Citi Naikkan Target Bitcoin 12 Bulan ke US$113.000, Sinyal ETF Kembali Deras
Baca dalam 60 detik
- Citigroup merevisi proyeksi bitcoin dari US$82.000 menjadi US$113.000 untuk periode 12 bulan ke depan.
- Aliran dana ke ETF bitcoin spot AS berbalik positif setelah sebelumnya defisit US$5,8 miliar.
- Kebijakan buyback obligasi AS dan aturan SEC yang lebih longgar menjadi katalis pemulihan pasar kripto.

Citigroup menaikkan target harga bitcoin 12 bulan ke depan menjadi US$113.000, naik dari estimasi sebelumnya US$82.000, seiring kembalinya arus masuk dana ke produk exchange-traded fund (ETF) dan membaiknya kondisi makroekonomi Amerika Serikat. Revisi ini juga mencakup ether, yang targetnya dinaikkan dari US$2.240 menjadi US$3.028, menurut laporan Reuters yang mengutip catatan riset bank tersebut pada Rabu.
Kenaikan target tersebut setara dengan potensi penguatan sekitar 35% untuk bitcoin dan 12% untuk ether dari harga saat ini. Langkah Citi ini menjadi sinyal bahwa institusi keuangan besar mulai kembali menaruh kepercayaan pada aset kripto setelah berbulan-bulan dilanda ketidakpastian regulasi dan arus keluar dana.
Dalam catatannya, Citi memperkirakan aliran dana ke ETF akan berjalan lambat namun stabil, dengan proyeksi masuknya sekitar US$5 miliar dalam 12 bulan ke depan. Harapan ini muncul karena para penasihat keuangan dan perusahaan pialang cenderung menganjurkan peningkatan alokasi bitcoin secara bertahap kepada klien mereka, bukan dalam jumlah besar sekaligus.
Perubahan sentimen ini terlihat dari data ETF bitcoin spot AS. Hingga 13 Juli, produk-produk tersebut mencatat arus keluar bersih tahun berjalan sebesar US$5,8 miliar. Namun dalam beberapa bulan terakhir, tren tersebut berbalik dengan arus masuk bersih mencapai US$800 juta hingga akhir September 2026. Pembalikan ini menunjukkan bahwa investor institusional mulai kembali mengakumulasi aset kripto melalui instrumen yang teregulasi.
Meskipun Senat AS gagal memajukan Clarity Act pada pertengahan bulan lalu, Citi menilai pengumuman aturan lanjutan dari Securities and Exchange Commission (SEC) berhasil meredam sentimen negatif. Pasar kripto menunjukkan ketahanan setelah penolakan Clarity Act pada 15 September, dengan bitcoin menguat lebih dari 10% hingga akhir bulan. Menurut Citi, langkah Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali obligasi jangka panjang turut memulihkan momentum di pasar kripto dan membantu aset digital keluar dari keterpurukan yang telah berlangsung berbulan-bulan.
"Kami melihat aliran dana yang lambat tetapi pasti ke produk ETF seiring para penasihat dan pialang lebih memilih peningkatan alokasi bitcoin secara bertahap," tulis Citi dalam catatannya, seperti dikutip Reuters.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini patut dicermati. Meskipun pasar kripto domestik masih menunggu kejelasan regulasi lanjutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bappebti, sinyal positif dari bank investasi global seperti Citi dapat mempengaruhi minat investor institusi dalam negeri. Beberapa manajer investasi di Jakarta mulai mempertimbangkan produk reksa dana berbasis aset digital, meskipun masih dalam tahap kajian. Jika tren global ini berlanjut, bukan tidak mungkin aliran dana asing ke instrumen kripto di Indonesia akan meningkat, terutama melalui platform perdagangan yang telah terdaftar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah reli ini berkelanjutan atau hanya lonjakan sementara. Citi sendiri menekankan bahwa proyeksi mereka bergantung pada stabilitas makroekonomi AS dan kelanjutan arus masuk ETF. Jika The Fed mengubah arah kebijakan suku bunga atau jika regulasi kripto di AS kembali menemui jalan buntu, target US$113.000 bisa saja direvisi lagi. Namun untuk saat ini, sinyal dari salah satu bank terbesar dunia ini setidaknya memberikan angin segar bagi pasar yang sempat lesu.



