Gibran Hadiri HUT Ke-81 TNI di Cilangkap, Upacara Digelar Sederhana Usai Monas Dibatalkan
Baca dalam 60 detik
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tiba di Mabes TNI Cilangkap dengan Maung Garuda untuk mengikuti upacara HUT ke-81 TNI.
- Puncak perayaan yang semula dijadwalkan di Monas dipindahkan ke Lapangan Prima Mabes TNI karena banyak prajurit dikerahkan menangani bencana.
- Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dan akan meresmikan sejumlah satuan baru, termasuk lima Kodam di wilayah Flores, Yogyakarta, Maluku Utara, NTT, dan Kepulauan Riau.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menghadiri upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 TNI di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026). Ia tiba menggunakan MV3 Garuda Limousine atau Maung Garuda berwarna putih dan langsung disambut sejumlah petinggi militer.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Gibran turun dari kendaraan di depan Aula Gatot Subroto dengan setelan jas hitam dan peci senada. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Wakil Panglima Tandyo Budi Revita, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Mohamad Tonny Harjono tampak menerima kedatangannya. Gibran lalu berjalan masuk ke aula didampingi Agus. Tak berselang lama, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dan Wakapolri Komjen Wahyu Hadiningrat juga tiba, disusul salam dengan Komandan Puspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto.
Perayaan tahun ini berlangsung tanpa kemegahan yang biasa digelar di Monas, Jakarta Pusat. Mabes TNI memutuskan memindahkan puncak acara ke markas mereka dengan alasan menghormati para prajurit yang masih bertugas menangani bencana di sejumlah daerah. Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen Muhammad Nas menegaskan bahwa upacara tetap digelar secara sederhana, namun tidak mengurangi kekhidmatan peringatan.
โUpacara HUT ke-81 TNI dilaksanakan di Mabes TNI secara sederhana,โ ujar Nas, seraya menambahkan bahwa penugasan penanganan bencana menjadi pertimbangan utama perubahan lokasi.
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri upacara tersebut. Kepala Pusat Pembinaan Mental TNI Brigjen Chandra Adibrata menyebut Prabowo rencananya datang. Dalam kesempatan itu, Presiden juga akan meresmikan sejumlah satuan baru TNI, termasuk lima Komando Daerah Militer (Kodam) yang sebelumnya disinggung Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak.
Perubahan lokasi bukan sekadar soal teknis. Keputusan ini menyiratkan prioritas Mabes TNI yang tengah menempatkan operasi kemanusiaan sejajar dengan seremoni kenegaraan. Di saat banyak negara masih memisahkan antara upacara militer dan misi bantuan bencana, TNI justru menegaskan bahwa kedua hal itu bisa berjalan bersamaan. Bagi publik, pesan yang muncul adalah bahwa kehadiran negara di lokasi bencana tidak boleh terganggu oleh agenda seremonial.
Selain itu, peresmian Kodam baru di lima wilayah menunjukkan arah pembangunan kekuatan teritorial yang lebih menyebar. Flores, Yogyakarta, Maluku Utara, NTT, dan Kepulauan Riau selama ini dinilai memiliki karakter geografis dan tantangan keamanan yang berbeda-beda. Kehadiran Kodam di sana diharapkan mempercepat respons terhadap ancaman, mulai dari bencana alam hingga potensi konflik sosial. Namun, ekspansi struktur juga membawa konsekuensi anggaran dan kebutuhan personel yang tidak kecil.
Pengamat pertahanan menilai bahwa penambahan Kodam harus dibarengi dengan modernisasi alutsista dan peningkatan kesejahteraan prajurit. Tanpa itu, penambahan satuan hanya akan memperluas beban tanpa memperkuat kapasitas riil. Pemerintah pun dituntut transparan soal sumber pendanaan, terutama di tengah tekanan fiskal pascapandemi dan kebutuhan belanja sosial lainnya.
Dari sisi politik, kehadiran Gibran dan Prabowo dalam upacara ini menjadi sinyal kesinambungan kepemimpinan. Gibran sebagai Wakil Presiden menunjukkan dukungan terhadap institusi militer, sementara Prabowo yang juga Menteri Pertahanan memiliki kedekatan historis dengan TNI. Kombinasi ini bisa memperkuat legitimasi kebijakan pertahanan di mata publik, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana politik dan militer sebaiknya beririsan.
Ke depan, publik akan menantikan detail peresmian Kodam baru: di mana markasnya, berapa personel yang dialokasikan, dan bagaimana integrasinya dengan pemerintah daerah. Jika dijalankan dengan perencanaan matang, langkah ini bisa menjadi fondasi pertahanan yang lebih adaptif. Namun, tanpa pengawasan ketat, penambahan struktur berisiko menjadi beban anggaran yang tidak sebanding dengan hasil. Pertanyaannya, apakah pembangunan kekuatan teritorial ini akan benar-benar menjawab kebutuhan keamanan nasional, atau hanya menjadi simbol tanpa dampak signifikan di lapangan?



