Karhutla Kalimantan Meluas, BNPB Kerahkan 58.918 Personel dan 38 Helikopter Water Bombing
Baca dalam 60 detik
- BNPB mencatat penambahan luas lahan terbakar di Kalbar dan Kalteng per 30 September 2026, dengan Kalteng menyumbang kenaikan lebih dari 14 hektare dibanding hari sebelumnya.
- Pemerintah menggelar operasi darat dan udara berskala besar, melibatkan puluhan ribu personel serta 54 helikopter yang terbagi untuk patroli, modifikasi cuaca, dan pengeboman air.
- Misi bantuan tiga helikopter Chinook dari Jepang resmi berakhir 29 September, menyisakan pertanyaan soal keberlanjutan kapasitas pemadaman saat musim kemarau belum sepenuhnya usai.

Luas lahan yang belum berhasil dipadamkan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah kembali bertambah, menandai eskalasi baru karhutla yang memaksa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperpanjang operasi darat dan udara di dua provinsi tersebut.
Plt. Kepala Pusat Data dan Informasi serta Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengungkapkan bahwa penambahan itu terpantau dari perbandingan data 29 dan 30 September 2026. Khusus Kalimantan Tengah, luas area yang masih menyala bertambah lebih dari 14 hektare dalam kurun satu hari. Angka itu belum termasuk titik-titik baru yang muncul di Kalimantan Barat, yang menurut BNPB turut mengalami tren kenaikan serupa.
Yang membedakan situasi kali ini dari episode karhutla sebelumnya adalah skala mobilisasi sumber daya. BNPB mengerahkan 58.918 personel gabungan ke lapangan, dilengkapi pompa pemadam, pompa apung, perangkat GPS, hingga drone untuk pemetaan titik panas. Dari udara, pemerintah mengoperasikan 54 helikopter yang dibagi ke dalam dua fungsi: 16 unit untuk patroli dan modifikasi cuaca, serta 38 unit khusus water bombing. Delapan dari armada pengebom air itu berasal dari Mabes TNI.
Berton menegaskan bahwa tim gabungan masih berupaya menahan laju api agar tidak meluas dalam beberapa hari ke depan. Namun, ia juga mengakui adanya kendala di lapangan yang membuat sejumlah titik belum bisa dituntaskan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta Pusat, Kamis (1/10/2026).
"Kami mendapatkan kesimpulan bahwa di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah terjadi kenaikan jumlah lahan yang belum selesai dipadamkan dari hari sebelumnya," ujar Berton.
Dari sisi kerja sama internasional, BNPB menyampaikan bahwa tiga helikopter CH-47 Chinook milik pemerintah Jepang telah menyelesaikan tugasnya per 29 September 2026. Bantuan itu dinilai membantu memperkecil potensi perluasan kebakaran. Berakhirnya misi Chinook membuat beban pemadaman kembali bertumpu pada armada nasional dan dukungan TNI, setidaknya sampai ada evaluasi lanjutan dari pemerintah.
Bagi pembaca di luar Kalimantan, dampak karhutla tidak berhenti di batas provinsi. Asap yang dihasilkan dari pembakaran lahan gambut dan hutan dapat terbawa angin lintas negara, memicu gangguan kualitas udara, penundaan penerbangan, hingga kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan di wilayah lain. Dalam beberapa tahun terakhir, episode karhutla juga kerap memicu protes diplomatik dari negara tetangga karena kabut asap melintasi perbatasan.
Pola yang berulang setiap musim kemarau memunculkan pertanyaan struktural: sejauh mana kesiapan pemerintah menghadapi karhutla tahunan, terutama ketika sebagian lahan berada di area konsesi perusahaan. Sebelumnya, kebakaran sempat melanda sekitar 75 hektare lahan Hak Guna Usaha (HGU) PT Pinang Witmas Abadi di Desa Pasak Tiang, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dan polisi turun menyelidiki penyebabnya.
Ke depan, keberhasilan operasi ini akan diukur bukan hanya dari jumlah titik api yang padam, tetapi juga dari kecepatan deteksi dini dan penegakan hukum terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Jika tren kenaikan luas lahan terbakar terus berlanjut pekan ini, publik berhak menuntut penjelasan apakah kapasitas nasional masih cukup tanpa tambahan bantuan asing.



