116 Drone Bawah Air China Cetak Rekor Dunia, Sinyal Baru Persaingan Teknologi Maritim
Baca dalam 60 detik
- Tim dari Northwestern Polytechnical University mencatatkan rekor Guinness untuk 116 kendaraan bawah air otonom yang beroperasi serentak.
- Uji coba di kolam renang menunjukkan navigasi formasi otonom selama 34 menit tanpa campur tangan manusia, menandai lompatan dalam koordinasi armada bawah air.
- Keberhasilan ini memperkuat tren global menuju sistem tak berawak, dengan implikasi strategis bagi keamanan maritim dan industri pertahanan, termasuk di kawasan Asia Tenggara.

Sebuah tim peneliti dari Northwestern Polytechnical University (NPU) di China berhasil memecahkan rekor dunia Guinness untuk jumlah kendaraan bawah air otonom (autonomous underwater vehicles/AUV) yang beroperasi secara simultan. Dalam pengujian yang berlangsung pada 29 Agustus 2025 di sebuah kolam berukuran 50x20 meter, mereka mengerahkan 116 unit robot kecil yang disebut TH-618. Rekor ini disertifikasi oleh Guinness World Records dan diumumkan pada 24 September 2025.
Uji coba tersebut melibatkan formasi navigasi bawah air yang sepenuhnya otonom, tanpa intervensi manusia, selama 34 menit menempuh jarak 500 meter. Armada drone mengikuti rute yang telah ditentukan dengan memanfaatkan data real-time. Kolaborasi ini melibatkan Xian Tianhe Maritime Technologies, anak perusahaan dari kontraktor pertahanan swasta Xian Tianhe Defence Technology. Menurut pernyataan universitas, kemampuan untuk mengoordinasikan puluhan hingga ratusan kendaraan bawah air secara stabil dan otonom dalam jangka panjang merupakan tantangan inti dalam bidang peralatan cerdas bawah air global.
Pencapaian ini bukan sekadar prestasi akademik. China telah gencar mengembangkan teknologi kendaraan otonom, termasuk drone swarm di darat, udara, dan laut, seiring pergeseran militer global dari platform berawak ke sistem tak berawak. Pada Desember 2024, Ukraina mengklaim telah melakukan serangan drone bawah air pertama terhadap kapal selam Rusia di pelabuhan Novorossiysk. Sementara itu, pada Juli 2025, peneliti dari Dalian Maritime University dan China Coast Guard Academy mengusulkan pertahanan pulau-pulau sengketa di Laut China Selatan menggunakan koordinasi drone swarm, termasuk kendaraan bawah air untuk menutup celah deteksi. Proposal itu diterbitkan dalam jurnal Command Control & Simulation yang diawasi China Shipbuilding Industry Corporation.
"Mengaktifkan puluhan atau bahkan ratusan kendaraan bawah air untuk mencapai navigasi terkoordinasi yang sepenuhnya otonom, tahan lama, dan stabil di lingkungan seperti ini selalu menjadi tantangan inti dalam bidang peralatan cerdas bawah air global. Kali ini, navigasi stabil dari kluster ratusan kendaraan mewakili terobosan dalam navigasi terkoordinasi skala besar sistem tak berawak bawah air," demikian pernyataan universitas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara kepulauan dengan wilayah perairan yang luas, Indonesia menghadapi tantangan pengawasan maritim, termasuk illegal fishing, penyelundupan, dan potensi konflik di perairan Natuna. Teknologi drone swarm bawah air dapat menawarkan solusi efisien untuk pemantauan bawah laut, pemetaan dasar laut, hingga operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, adopsi teknologi ini juga memunculkan pertanyaan tentang kedaulatan dan keamanan data, terutama jika perangkat berasal dari negara dengan kepentingan strategis di kawasan.
Di tingkat global, Uni Eropa juga tengah menguji armada drone bawah air melalui proyek yang didanai EU dengan 41 robot otonom. Persaingan dalam pengembangan sistem tak berawak bawah air semakin ketat, dengan aplikasi yang membentang dari eksplorasi sumber daya hingga operasi militer. Keberhasilan China ini menandai babak baru dalam perlombaan teknologi maritim, di mana kemampuan mengoordinasikan banyak unit otonom menjadi kunci.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan matang, melainkan seberapa cepat negara-negara lain akan mengejar ketertinggalan. Bagi Indonesia, langkah strategis mungkin termasuk memperkuat riset domestik dan menjalin kemitraan internasional yang seimbang, agar tidak hanya menjadi pasar tetapi juga pemain dalam ekosistem teknologi bawah air. Apakah Indonesia siap memanfaatkan gelombang inovasi ini untuk memperkuat kedaulatan maritimnya?



