Hiu Nyasar di Busan Jadi Magnet Wisata, 3,5 Juta Orang Datang dan Es Krim Naik 30 Persen
Baca dalam 60 detik
- Seekor hiu banteng yang tersesat di kanal Bukhang Waterfront Park, Busan, berubah menjadi ikon wisata setelah gagal diusir otoritas setempat.
- Kemunculan hiu yang dijuluki Bukangi mendongkrak kunjungan hingga 3,5 juta orang dan penjualan es krim berbentuk hiu melonjak hampir 30 persen.
- Fenomena ini menyoroti pergeseran pola wisata berbasis media sosial serta implikasi perubahan suhu laut terhadap migrasi satwa di kawasan subtropis.

Seekor hiu banteng yang tersesat di jalur kanal Bukhang Waterfront Park, Busan, Korea Selatan, berubah menjadi magnet wisata tak terduga. Sejak kemunculannya pada September lalu, sekitar 3,5 juta orang dilaporkan mendatangi kawasan tersebut untuk melihat langsung hewan yang dijuluki warga sebagai Bukangi itu. Wali Kota Busan Chun Jae-soo bahkan secara terbuka menyampaikan terima kasih atas kontribusi hiu tersebut terhadap perekonomian lokal.
Kehadiran Bukangi bermula ketika otoritas setempat berupaya mengusirnya dengan menyemprotkan air agar kembali ke laut. Upaya itu gagal total. Hiu tersebut justru bertahan dan terus berenang hilir mudik di kanal, seolah tidak terganggu oleh kerumunan maupun alat pengusir. Sikap acuh tak acuh itulah yang kemudian menarik perhatian publik, terutama setelah video-video kawasan yang mendadak ramai tersebar di media sosial.
Dampak ekonominya terasa cepat. Penjualan es krim berbentuk hiu di supermarket sekitar dilaporkan melonjak hampir 30 persen. Pemerintah Kota Busan pun menganugerahkan status Duta Kehormatan Hubungan Masyarakat kepada Bukangi melalui jajak pendapat, di mana ia meraih 91 persen suara. Fenomena ini menunjukkan bagaimana satwa liar dapat menjadi aset pariwisata ketika narasi media sosial dan respons komunitas berpadu.
Ahli perikanan Kim Jin-koo menilai kemunculan hiu banteng di perairan Korea Selatan bukan hal lazim. Menurutnya, kenaikan suhu air laut di sekitar Korea Selatan kemungkinan menggeser arus dan membawa predator tersebut lebih dekat ke pantai. Pernyataan ini menggarisbawahi keterkaitan antara perubahan iklim dan pola migrasi satwa laut, yang dapat memicu interaksi baru antara manusia dan hewan liar di kawasan pesisir.
Beberapa hari setelah kemunculan Bukangi, sejumlah orang mengaku melihat hiu lain di kanal yang sama dan menduga itu adalah anaknya. Namun, pejabat pertamanan setempat membantah adanya hiu tambahan selain Bukangi. Klarifikasi ini penting untuk mencegah kepanikan sekaligus menjaga narasi positif yang telah terbangun.
Bagi Indonesia, fenomena Bukangi menawarkan pelajaran tentang potensi wisata berbasis satwa dan kekuatan media sosial. Kawasan seperti Bunaken, Raja Ampat, atau Derawan sudah lama dikenal karena keanekaragaman lautnya, tetapi belum tentu memiliki momen viral yang mampu menggerakkan kunjungan massal dalam waktu singkat. Pendekatan Busan menunjukkan bahwa pengelolaan narasi, respons cepat pemerintah, dan produk turunan seperti suvenir dapat mengubah kejadian tak terduga menjadi berkah ekonomi.
Namun, ada catatan kritis. Ketergantungan pada satu ikon satwa rentan terhadap perubahan perilaku hewan atau hilangnya minat publik. Pemerintah daerah perlu menyiapkan strategi jangka panjang agar lonjakan kunjungan tidak sekadar euforia sesaat. Selain itu, aspek konservasi dan keselamatan pengunjung harus tetap menjadi prioritas, terutama jika satwa tersebut adalah predator yang berpotensi berbahaya.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Bukangi akan tetap tinggal, melainkan bagaimana Busan mengelola warisan wisata tak terduga ini. Jika berhasil, kota-kota lain di Asia Pasifik mungkin akan mulai melihat satwa liar bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai peluang yang perlu dikelola dengan cermat.



