Gagal Suntik Mati Christa Pike, Tennessee Setop Semua Eksekusi dan Buka Investigasi Independen
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Tennessee Bill Lee menghentikan seluruh eksekusi hingga akhir tahun setelah hukuman mati terhadap Christa Pike tidak tuntas meski dua dosis pentobarbital telah disuntikkan.
- Pike, 50 tahun, tetap sadar dan terdengar mendengkur sekitar 40 menit setelah prosedur dimulai, memicu pertanyaan serius soal efektivitas protokol lethal injection di negara bagian tersebut.
- Penangguhan ini juga membatalkan jadwal eksekusi Gary Wayne Sutton pada 3 Desember, sementara otoritas pemasyarakatan membantah ada kesalahan prosedur.

Gubernur Tennessee Bill Lee menghentikan seluruh pelaksanaan hukuman mati di negara bagiannya hingga setidaknya akhir tahun dan memerintahkan penyelidikan independen, setelah upaya eksekusi terhadap Christa Pike pada Rabu malam berakhir tanpa kepastian apakah narapidana itu benar-benar meninggal.
Pike, 50 tahun, dijadwalkan menjadi perempuan pertama yang dieksekusi di Tennessee dalam lebih dari dua abad. Namun saksi di ruang eksekusi Nashville melaporkan bahwa ia masih terjaga dan terdengar mendengkur keras sekitar 40 menit setelah petugas menyuntikkan dua dosis pentobarbital. Departemen Pemasyarakatan Tennessee menyatakan Pike kemudian dibawa ke fasilitas medis di luar penjara, tanpa merinci kondisinya.
Penangguhan yang diumumkan Lee melalui pernyataan dini hari itu bernada kritis terhadap otoritas penjara. Menurut gubernur dari Partai Republik tersebut, menjalankan hukuman yang sah adalah tanggung jawab negara yang paling serius, dan warga Tennessee berhak mendapat pelaksanaan yang tidak hanya legal dan konstitusional, tetapi juga efektif. Ia menuntut tinjauan pihak ketiga yang menyeluruh untuk mengetahui persis apa yang terjadi.
Robin Maher, direktur eksekutif Death Penalty Information Center, menyebut insiden ini sebagai kejadian yang tak tertandingi. Menurutnya, lembaganya mengetahui tujuh kasus lain di mana narapidana selamat dari komplikasi medis karena tim eksekusi gagal mengakses pembuluh darah, tetapi tidak ada yang tetap hidup setelah obat benar-benar masuk ke tubuh.
Kasus Pike mencuatkan persoalan lama soal transparansi protokol hukuman mati. Pengacara Pike mengajukan permohonan darurat ke Mahkamah Agung Tennessee setelah dosis kedua diberikan, dengan alasan kliennya mengalami penderitaan yang tidak perlu dan haknya dilanggar. Dalam pernyataan kemudian, tim kuasa hukum menyatakan kekhawatiran mereka terbukti: akses pembuluh darah yang sulit, vena pecah, pentobarbital yang menurun kualitasnya, serta tidak tersedianya perawatan medis darurat ketika prosedur gagal.
Kami tidak senang karena terbukti benar, tetapi kekhawatiran yang disampaikan Ms Pike nyata: akses vena yang sulit, vena pecah, pentobarbital yang terdegradasi, dan tidak ada perawatan medis darurat ketika sesuatu yang buruk terjadi, semuanya dalam protokol yang tetap tertutup rahasia.
Juru bicara Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Dorinda Carter, membela pelaksanaan prosedur. Ia menegaskan pihaknya mengikuti seluruh tahapan protokol resmi yang disetujui Kantor Jaksa Agung, dan menyatakan bahan kimia dalam protokol tersebut selama ini konsisten efektif. Carter juga menyebut protokol tidak mengizinkan prosedur tambahan di luar yang telah dijalankan malam itu.
Insiden ini bukan yang pertama di Tennessee. Pada Mei, eksekusi Tony Carruthers dibatalkan setelah tim gagal memasang jalur intravena lebih dari satu jam. Tujuh jurnalis yang menyaksikan langsung dari Riverbend maximum security institution menggambarkan situasi yang membingungkan. John North dari WBIR menyatakan prosedur tampak tidak berjalan sesuai rencana dan Pike kemungkinan masih hidup saat para saksi meninggalkan lokasi.
Pike dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan brutal terhadap Colleen Slemmer, teman sekelasnya di Knoxville Job Corps, pada 1995. Ia dan kekasihnya saat itu, Tadaryl Shipp, masing-masing berusia 18 dan 17 tahun ketika melakukan pembunuhan tersebut. Pike tidak pernah membantah perbuatannya dan didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental. Dalam permohonan grasi yang ditolak, ia menyebut dirinya sebagai remaja 18 tahun yang sakit jiwa dan butuh bertahun-tahun untuk menyadari beratnya perbuatan itu.
Keputusan Lee menimbulkan pertanyaan lebih besar: jika negara bagian tidak mampu menjalankan hukuman mati secara manusiawi dan sesuai konstitusi, apakah hukuman itu masih layak dipertahankan? Hasil investigasi independen akan menentukan apakah Tennessee melanjutkan eksekusi tahun depan atau justru memperluas moratorium menjadi peninjauan menyeluruh terhadap praktik hukuman mati di negara bagian tersebut.



