Waktu Tambahan 2 Menit Jadi 7, Malaysia Minta FIFA Buka Suara
Baca dalam 60 detik
- Bergson da Silva mempertanyakan lonjakan injury time dari dua menjadi tujuh menit dalam laga Indonesia vs Bangladesh.
- FAM akan mengirim surat resmi ke FIFA untuk meminta penjelasan prosedur, bukan menggugat hasil pertandingan.
- Dua gol Indonesia di menit 96 dan 97 mempertegas kemenangan 9-2 yang mengantar Garuda ke final.

Pemain Timnas Malaysia, Bergson da Silva, mempertanyakan keputusan wasit yang menambah waktu injury time dari dua menit menjadi tujuh menit pada laga Indonesia vs Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026. Pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (1/10/2026), berakhir 9-2 untuk Indonesia, tetapi durasi tambahan waktu menjadi sorotan karena dua gol terakhir Garuda lahir di menit ke-96 dan ke-97.
Bergson menyoroti perubahan yang ia nilai tidak wajar. Lewat unggahan di media sosial, penyerang naturalisasi Malaysia itu menyatakan papan waktu semula menunjukkan tambahan dua menit sebelum berubah menjadi tujuh menit. "Pada awalnya diberikan dua menit masa tambahan sebelum tiba-tiba ditambah menjadi tujuh menit. Mereka menjaringkan dua gol dalam dua minit terakhir masa tambahan," tulis Bergson, seperti dikutip Berita Harian.
Keputusan tersebut lantas memantik reaksi Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Federasi itu menyatakan akan mengajukan permintaan resmi kepada FIFA untuk mendapatkan klarifikasi mengenai dasar, prosedur, serta situasi yang melatarbelakangi perubahan durasi injury time. Menurut FAM, pengelolaan waktu pertandingan yang akurat dan konsisten merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pertandingan.
"FAM menanggapi dengan serius masalah perubahan durasi waktu tambahan dalam pertandingan antara Indonesia dan Bangladesh," tulis FAM dalam pernyataan resminya, Jumat (2/10/2026).
FAM menegaskan langkah tersebut bukan upaya menggugat hasil pertandingan maupun mempertanyakan pencapaian kedua tim. Tujuannya murni memperoleh penjelasan mengenai prosedur yang dijalankan ofisial pertandingan. Sikap ini menunjukkan bahwa isu yang diangkat lebih bersifat tata kelola pertandingan ketimbang protes hasil.
Kemenangan besar itu membawa Indonesia finis di puncak Grup A dengan tujuh poin, sama dengan Malaysia yang juga menang telak 6-0 atas Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung. Namun, selisih gol menjadi penentu: Indonesia mencetak 11 gol sepanjang fase grup, sedangkan Malaysia mengoleksi sembilan gol. Hasil di Jakarta membuat Harimau Malaya tidak mampu mengejar ketertinggalan meski meraih kemenangan besar pada laga terakhirnya.
Dari kacamata regulasi, injury time memang menjadi kewenangan wasit berdasarkan pertimbangan penghentian permainan, pergantian pemain, perawatan cedera, hingga selebrasi gol. Perubahan dari dua menjadi tujuh menit bisa dipicu oleh akumulasi kejadian di paruh kedua, terutama jika ada insiden yang memakan waktu cukup lama. Namun, transparansi dalam pengumuman waktu tambahan sering menjadi titik rawan polemik, terutama ketika hasil pertandingan berdampak langsung pada kelolosan tim.
Bagi Indonesia, kemenangan ini menjadi modal berharga menuju final FIFA ASEAN Cup 2026 melawan Thailand. Sebaliknya, Malaysia harus puas menjalani perebutan tempat ketiga. Sorotan terhadap injury time bisa menjadi ujian bagi FIFA dalam menjaga kredibilitas kompetisi, khususnya di kawasan ASEAN yang rivalitasnya tinggi. Apakah permintaan FAM akan dijawab dengan penjelasan rinci, atau justru memicu perdebatan lebih luas tentang standar pengelolaan waktu di sepak bola Asia Tenggara?



