Gempa M 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Lansia 73 Tahun Meninggal karena Syok
Baca dalam 60 detik
- Gempa magnitudo 6,1 berpusat di laut 14 km barat daya Kodi, Sumba Barat Daya, menewaskan seorang warga lanjut usia akibat syok.
- Rumah-rumah dan satu sekolah dilaporkan rusak berat, sementara pendataan kerusakan masih berlangsung.
- BNPB mengimbau warga tetap tenang, menjauhi bangunan retak, dan tidak berada di tepi pantai untuk mengantisipasi gempa susulan.

Seorang pria lanjut usia berusia 73 tahun di Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia setelah gempa berkekuatan magnitudo 6,1 mengguncang wilayah itu pada Minggu pagi. Korban tidak tertimpa reruntuhan, melainkan mengalami syok berat saat melihat keluarganya berhamburan keluar rumah.
Kepala Kepolisian Sektor Kodi Utara, Ajun Komisaris Polisi Bernadus Bili Kandi, mengungkapkan bahwa korban sempat berada di luar rumah sebelum tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri. Nyawanya tidak tertolong. Jenazah langsung disemayamkan oleh pihak keluarga tak lama setelah guncangan mereda.
Gempa yang terjadi pukul 06.55 Wita itu berpusat di laut, sekitar 14 kilometer barat daya Kodi, pada kedalaman 10 kilometer. Koordinat pusat gempa tercatat di 9,70 Lintang Selatan dan 118,92 Bujur Timur. Meski getarannya kuat, otoritas memastikan tidak ada ancaman tsunami.
Guncangan dirasakan kuat selama kurang lebih satu menit di sejumlah kabupaten, meliputi Sumba Barat Daya, Sumba Barat, hingga Manggarai Barat. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, getaran sekuat itu cukup untuk memicu kepanikan warga, terutama mereka yang tinggal di rumah panggung atau bangunan semi permanen.
Hingga berita ini diturunkan, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama aparat kepolisian masih melakukan pendataan kerusakan. Kapolsek Kodi Utara mengaku belum bisa memastikan jumlah bangunan yang terdampak. Namun, laporan awal menyebut banyak rumah warga dan satu bangunan sekolah mengalami kerusakan berat.
"Kami belum bisa pastikan data kerusakan. Tim BPBD dan anggota juga masih lakukan pendataan lebih lanjut sejak pagi tadi," ujar Bernadus.
Wilayah Sumba dan sekitarnya memang berada di zona rawan gempa karena berdekatan dengan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas seismik di kawasan Nusa Tenggara cenderung meningkat, meski tidak selalu berujung pada bencana besar. Gempa dangkal seperti yang terjadi Minggu pagi biasanya menghasilkan guncangan permukaan yang lebih kuat, sehingga bangunan sederhana lebih rentan rusak.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga diminta memantau perkembangan hanya dari instansi resmi. Jika terjadi gempa susulan, mereka diharapkan menjauhi bangunan yang retak dan sementara waktu tidak berada di tepi pantai.
Bagi pemerintah daerah, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah kepulauan. Jalur evakuasi, sosialisasi mitigasi, dan penguatan struktur bangunan publik perlu menjadi prioritas, terutama di kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan sumber gempa laut. Tanpa langkah itu, korban jiwa akibat syok atau tertimpa reruntuhan berpotensi berulang.
Pertanyaannya kini, seberapa cepat data kerusakan bisa diverifikasi dan bantuan darurat menjangkau warga Kodi Utara? Dalam situasi pascagempa, kecepatan informasi yang akurat sama pentingnya dengan bantuan fisik itu sendiri.



