Max Verstappen Kembali ke GT3 di Portimao, Tantang Rossi dengan Simulator Statis
Baca dalam 60 detik
- Verstappen akan membalap di GT World Challenge Europe di Portimao pada 17 Oktober bersama Mercedes-AMG GT3, melawan Valentino Rossi.
- Ia mengandalkan simulator statis di Monaco untuk latihan, bukan motion rig, karena dinilai lebih cepat dan efisien.
- Keputusan ini menegaskan peran sim racing dalam karier pembalap profesional dan ambisinya melahirkan talenta dari dunia virtual.

Max Verstappen akan kembali ke lintasan balap nyata setelah absen sejak Nurburgring 24 Hours Mei lalu. Pada 17 Oktober, pembalap Formula 1 itu akan mengemudikan Mercedes-AMG GT3 nomor 3 di GT World Challenge Europe finale di Portimao, Portugal, berbagi kokpit dengan Chris Lulham dan Ben Barnicoat. Yang membuat balapan ini menarik: Valentino Rossi, legenda MotoGP yang kini beralih ke balap mobil, akan berada di grid yang sama dengan mengendarai BMW tim WRT.
Kursi yang ditinggalkan Dani Juncadella dan Jules Gounon—yang harus tampil di putaran World Endurance Championship pada akhir pekan yang sama—membuka jalan bagi Verstappen. Meski jadwal F1 padat, ia menyempatkan diri untuk balapan di ajang GT3, menunjukkan fleksibilitas dan hasratnya pada motorsport di luar F1. Bagi penggemar, duel Verstappen vs Rossi menjadi magnet tersendiri, mengingat keduanya berasal dari disiplin yang berbeda namun sama-sama kompetitif.
Di balik kesiapannya, Verstappen mengandalkan perangkat simulator balap yang tidak biasa. Berbeda dari banyak pembalap yang memilih motion rig—platform yang bergerak untuk mensimulasikan gaya g-forces—Verstappen justru setia pada rig statis. "Saya mengemudi di rumah dengan rig statis karena lebih cepat. Semua motion rig itu lebih lambat, tapi kalau ingin merasakan sensasi nyata, ya beli motion rig. Menurut saya itu tidak perlu saat ini," ujarnya di kanal YouTube Team Redline.
Pilihan rig statis bukan tanpa alasan. Verstappen menilai bahwa tanpa gerakan tambahan, ia bisa lebih fokus dan cepat. "Yang paling penting adalah pedal rem dan wheelbase. Itu bagian terpenting selain komputer yang bagus," katanya kepada Car and Driver awal 2026. Ia juga memiliki beberapa unit lain, termasuk di motorhome dan kapal pesiarnya, serta menggunakan iRacing sebagai perangkat lunak utama untuk mengasah kemampuan.
"Impian saya adalah melihat pembalap sim beralih ke dunia nyata dan sukses, menjadi pembalap profesional, dan bisa mencari nafkah dari balapan. Itu tujuan kami, dan perlahan kami mulai mewujudkannya."
— Max Verstappen
Kiprah Verstappen di sim racing bukan sekadar hobi. Ia aktif bersama Team Redline dan sering mengikuti event iRacing. Baginya, simulator adalah alat latihan yang efektif untuk menjaga ketajaman refleks dan pemahaman sirkuit, terlebih dengan jadwal F1 yang padat. Kehadirannya di Portimao nanti akan menjadi ujian nyata dari hasil latihan virtualnya, sekaligus membuktikan bahwa dunia sim dan balap profesional semakin konvergen.
Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi cermin. Ajang balap nasional seperti Formula E Jakarta dan kehadiran pembalap Tanah Air di kejuaraan internasional menunjukkan minat yang tumbuh. Sim racing menawarkan jalur alternatif bagi talenta muda untuk mengasah kemampuan tanpa biaya sebesar balap konvensional. Jika Verstappen bisa, bukan tidak mungkin pembalap Indonesia menyusul jejaknya.
Yang jelas, balapan di Portimao akan menjadi tontonan menarik: Verstappen dengan pengalaman F1-nya, Rossi dengan naluri balapnya, dan keduanya diadu dalam balapan ketahanan. Apakah Verstappen mampu mengimbangi pembalap GT3 spesialis? Jawabannya akan terlihat di lintasan, namun satu hal pasti: jam terbangnya di simulator telah memberinya keunggulan yang tidak bisa diremehkan.



