Nvidia Borong Saham Rp2.400 Triliun, Sinyal Pasar AI Sedang Salah Harga?
Baca dalam 60 detik
- Nvidia mengumumkan tambahan program buyback senilai $150 miliar, menjadikannya salah satu aksi korporasi terbesar dalam sejarah pasar modal AS.
- Rasio harga terhadap laba (P/E) Nvidia untuk fiskal 2028 hanya 14,5—terendah dalam satu dekade dan jauh di bawah rata-rata lima tahunnya yang mencapai 62,9.
- Langkah ini berpotensi memangkas jumlah saham beredar hingga 4% dan menambah laba per saham sekitar 8 sen, menurut estimasi UBS.

Nvidia mengejutkan pasar dengan mengumumkan penambahan dana buyback saham senilai $150 miliar, atau sekitar Rp2.400 triliun (asumsi kurs Rp16.000), pada Senin (29/9/2026). Aksi korporasi ini menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal Amerika Serikat dan langsung memicu spekulasi bahwa manajemen menilai saham perusahaan yang bergerak di bidang cip AI itu sedang undervalued.
Keputusan tersebut diambil ketika rasio harga terhadap laba (price-to-earnings/P/E) Nvidia untuk fiskal 2028—yang dimulai Februari mendatang—tercatat hanya 14,5. Angka ini merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir dan jauh di bawah rata-rata lima tahunan sebesar 62,9. Dengan kapitalisasi pasar yang telah menembus $5,5 triliun, valuasi Nvidia justru tampak tertekan dibandingkan raksasa teknologi lain seperti Apple (35,5), Microsoft (21,7), Alphabet (22,6), dan Amazon (23,2). Bahkan, rival utama di segmen cip pusat data AI, Broadcom, memiliki P/E 18,2, sementara AMD dan Intel masing-masing 38,2 dan 54,7.
CEO Jensen Huang secara terbuka menyatakan bahwa perusahaannya layak dihargai lebih tinggi. Dalam sebuah konferensi Goldman Sachs awal bulan ini, ia menyebut Nvidia sebagai "growth value stock" pertama di dunia—kombinasi antara pertumbuhan eksplosif dan valuasi yang murah. "Kami adalah keduanya," ujarnya. Pernyataan itu diperkuat dengan aksi buyback yang agresif, setelah sebelumnya Huang mengatakan bahwa "membeli kembali saham Nvidia adalah peluang yang luar biasa."
Langkah ini juga mendapat dukungan dari kalangan analis. Karan Ramchandani, managing director di Post Oak Group, menilai buyback tersebut sebagai "sinyal jelas bahwa manajemen menganggap sahamnya murah." Ia menambahkan, "Jika Anda melihat rasio P/E, laba tumbuh lebih cepat daripada harga saham. Ini pertanda sehat ketika perusahaan melihat buyback sebagai investasi terbaik untuk tahun mendatang." Senada, Ben Reitzes dari Melius Research menegaskan bahwa saham Nvidia "layak lebih tinggi mengingat laju pertumbuhannya," dan buyback akan membantu memperbaiki valuasi.
UBS memperkirakan aksi buyback ini dapat menambah laba per saham (EPS) sekitar 8 sen untuk tahun kalender 2027, yang diproyeksikan mencapai $17,16. Meski demikian, pasar tampak masih ragu. Gene Munster, managing partner di Deepwater Asset Management, mengamati kekhawatiran investor bahwa pertumbuhan Nvidia akan melambat setelah beberapa tahun yang spektakuler. "Sulit bagi investor untuk yakin bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut," katanya. "Tren penurunan laju pertumbuhan itulah yang menyebabkan valuasi tertekan."
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi berlapis. Nvidia adalah pemasok utama cip AI yang digunakan di pusat data global, termasuk yang tengah dibangun di Batam dan Jakarta. Jika valuasi Nvidia tertekan, perusahaan teknologi Tanah Air yang bergantung pada cip tersebut mungkin menghadapi biaya investasi yang lebih tinggi atau ketidakpastian pasokan. Di sisi lain, buyback besar-besaran ini dapat memperkuat harga saham Nvidia, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan pasar terhadap seluruh ekosistem AI—termasuk startup dan perusahaan teknologi Indonesia yang terhubung dengan rantai pasok global.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah pasar akan segera menyesuaikan diri dengan pandangan Huang, atau justru sebaliknya—mengoreksi ekspektasi pertumbuhan yang selama ini menjadi tulang punggung valuasi Nvidia. Dengan laba bersih yang diproyeksikan mencapai $385 miliar pada fiskal 2028, Nvidia berada di persimpangan antara menjadi "value stock" sejati atau tetap menjadi "growth stock" yang mahal. Bagi investor Indonesia, momen ini bisa menjadi cermin: seberapa dalam pasar domestik siap menerima disrupsi AI yang digerakkan oleh raksasa seperti Nvidia?



