang terakhir. Namun ia juga menyiratkan bahwa kehidupan setelah F1 tidak berarti menjauh dari balap—hanya saja ritmenya akan berubah drastis.
“Saat saya di rumah, beberapa momen yang saya miliki menutupi semua kesulitan yang kami hadapi secara profesional.” — Fernando Alonso
Kesulitan profesional yang dimaksud bukanlah isapan jempol. Aston Martin memasuki musim 2026 dengan ekspektasi tinggi. Tim milik Lawrence Stroll itu menjalin kemitraan unit daya dengan Honda dan untuk pertama kalinya menjalankan mesin yang dirancang di bawah arahan Adrian Newey, salah satu desainer paling berpengaruh dalam sejarah F1. Namun masalah pada mobil dan unit daya muncul sejak awal.
Tim kemudian memperkenalkan mobil spesifikasi B pada Grand Prix Hungaria, disusul pembaruan unit daya di balapan berikutnya. Hasilnya belum sesuai harapan: Aston Martin masih tertahan di posisi ke-10 klasemen konstruktor dengan hanya tiga poin. Bagi Alonso, yang sepanjang kariernya identik dengan ambisi juara, situasi ini jelas bukan posisi ideal.
Di sinilah cerita tentang Leonard menjadi relevan. Ketika performa di lintasan tidak bisa dikendalikan sepenuhnya, kehidupan rumah menjadi penyeimbang. Alonso menggambarkan putranya sebagai anak yang ceria. “Dia tampak senang dengan segalanya. Sekarang dia bayi yang sangat murah senyum, dan itu sungguh luar biasa,” ujarnya.
Kisah ini juga menyoroti dimensi lain dari olahraga balap: bagaimana atlet elite menavigasi transisi identitas. Alonso bukan pembalap pertama yang menghadapi titik balik ini. Valentino Rossi, Michael Schumacher, dan Lewis Hamilton pernah berada di persimpangan serupa—antara tuntutan kompetisi yang tanpa henti dan hasrat untuk hadir sebagai orang tua. Bedanya, Alonso selalu tampil sebagai sosok yang menutup rapat pintu kehidupan pribadinya. Membukanya sedikit saja menjadi berita.
Bagi penggemar F1 di Indonesia, cerita ini bisa dibaca sebagai pengingat bahwa di balik helm dan balapan, para pembalap adalah manusia dengan prioritas yang bergeser. Tidak ada sirkuit permanen di Indonesia, tetapi antusiasme terhadap F1 tetap tinggi—terlihat dari ramainya diskusi di media sosial setiap akhir pekan balapan. Sosok Alonso, dengan karakternya yang keras kepala dan kompetitif, tetap menjadi salah satu nama yang paling banyak dibicarakan.
Pertanyaannya kini: akankah Alonso benar-benar menjadikan 2027 sebagai musim perpisahan, ataukah ia masih akan mengejutkan publik dengan perpanjangan kontrak berikutnya? Yang jelas, ia sudah mulai menulis babak baru—di mana lintasan bukan lagi satu-satunya tempat ia ingin dikenang.



