Bitcoin Tembus $86.000 di Tengah Ketegangan Pasar Global Jelang Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin menyentuh level $86.885 sebelum terkoreksi ke sekitar $86.000, mencatat kenaikan 1,5% harian dan 3% sejak awal Oktober.
- Pasar menanti rilis nonfarm payrolls September yang diprediksi turun menjadi 90.000 dari 162.000, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap 4,1%.
- Kekhawatiran fiskal Prancis dan penguatan dolar AS menambah kompleksitas sentimen risiko, namun bitcoin tetap menunjukkan ketahanan.

Harga bitcoin sempat menembus level $86.885 pada perdagangan Jumat, sebelum akhirnya terkoreksi ke kisaran $86.000. Kenaikan ini terjadi menjelang publikasi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menjadi acuan kebijakan moneter Federal Reserve. Meski melandai, bitcoin masih bertahan di zona positif dengan penguatan sekitar 1,5% dalam sehari dan sekitar 3% sejak awal Oktober.
Pasar tenaga kerja AS menjadi fokus utama. Konsensus ekonom memperkirakan tingkat pengangguran bertahan di 4,1%, sementara nonfarm payrolls hanya bertambah 90.000 pada September, turun tajam dari 162.000 pada Agustus. Pelemahan data ini, jika terkonfirmasi, dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed, yang secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko termasuk mata uang kripto.
Meski demikian, bitcoin sempat terperangkap dalam rentang $82.000โ$85.000 sepanjang pekan akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencapai 5,34%, level tertinggi dalam beberapa dekade. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan biaya pinjaman yang lebih mahal dan biasanya menekan aset spekulatif. Namun, bitcoin berhasil menembus batas atas rentang tersebut, menunjukkan adanya permintaan yang tetap kuat di tengah tekanan makro.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama sempat menembus 102 pada Kamis, level tertinggi dalam 18 bulan. Dolar yang lebih kuat umumnya menjadi angin sakal bagi aset berisiko, tetapi bitcoin justru melanjutkan penguatan. Sementara itu, euro terdepresiasi ke sekitar $1,12, terendah sejak Mei 2025, terbebani oleh kekhawatiran atas kondisi fiskal Prancis.
"Biaya pinjaman Prancis telah melampaui Italia dan Yunani, dengan imbal hasil obligasi Prancis diperdagangkan pada level tertinggi relatif terhadap bund Jerman sejak krisis utang Eropa," catat Lisa Abramowicz dari Bloomberg.
Kekhawatiran terhadap keuangan publik Prancis memperburuk tekanan pada euro. Credit default swap (CDS) lima tahun Prancis, yang mengukur biaya asuransi terhadap gagal bayar sovereign, telah melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Selisih imbal hasil obligasi 10 tahun Prancis dan Jerman juga melebar ke level terlebar dalam 14 tahun. Prancis juga menghadapi salah satu defisit fiskal terbesar di Uni Eropa, menambah ketidakpastian di kawasan tersebut.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil Treasury dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap rupiah dan obligasi domestik bisa meningkat jika data tenaga kerja AS kembali solid, yang akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan. Namun, jika data mengecewakan, sentimen risiko global berpotensi membaik dan memberikan ruang bagi aset kripto serta pasar emerging market untuk menguat.
Ke depan, pergerakan bitcoin akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data nonfarm payrolls dan sinyal kebijakan The Fed. Pertanyaannya, apakah bitcoin mampu mempertahankan momentum di atas $86.000 jika dolar terus menguat, atau justru kembali tertekan ke rentang konsolidasi? Investor perlu mencermati kombinasi data makro dan dinamika geopolitik Eropa yang dapat memengaruhi selera risiko secara global.