PwC: Adopsi AI di Kantor Naik, Tapi Beban Kerja Justru Bertambah
Baca dalam 60 detik
- Riset PwC Inggris menunjukkan 19% pekerja kini memakai AI setiap hari, naik dari 15% tahun lalu, namun kesenjangan adopsi antara eksekutif dan staf pelaksana masih lebar.
- Alih-alih meringankan beban, hampir separuh pekerja melaporkan beban kerja dan kompleksitas tugas meningkat setelah mengadopsi AI.
- PwC menekankan bahwa kunci utama bukan sekadar meningkatkan kuantitas atau kualitas output, melainkan merancang ulang proses kerja agar manusia dan AI bisa berkolaborasi efektif.

Laporan terbaru dari PwC Inggris mengungkapkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan di lingkungan kerja terus meningkat, dengan 19% pekerja di Inggris kini menggunakan AI setiap hari, naik dari 15% pada tahun sebelumnya. Namun, di balik angka pertumbuhan itu, muncul paradoks: kehadiran AI tidak serta-merta mengurangi beban kerja, malah sering kali menambah kompleksitas tugas.
Data PwC menunjukkan kesenjangan adopsi yang tajam berdasarkan jabatan. Sebanyak 85% eksekutif senior dan 73% manajer telah menggunakan AI, sementara hanya 35% staf non-manajerial yang memanfaatkannya. Kesenjangan ini menimbulkan pertanyaan tentang pemerataan akses dan pelatihan di tempat kerja.
Meskipun 70% karyawan mengklaim AI meningkatkan kualitas pekerjaan mereka, 63% merasa lebih banyak menggunakan keterampilan, dan 58% melihat nilai tambah di tempat kerja, laporan tersebut justru mencatat bahwa 44% pekerja mengalami peningkatan beban kerja setelah menggunakan AI. Sekitar 45% lainnya khawatir kompleksitas pekerjaan mereka ikut meningkat.
Claire Reid, Chief Innovation and Technology Officer PwC UK, menegaskan bahwa perusahaan dan karyawan perlu "memikirkan ulang cara kerja" alih-alih hanya mengejar peningkatan kualitas atau kuantitas. "Hadiah sesungguhnya bukan sekadar melakukan lebih banyak pekerjaan; melainkan merancang ulang pekerjaan agar manusia dan AI bersama-sama dapat memberikan hasil yang lebih baik," ujarnya.
"Organisasi perlu memikirkan ulang pekerjaan di sekitar masalah yang tepat, memberi orang keterampilan dan kepercayaan diri untuk menggunakan AI dengan baik, dan menempatkan pengaman yang tepat di sekitarnya." — Claire Reid, PwC UK
Reid menyoroti bahwa banyak pekerja enggan bereksperimen dengan AI karena takut konsekuensi negatif, kebingungan dengan kebijakan perusahaan, atau kurangnya pelatihan. Strategi yang lebih jelas dan komunikasi yang lebih baik dinilai dapat mengubah situasi ini, memungkinkan lebih banyak pekerja merasakan dampak positif AI.
Dalam konteks Indonesia, temuan ini relevan mengingat adopsi AI di sektor korporasi dan UMKM mulai menggeliat. Tantangan serupa—kesenjangan literasi digital antara manajemen dan staf, serta kekhawatiran akan penggantian tenaga kerja—dapat menjadi penghambat jika tidak diimbangi dengan program pelatihan dan kebijakan internal yang mumpuni. Pemerintah melalui Kementerian Kominfo dan Kementerian Ketenagakerjaan perlu mendorong kerangka kerja yang tidak hanya mendorong adopsi teknologi, tetapi juga melindungi pekerja dari beban berlebih dan ketidakpastian peran.
Ke depan, pertanyaan krusialnya bukan lagi seberapa cepat AI diadopsi, melainkan seberapa siap organisasi merombak desain pekerjaan agar teknologi ini benar-benar menjadi alat pemberdayaan, bukan sekadar tumpukan tugas baru. Tanpa perencanaan yang matang, AI berisiko memperlebar jurang produktivitas dan memperburuk stres kerja.



