Anak di Era AI: Antara Peluang Emas dan Risiko Tersembunyi, Orang Tua Diminta Waspada
Baca dalam 60 detik
- Ekonom Daniel Susskind menekankan literasi, numerasi, dan berpikir kritis tetap jadi fondasi utama meski AI makin canggih.
- Profesor Sonia Livingstone menilai saran Susskind sulit diterapkan karena keterbatasan waktu, energi, dan keahlian orang tua.
- Pakar AI Mhairi Aitken mengingatkan anak juga terdampak AI lewat keputusan institusi seperti sekolah dan layanan sosial.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat memaksa dunia pendidikan dan keluarga beradaptasi. Ekonom sekaligus penulis Daniel Susskind, yang mendalami dampak AI terhadap pekerjaan dan masyarakat, menegaskan bahwa generasi muda tetap harus menguasai keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan berpikir kritis. Menurutnya, kemampuan-kemampuan itu tidak lekang oleh waktu meskipun AI semakin mahir mengerjakan tugas-tugas serupa.
Dalam buku terbarunya, What Should My Children Do? How to Flourish in the Age of AI, Susskind memaparkan bahwa fondasi literasi dan numerasi adalah prasyarat bagi keterampilan lain. Ia menilai sekolah dan universitas perlu mengalokasikan waktu khusus untuk mengajarkan cara memanfaatkan AI secara efektif. "Ini adalah keterampilan inti baru yang harus dikuasai," ujarnya, seraya menambahkan bahwa kurikulum dapat direorganisasi atau ditambah dengan kelas AI tersendiri.
Namun, Susskind mengingatkan tantangan terbesar: mendidik generasi muda agar cakap menggunakan AI tanpa melupakan kemampuan dasar. Ia mengibaratkan situasi ini dengan masuknya kalkulator elektronik ke ruang kelas pada dekade 1980-an. Kala itu, pendidikan matematika terbelah dua: ada yang diajarkan dengan kalkulator untuk memecahkan soal rumit, ada pula yang tetap diajarkan tanpa kalkulator agar keterampilan berhitung tidak tergerus. Keduanya diuji secara setara sehingga sama-sama dianggap penting. "Kita perlu menerapkan strategi yang sudah teruji iniโ'ajarkan keduanya, uji keduanya'โpada setiap mata pelajaran," tegasnya.
Susskind juga menyoroti pentingnya membedakan AI dari media sosial. Ia mendukung pembatasan usia untuk media sosial, tetapi khawatir kebijakan tersebut ikut menyeret pelarangan AI secara reaktif, seperti melarang ChatGPT di kelas. "AI tidak sama dengan media sosial. Tidak semua layar itu sama," katanya. Menurut dia, media sosial sering kali membuat penggunanya terasing dan mengalihkan perhatian dari dunia nyata, sementara AI berpotensi memberdayakan dan memperbaiki kualitas hidup jika digunakan dengan tepat.
Meski begitu, Susskind tidak menutup mata pada bahaya AI. Ia menyebut adanya chatbot yang mendorong perilaku bunuh diri atau terlibat percakapan eksplisit dengan remaja. Untuk teknologi tertentu seperti AI pendamping, ia menilai risikonya terlalu besar sehingga anak-anak sebaiknya dijauhkan. "Teknologi ini baru dan sama sekali berbeda dari yang pernah kita lihat. Kita semua masih mencari cara terbaik memanfaatkannya," ucapnya.
Pandangan Susskind mendapat tanggapan dari Profesor Sonia Livingstone, Direktur Digital Futures for Children Centre di London School of Economics and Political Science. Ia mengapresiasi gagasan-gagasan Susskind, namun menilai saran tersebut kurang membumi. "Bagi banyak orang tua, tugas ini sangat berat. Mendampingi anak dengan AI membutuhkan waktu, energi, dan keahlian. Memastikan mereka tetap menguasai keterampilan tradisional sekaligus mempelajari yang baru berarti kerja ekstra," jelasnya.
Livingstone mengungkapkan riset pusatnya menemukan bahwa anak-anak merasa antusias, penasaran, dan suka bereksperimen dengan AI, tetapi sebagian besar tidak mendapat dukungan memadai dari orang dewasa. "Ada jurang antara praktik keluarga dan apa yang dibutuhkan agar anak dapat belajar tentang AI dengan percaya diri dan aman," tambahnya. Ia menyarankan agar sekolah mengajarkan pemahaman kritis tentang AI, sementara keluarga mendiskusikan sisi baik dan buruknya di rumah. Orang tua perlu membicarakan potensi jebakan AI, seperti misinformasi, bias politik, penurunan kemampuan kognitif, dan manipulasi emosi, serta peluangnya, termasuk akses informasi, pembelajaran melalui pertanyaan, dan penciptaan karya profesional.
Pakar AI lain, Dr. Mhairi Aitken, Direktur Our AI Collective CIC, menambahkan dimensi penting: anak-anak tidak hanya terdampak AI melalui alat yang mereka gunakan, tetapi juga melalui keputusan pihak lain yang memakai AI. Contohnya, sekolah yang memantau pekerjaan, perilaku, dan kehadiran siswa dengan AI, serta lembaga resmi yang memakai AI untuk mengambil keputusan tentang keluarga dalam layanan kesehatan, sosial, perumahan, dan lainnya. "Ketika memikirkan apa yang perlu diketahui anak tentang AI, kita tidak boleh hanya fokus mengajarkan cara memakai alatnya. Kita harus mengajarkan bagaimana alat itu dibangun dan dampaknya," tegasnya.
Bagi Indonesia, diskusi ini relevan mengingat penetrasi AI di sekolah dan rumah tangga terus meningkat. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi perlu merumuskan panduan yang seimbang antara pemanfaatan AI dan perlindungan anak. Orang tua di kota-kota besar mungkin sudah mulai mengenalkan AI, tetapi kesenjangan akses dan literasi digital masih lebar. Tanpa intervensi, jurang antara anak yang terpapar AI secara positif dan yang rentan terhadap risikonya bisa melebar.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan masuk ke ruang kelas, melainkan bagaimana ekosistem pendidikan dan keluarga dapat beradaptasi tanpa mengorbankan keterampilan dasar. Apakah sekolah di Indonesia siap mengadopsi pendekatan 'ajarkan keduanya, uji keduanya'? Dan mampukah orang tua menjadi pendamping yang kritis di tengah keterbatasan waktu dan pengetahuan?



