Haas Ditinggal Ocon, Kursi 2027 Diperebutkan Lima Nama: Camara vs Fornaroli
Baca dalam 60 detik
- Esteban Ocon resmi tidak lagi memperkuat Haas mulai musim 2027 setelah performa di bawah ekspektasi, membuka peluang bagi sejumlah pembalap muda dan berpengalaman.
- Rafael Camara dan Leonardo Fornaroli menjadi dua kandidat terkuat berkat prestasi di F2 dan kedekatan dengan Ferrari serta McLaren, sementara opsi lain seperti Hirakawa, Tsunoda, dan Lawson masih menyisakan tanda tanya.
- Keputusan Haas akan menjadi ujian bagi strategi pengembangan bakat dan bisa memengaruhi peta kekuatan tim papan tengah menjelang regulasi teknis baru.

Kursi kedua Haas untuk Formula 1 2027 resmi kosong setelah Esteban Ocon dipastikan tidak melanjutkan kerja sama. Pengumuman ini mengakhiri spekulasi panjang, sekaligus membuka babak baru bagi tim asal Amerika Serikat itu yang tengah membangun fondasi bersama Oliver Bearman.
Ocon bergabung pada 2025 dengan reputasi mumpuni: delapan musim, empat podium, dan satu kemenangan di Hungaria. Ia dianggap sebagai rekrutan besar yang bisa memimpin Haas melewati transisi regulasi. Namun, catatan di lintasan berbicara lain. Dalam 18 bulan kebersamaan, Ocon hanya mengumpulkan 45 poin, kalah dari Bearman yang mencetak 61 poin. Pembalap Prancis itu kerap tersisih oleh performa rekannya yang masih 21 tahun.
Kepergian Ocon memunculkan pertanyaan mendesak: siapa yang layak mendampingi Bearman? Sejumlah nama masuk radar, dari pembalap muda yang sedang menanjak hingga sosok berpengalaman yang mencari pelabuhan terakhir. Berikut lima kandidat yang paling sering disebut.
Leonardo Fornaroli menjadi salah satu favorit utama. Juara F2 2025 itu kini menjabat sebagai pembalap penguji McLaren. Meski belum mendapat kursi penuh, ia mencuri perhatian lewat kerja pengembangan di belakang layar dan penampilan di sesi latihan bebas Barcelona serta Budapest. Di Barcelona, ia finis kelima dan hanya terpaut setengah detik dari Oscar Piastri. Bos McLaren, Andrea Stella, memuji etos kerjanya. "Dia terlihat pemalu, tapi paling proaktif bertanya kepada engineer," ujar Stella. "Leonardo jelas aset bagi F1 masa depan." McLaren dikabarkan enggan melepasnya permanen, tetapi siap meminjamkannya ke Haas.
Ryo Hirakawa menawarkan jalur paling praktis. Pembalap cadangan Haas berusia 32 tahun itu memiliki ikatan kuat dengan Toyota, mitra teknis dan sponsor utama tim. Ia punya pengalaman di Super Formula dengan empat kemenangan, juara Super GT 2017, menang di Le Mans, serta meraih gelar WEC 2022 dan 2023. Meski usianya dua tahun lebih tua dari Ocon, Hirakawa telah mengesankan tim melalui berbagai program TPC. Jika ia pindah penuh waktu, Toyota dikabarkan akan mempromosikan juniornya, Esteban Masson.
Yuki Tsunoda tengah berjuang mencari kursi untuk 2027. Setelah empat musim di tim satelit Red Bull, ia sempat dipromosikan ke tim utama pada 2025, tetapi gagal bersinar di samping Max Verstappen dan finis ke-17. Kini ia menjalani peran pembalap cadangan, meski sempat tampil impresif di Grand Prix Belanda, Italia, dan Spanyol saat mengisi kursi Racing Bulls. "Saya sangat senang, saya merindukan sensasi mengejar milidetik terakhir," katanya usai kualifikasi di Zandvoort. Namun, afiliasinya dengan Honda, rival Toyota, menjadi penghalang besar untuk merapat ke Haas.
Liam Lawson berada di persimpangan karier. Pembalap Selandia Baru berusia 24 tahun itu sempat membalap untuk Red Bull pada dua balapan awal 2025, tetapi kurang kompetitif dan dikembalikan ke Racing Bulls. Kini ia tampil solid dengan 59 poin dan peringkat kesembilan, namun sejarah menunjukkan Red Bull jarang mempromosikan ulang pembalapnya. Dengan Nikola Tsolov dan Arvid Lindblad mengintai, Lawson bisa memilih Haas sebagai jalan keluar, meski harus turun peringkat ke tim papan tengah.
Rafael Camara justru semakin sulit diabaikan. Pembalap Brasil berusia 21 tahun itu memuncaki klasemen F2 2026 dan telah mengoleksi lima pole, terbanyak untuk seorang rookie sejak Piastri pada 2021. Ia juga juara F3 pada musim debutnya, sesuatu yang tidak dilakukan Fornaroli. Sebagai lulusan akademi Ferrari, pemasok mesin Haas, Camara memiliki keunggulan politis. Ferrari dikabarkan ingin menempatkannya bersama Bearman, yang juga didikan Ferrari. Camara baru saja menjalani tes TPC di Portimao dan dikabarkan tampil mengesankan.
"Leonardo adalah aset bagi Formula 1 di masa depan," ujar Andrea Stella, bos McLaren, menegaskan kualitas salah satu kandidat.
Bagi Haas, keputusan ini bukan sekadar soal mengisi kursi kosong. Tim yang bermarkas di Kannapolis itu sedang membangun identitas baru di bawah kepemilikan Gene Haas dan kemitraan teknis dengan Toyota. Memilih pembalap muda seperti Camara atau Fornaroli berarti berinvestasi jangka panjang, sementara merekrut Hirakawa atau Tsunoda memberi stabilitas jangka pendek. Tekanan juga datang dari regulasi mesin 2026 yang menuntut umpan balik teknis solid dari pembalap.
Di Indonesia, dinamika ini menarik disimak karena menunjukkan bagaimana tim papan tengah mengelola bakat di tengah dominasi tim besar. Keputusan Haas dapat menjadi preseden bagi tim lain dalam memadukan pembalap muda dan pengalaman, terutama saat biaya operasional semakin ketat. Jika Camara atau Fornaroli direkrut, Haas berpotensi menjadi inkubator pembalap masa depan, mirip peran yang pernah diemban tim-tim seperti Sauber atau Toro Rosso.
Yang jelas, bursa pembalap 2027 masih akan bergerak. Performa Camara dan Fornaroli di sisa musim F2, serta nasib Tsunoda dan Lawson, akan menentukan arah keputusan Haas. Akankah tim memilih bibit muda yang menjanjikan atau sosok matang yang siap tempur? Jawabannya akan segera terungkap, dan dampaknya bisa terasa hingga beberapa musim ke depan.



