Dominasi Bitcoin Mendekati 60%, Sinyal Risk-On Jelang Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Bitcoin bertengger di atas $86.000 dan mendorong mayoritas kripto naik, sementara pangsa pasar USDT menyusut ke sekitar 6,3%.
- Pelaku pasar menanti laporan nonfarm payrolls September yang diprediksi hanya menambah 90.000 pekerjaan, jauh di bawah capaian Agustus.
- Penurunan peluang kenaikan suku bunga The Fed menjadi 30% menjadi bahan bakar utama aset berisiko, tetapi yield riil 10 tahun tetap menjadi penentu arah.

Pasar kripto bergerak serentak menguat pada Jumat, dengan Bitcoin diperdagangkan di atas level $86.000, naik 3,4% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan ini terjadi beberapa jam sebelum rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang menjadi acuan utama kebijakan suku bunga global.
Ether, XRP, Solana, dan BNB turut menguat, meski laju mereka tidak mampu menyamai Bitcoin. Lonjakan lebih tajam justru datang dari koin lapis menengah: SKY, AAVE, dan APT melesat 7% hingga 10%, menjadikannya performa terbaik di antara 100 aset kripto dengan kapitalisasi terbesar.
Yang menarik, dominasi Bitcoin—porsi kapitalisasi pasar terhadap total nilai kripto—kembali mendekati ambang 60%. Pada saat yang sama, pangsa USDT, stablecoin terbesar yang dipatok dolar, merosot ke kisaran 6,3%. Kombinasi kedua indikator ini menunjukkan pergeseran dana dari instrumen setara kas ke aset yang lebih berisiko, sebuah pola yang oleh analis disebut sebagai mode risk-on.
Laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan pukul 08.30 waktu setempat diperkirakan menunjukkan penambahan 90.000 lapangan kerja pada September, merosot dari 162.000 pada Agustus. Tingkat pengangguran diprediksi bertahan di 4,1%. Namun, perhatian pasar tidak berhenti pada angka utama; reaksi imbal hasil surat utang AS, terutama yield riil yang disesuaikan inflasi, menjadi fokus berikutnya.
"Saya mengamati payrolls hari Jumat dan CPI 14 Oktober terutama untuk dampaknya terhadap yield jangka panjang. Saya memakai yield riil 10 tahun sekitar 3% sebagai level pemantauan, dan pergerakan berkelanjutan di atas level itu akan membuat pengujian ulang $80.000 hingga $82.000 lebih mungkin terjadi daripada serangan ke $90.000," ujar Oliver Carding, kepala pemasaran di Tesseract Group, yang mengelola aset senilai $500 juta.
Pernyataan Carding menyoroti kerentanan Bitcoin terhadap ekspektasi kebijakan moneter. Setelah komentar dovish dari Presiden Fed New York John Williams dan Wakil Ketua Fed Philip Jefferson, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi 30% dari sebelumnya 70%. Peluang yang lebih rendah cenderung menguntungkan aset berisiko seperti kripto, tetapi efeknya bisa cepat berbalik jika data tenaga kerja jauh melampaui perkiraan.
Sejumlah pengamat menilai peluang tersebut tidak akan banyak berubah kecuali payrolls mencatat kejutan positif besar. Jika itu terjadi, taruhan kenaikan suku bunga bisa kembali menguat dan menekan harga Bitcoin. Sebaliknya, data yang lemah akan memperkuat narasi pelonggaran dan berpotensi mendorong kripto lebih tinggi.
Bagi investor Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Pelemahan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga yang lebih rendah biasanya mendorong aliran modal ke aset berisiko di pasar berkembang, termasuk kripto. Namun, penguatan dolar yang tiba-tiba dapat memicu arus keluar dan menekan nilai tukar rupiah. Otoritas moneter domestik perlu mencermati perkembangan ini, terutama karena adopsi aset digital di Indonesia terus tumbuh.
Ke depan, dua agenda besar akan menentukan arah: rilis payrolls Jumat ini dan data inflasi konsumen AS pada 14 Oktober. Selama yield riil 10 tahun bertahan di bawah 3%, pasar kripto kemungkinan tetap dalam mode risk-on. Namun, jika ambang itu tertembus, tekanan jual bisa kembali menguji level support di sekitar $80.000. Pertanyaannya, apakah reli ini didorong oleh fundamental yang kuat atau sekadar euforia jangka pendek menjelang data ekonomi?


