Prabowo di HUT TNI: Jiwa Ragamu Milik Rakyat, Bukan Keluargamu
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menegaskan prajurit TNI tidak lagi memiliki tubuh dan jiwanya sendiri karena telah diserahkan untuk rakyat Indonesia.
- Pernyataan itu disampaikan dalam upacara HUT ke-81 TNI yang mengangkat tema 'TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur'.
- Prabowo menekankan TNI lahir dari rakyat yang menanggung logistik perjuangan sebelum negara mampu memberikan anggaran.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa prajurit TNI telah menyerahkan jiwa dan raga mereka sepenuhnya kepada rakyat Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat memimpin upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Markas Besar TNI, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026).
"Jiwamu, ragamu sudah bukan milikmu lagi. Sudah bukan milik keluargamu lagi. Jiwa dan ragamu milik rakyat Indonesia," ujar Prabowo di hadapan peserta upacara. Ia menekankan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak berhenti pada kepentingan pribadi atau keluarga, melainkan harus diarahkan sepenuhnya untuk kepentingan bangsa.
Prabowo juga mengingatkan bahwa TNI lahir dari rahim rakyat. Sebelum negara berdiri dan mampu mengalokasikan anggaran, logistik perjuangan TNI ditanggung sepenuhnya oleh rakyat. "Sebelum negara bisa memberi anggaran, TNI berdiri dari rakyat. Tanpa digaji. Yang memberi makan TNI adalah seluruh rakyat," tambahnya.
Karena itu, ia meminta seluruh kekuatan TNI dipersembahkan untuk melindungi rakyat. TNI harus berada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi telinga yang mendengarkan kesulitan mereka. "Harus hadir ketika rakyat membutuhkan," tegas Prabowo.
Peringatan HUT TNI tahun ini mengusung tema "TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur". Tema tersebut menegaskan posisi TNI sebagai kekuatan yang menyatu dengan rakyat, bukan entitas yang terpisah. Dalam konteks demokrasi, pesan ini relevan untuk memastikan TNI tetap pada jalur profesionalisme dan tidak terlibat dalam politik praktis.
Sejumlah pejabat tinggi negara hadir dalam upacara tersebut, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap institusi TNI.
"Jiwa dan ragamu milik rakyat Indonesia. TNI harus hadir ketika rakyat membutuhkan." โ Presiden Prabowo Subianto
Pernyataan Prabowo ini bukan sekadar retorika. Dalam beberapa tahun terakhir, TNI semakin sering dilibatkan dalam program pembangunan dan penanganan bencana. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga agar keterlibatan tersebut tidak mengaburkan batas antara tugas pertahanan dan fungsi sipil. Pengamat militer menilai pesan Prabowo perlu diikuti dengan kebijakan konkret yang memperkuat kesejahteraan prajurit dan transparansi anggaran pertahanan.
Selain itu, semangat "TNI milik rakyat" harus tercermin dalam setiap tindakan di lapangan. Mulai dari operasi militer selain perang, penanganan konflik sosial, hingga program bakti sosial. Jika tidak, slogan tersebut hanya akan menjadi simbol tanpa makna. Masyarakat pun berhak menuntut akuntabilitas atas setiap penggunaan kekuatan TNI.
Ke depan, publik akan menyoroti bagaimana pesan Presiden diterjemahkan menjadi kebijakan. Apakah anggaran pertahanan akan meningkat proporsional? Apakah kesejahteraan prajurit menjadi prioritas? Dan yang terpenting, apakah TNI benar-benar hadir sebagai pelindung rakyat, bukan kekuatan yang justru menimbulkan rasa takut? Hanya waktu yang bisa membuktikan, tetapi arah kebijakan saat ini akan menjadi penentu.



