Tito Karnavian Makan Nasi Liwet Bersama Sopir Truk di Purwakarta, Ada Program Gentengisasi 500 Ribu Keping
Baca dalam 60 detik
- Mendagri Tito Karnavian dan Menteri PKP Maruarar Sirait berkumpul santai dengan para sopir truk pengangkut genteng di Pasar Citeko, Purwakarta, Jumat (2/10/2026).
- Acara ini menandai pelepasan 500.000 keping genteng asal Plered yang diangkut 125 truk ke berbagai daerah, bagian dari program Gentengisasi Presiden Prabowo.
- Program ini digadang mampu menggerakkan ekonomi lokal, menghidupkan sentra produksi genteng, dan memperkuat Gerakan Indonesia Asri.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait duduk lesehan di halaman Pasar Citeko, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026). Keduanya menyantap nasi liwet bersama sejumlah sopir truk pengangkut genteng. Momen santai itu bukan sekadar jamuan makan, melainkan penanda dimulainya pengiriman 500.000 keping genteng tanah liat ke sejumlah wilayah di Indonesia.
Pengiriman tersebut merupakan bagian dari program Gentengisasi yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Sebanyak 125 truk dikerahkan untuk mengangkut genteng dari sentra produksi Plered. Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyebut, sebelum pelepasan truk, para menteri dan sopir menikmati hidangan khas Purwakarta terlebih dahulu. Menu nasi liwet itu dimasak oleh ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kecamatan Plered, disajikan bersama selada air, petai, jengkol, sambal, ikan asin, ikan nila, dan ayam bekakak.
Tito menjelaskan, program Gentengisasi tidak hanya berbicara soal atap rumah. Ia menilai gerakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah menggalakkan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (Asri). Menurutnya, ada dua manfaat utama yang ingin dicapai. Pertama, rumah menjadi lebih nyaman dan layak huni karena genteng tanah liat mampu meminimalkan hawa panas dan meredam suara hujan. Kedua, atap genteng mempercantik tampilan rumah sekaligus menjadi produk khas Indonesia.
"Di kami, genteng ini memang asli dari zaman dulu. Khasnya Indonesia itu adalah genteng tanah liat," ujar Tito dalam rilis pers yang diterima media.
Lebih jauh, Tito berharap program ini dapat meningkatkan keamanan rumah dari risiko gempa, terutama di daerah-daerah yang aman dari guncangan. Namun yang tak kalah penting, ia melihat potensi ekonomi yang besar. Jika seluruh Indonesia menggunakan genteng tanah liat, menurutnya, sentra produksi genteng seperti Plered akan hidup kembali. Lapangan kerja baru akan tumbuh di tingkat desa, dan kesejahteraan masyarakat pun meningkat.
Kegiatan itu turut dihadiri Staf Khusus Menteri Agama Gugun Gumilar, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) se-Jawa Barat dan Purwakarta, serta sejumlah pejabat terkait. Kehadiran mereka menandakan dukungan lintas sektor terhadap program yang menyentuh langsung kebutuhan rumah layak bagi masyarakat.
Dari sisi kebijakan, Gentengisasi menyiratkan pendekatan ganda: memperbaiki kualitas hunian sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan. Jika dijalankan konsisten, program ini bisa menjadi contoh bagaimana kebijakan perumahan tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga merangkul produsen lokal dan tenaga kerja di daerah. Tantangannya tentu ada, mulai dari distribusi yang merata hingga menjaga kualitas genteng agar tahan lama.
Ke depan, publik akan menantikan apakah program ini benar-benar berdampak pada peningkatan produksi genteng di Plered dan daerah lain. Pemerintah perlu memastikan bahwa 500.000 keping genteng ini bukan sekadar simbolis, melainkan awal dari transformasi hunian yang lebih aman, nyaman, dan berkelanjutan. Akankah Gentengisasi menjadi gerakan nasional yang mengubah wajah permukiman Indonesia?



