Di Balik Layar BDSM: Kisah Pria Disabilitas dan Dominatrix yang Mengubah Hidupnya
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria 43 tahun dengan cerebral palsy menemukan kebebasan seksual melalui hubungan BDSM dengan seorang dominatrix yang ia temui di media sosial X.
- Hubungan mereka berlangsung online dan sekali tatap muka, di mana sang pria rela menempuh 400 mil untuk berlutut di hadapan dominatrixnya.
- Praktik BDSM konsensual ini memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk merasa utuh dan bahagia, sekaligus menantang stigma seputar seksualitas dan disabilitas.

Seorang pria berusia 43 tahun yang hidup dengan cerebral palsy dan menggunakan kursi roda telah membuka tabir tentang hubungan BDSM-nya dengan seorang dominatrix yang ia sebut Lady Alice. Hubungan yang dimulai dari media sosial X itu bukan sekadar fantasi, melainkan ruang di mana ia merasa terbebas dari batasan tubuhnya. Pria yang identitasnya dirahasiakan sebagai LD ini mengaku bahwa Lady Alice memiliki kendali penuh atas dirinya, dan ia menikmatinya.
LD, yang tinggal bersama orang tuanya yang sudah lanjut usia, mengungkapkan bahwa ia tidak pernah merasa memiliki kendali atas hidupnya. Cerebral palsy yang dideritanya sejak lahir membuatnya bergantung pada orang lain untuk kebutuhan dasar seperti makan dan mandi. Namun, dalam sesi bersama Lady Alice, ia justru menemukan kebebasan. "Saya tidak merasa cacat. Saya merasa manusia, bahagia," ujarnya, seperti dikutip dari The Guardian.
Lady Alice, yang juga tidak disebutkan nama aslinya, mengungkapkan bahwa ia menemukan bakatnya dalam praktik dominasi konsensual tiga tahun lalu setelah memulai terapi hormon. Ia mengaku mengalami transformasi seksual yang drastis. Sejak saat itu, ia menjelajahi dunia BDSM, termasuk financial domination, dan belajar dari seorang mentor di Dundee. Kini, ia menjalani hubungan jangka panjang dengan LD, yang sebagian besar sesinya dilakukan melalui panggilan video.
Hubungan LD dan Lady Alice bukan tanpa tantangan. LD harus menyembunyikan identitas Lady Alice dari orang tuanya. Ketika ia melakukan perjalanan jauh untuk bertemu Lady Alice, ayahnya mengantarnya namun tidak tahu siapa yang akan ditemui LD. "Ayah saya pikir ia mengantar saya ke rumah teman," kata LD. Pertemuan itu sendiri berlangsung di ruang tamu yang terang dan nyaman, bukan di ruang bawah tanah yang gelap dan menakutkan seperti stereotip BDSM.
Bagi LD, menjadi submissive bukan berarti menambah penderitaan. Justru sebaliknya, ia merasa bahwa dalam sesi tersebut, ia bisa melepaskan label disabilitas yang melekat pada dirinya. "Ketika saya dalam sesi, saya tidak merasa cacat. Saya merasa manusia, bahagia," tegasnya. Ia bahkan mempertanyakan, apakah lebih baik hidup dikendalikan oleh kerusakan otak atau oleh wanita cantik yang menikmati tubuhnya yang tidak sempurna dan menghargai pengabdiannya.
"Saya ingin LD mendapatkan lebih dari apa yang ia miliki sekarang. Dia pria yang sangat cerdas dan kreatif. Dengan menjadi 'milik' saya, dia memiliki lensa lain untuk melihat dirinya sendiri. Ini menginspirasinya." โ Lady Alice
Lady Alice menambahkan bahwa sebelum bertemu dengannya, LD tidak memiliki saluran untuk mengekspresikan seksualitasnya. Ia melihat LD berkembang pesat sejak menjalin hubungan tersebut. "Saya tahu betapa energiknya menemukan sisi diri Anda yang seperti ini," ujarnya. Hubungan mereka lebih dari sekadar pertemuan fisik; bagi keduanya, interaksi harian melalui pesan dan panggilan video menjadi fondasi yang memperkuat ikatan.
Fenomena ini menyoroti bagaimana praktik BDSM konsensual dapat menjadi terapi alternatif bagi individu dengan disabilitas yang sering kali diabaikan dalam diskursus seksualitas. Di Indonesia, topik disabilitas dan seksualitas masih tabu, dan akses terhadap layanan kesehatan seksual bagi penyandang disabilitas sangat terbatas. Kisah LD dan Lady Alice menantang anggapan bahwa penyandang disabilitas tidak memiliki hasrat atau hak untuk mengeksplorasi seksualitas mereka.
Meski demikian, praktik BDSM tetap memerlukan komunikasi yang jelas, kesepakatan, dan rasa aman. LD dan Lady Alice menekankan bahwa hubungan mereka didasari oleh rasa hormat dan kepercayaan. LD, misalnya, tidak membayar tarif tetap, tetapi memberikan "tribute" sebagai tanda penghormatan. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika kekuasaan dalam BDSM tidak selalu tentang uang, melainkan tentang pertukaran energi dan pengakuan.
Ke depan, kisah ini mungkin akan memicu diskusi lebih luas tentang inklusivitas seksual bagi penyandang disabilitas, terutama di negara-negara dengan budaya konservatif. Apakah masyarakat dapat menerima bahwa kebahagiaan dan pemenuhan seksual bisa datang dalam bentuk yang tidak konvensional? Bagaimana pula dengan perlindungan hukum dan etika dalam praktik BDSM? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus relevan seiring semakin terbukanya perbincangan tentang seksualitas dan disabilitas.



